Madu?!

Madu?!
Rumah sakit


__ADS_3

Sekembalinya Haga dari rumah makan Serambi, dia langsung menuju bangsal anaknya sambil membawa beberapa boneka yang sudah si menangkan oleh Laili.


Mutia yang melihat sang Papa membawa banyak boneka, matanya berbinar bahagia, karena Mutia paling suka mengoleksi boneka.


"Papa... boneka?" Tanya Mutia antusias sambil mengulurkan tangannya.


"Iya donk, kamu mau?" Tanya Haga.


"Mau mau mau..." Mutia meraih semua boneka-boneka itu ke pangkuannya. Tangan kirinya yang gak bisa bergerak karena di pasang infus juga sedikit bergeser karena saking senangnya mendapat mainan baru.


"Kamu cui tangan dulu sana, baru dateng kok langsing kemari, bila perlu mando dulu." Ibu menepuk bahu Haga.


"Aku kan gak bau Bu, gak keringetan juga kok." Haga mencium bolak balik ketiaknya.


"Ngeyel terus kalo di bilangin Ibu," Bu Susi menjewer telinga Haga.


Haga mengadu kesakitan karena jeweran maut sang Ibu, jadi dia bergegas melarikan diri ke kamar mandi untuk membersihkan tangannya.


Setelah Haga keluar dari kamar mandi, dia di bombardir pertanyaan dari ibu nya, mulai dari gimana Ga? mana Rahayu? kok gak okut sama kamu? dan masih ada beberapa lagi yang sangat membuat Haga ingin menutup telinga nya.


"Bu, Haga bukan robot yang bisa mencerna pertanyaan Ibu yang beruntun.." Jawab Haga kesel.


"Ya udah jawab aja sih mana yang kamu paham. Lagian kamu itu punya kerjaan bagus tapi otaknya lelet." cibir Ibu.


"Tadi Haga udah ketemu yang nama nya Rahayu, udah Aku ajak kesini, tapi Aku di suruh duluan aja, nanti dia nyusul. Mau pamit sama Bos nya dulu kali." Haga menjelaskan.


"Kamu gak salah orang kan Ga?" Tanya Ibu ragu.


"Ibu liat aja ntar kalo dia kemari, apakah Aku salah atau enggak."


"Iya deh.." Jawab Ibunya malas.


Sebelum ke rumah sakit, Rahayu berjalan mengelilingi pasar malam untuk mencari anaknya. Hampir 20 menitan Rahayu celingak-celinguk melihat kana dan kiri, tapi belum ketemu. Pada akhirnya dia melihat anak nya sedang jongkok melihat temennya mancing ikan.


"Li...." Panggil Rahayu.


Laili menoleh ke arah suara. Ternyata Bunda nya yang memanggil. Laili berdiri dan berlari lalu memeluk Rahayu.


"Pulang yuk," Ajak Rahayu.

__ADS_1


"Sebentar lagi boleh?" Tanya Laili.


"Gak bisa sayang, hari ini udah dulu mainnya ya, minggu depan Lili kan kemari lagi." Bujuk Rahayu.


"Oke deh, siap Bos..." Jawab Laili sambil bersikap hormat grak.


Di perjalanan ke rumah nenek nya, Laili menceritakan pertemuannya dengan Om om tampan tapi gak bisa main capit boneka.


"Jadi ini boneka di kasih sama Om itu Bun," Laili menunjukkan boneka ubur-ubur nya pada Rahayu.


"Dek, jangan asal kenal sama orang loh, Bunda takut nanti kamu di apa-apain. Kalo kamu di culik gimana coba?"


"Om itu baik kok Bund,,"


"Bersyukurlah kamu karena dia baik, bersyukur karena kamu ketemu sama orang baik, besok-besok jangan asal deketin orang ya dek, apa lagi itu laki-laki. Kalo masih juga kamu begitu, Bunda gak kasih ijin kamu untuk main ke pasar malam." Rahayu berkata tegas.


"Siap dimengerti Bund.." walaupun dia mendapat kritikan dan nasehat, tapi Laili selalu mendengarkan kata-kata Bunda nya, gak pernah membantah apalagi melawan.


Sesampainya di rumah Nenek, Rahayu membawa Laili ke dalam rumah dan menceritakan perihal kejadian tadi pada Ibu nya. Setelah itu dia pamit pergi.


"Lili sama nenek dulu ya di rumah, Bunda ada urusan sebentar, gak pake lama kok,"


"Emangnya Bunda mau kemana?" Tanya Lili penasaran.


"Oh, yang Bunda bilang dia panggil Bunda Mama ya?"


"Iya sayang, nah sekarang tuh dia lagi sakit, jadi Bunda mau liat dia dulu,"


"Bunda mau langsung jagain?"


"Belum sayang, Bunda masih mikir-mikir. Kalo Bunda jagain dia, gimana sama kamu? prioritas Bunda itu kan kamu nak.." Rahayu mengelus kepala anaknya.


"Jangan dibuat repot Bun,"


"Maksud nya sayang?"


"Bunda masih bisa jagain anak itu kok disini, Waktu Lili sekolah, Bunda disana, kalo Lili pulang, Bunda bisa bawa adek itu kesini, jadi Lili ada temennya juga, terus dia juga gak kesepian kan." Laili menjelaskan.


"Ih, pinter loh anak Bunda, Bunda aja gak kepikiran kesana loh sayang.." Rahayu mengatakan dengan tatapan bangga pada anaknya.

__ADS_1


"Siapa dulu donk, anak Bunda..." Jawab Laili.


"Ya udah, Bunda pamit ya," Rahayu mengecup kening anaknya dan berdadah ria sebelum menyalakan mesin motornya.


Dalam perjalanan ke rumah sakit, Rahayu berhenti ke minimarket untuk membeli buah dan beberapa roti untuk di bawa pada Mutia. Setelah selesai belanja, Rahayu kembali melajukan motornya menuju rumah sakit tempat Mutia dirawat.


Setelah parkir, Rahayu berjalan menyusuri lorong rumah sakit dan mengeluarkan hapenya untuk melihat dimana lokasi Mutia di rawat.


Oh, ternyata Mutia berada di ruang anak, kamar Melati. Agak sedikit jauh memang perjalanannya, karena rumah sakit ini merupakan rumah sakit terbesar di kota itu dan juga satu-satunya.


"Assalamu'alaikum..." Rahayu mengetuk pintu kamar rawat anak.


"waalaikum salam.." Jawab orang di dalam,


Setelah pintu di buka, Rahayu bertanya apa benar itu riangan Mutia di rawat, karena setaunya ruangan di Kamar Bunga adalah kamar untuk 1 orang saja.


Orang itu berkata bukan, anak yang di rawat di ruangan itu bukan Mutia. Lah jadi? Apa jangan-jangan Aku di kerjain ya? Batin Rahayu. Tanpa Ba bi bu, Rahayu memutar nomor hape yang tadi mengirim pesan nomor kamar .


"Halo, Anda mempermainkan saya?" Tanya Rahayu gak santai.


"Maksud kamu?"Tanya Haga.


"Bapak kasih saya nomor kamar yang salah. Sebenernya beneran gak sih Mutia sakit?" Tanya Rahayu ngegas.


"Kamu udah sampai di rumah sakit?" Tanya Haga panik.


"Menurut Bapak? kenapa juga sih saya harus repot-repot dateng kesini kalo cuma di prank."


"Maaf, kamu dimana sekarang?" Tanya Haga.


"Di kamar melati." Jawab Rahayu singkat.


"Oke, saya jemput, maaf tadi baru aja di pindah Mutia nya, jadi gak disitu lagi." jelas Haga.


"Kenapa pindah?"


"Disitu gak ada AC," jelasnya singkat.


Oh, Holang kaya mah beda, batin Rahayu.

__ADS_1


Tak lama Haga datang dari belakangnya, membuat Rahayu sedikit terkejut. Lalu dia membawa Rahayu ke kamar anak nya. Saat ini Mutia sedang bermain banyak boneka, Saat masuk Rahayu mengerutkan kening nya melihat bermacam-macam boneka disana sepertinya familiar. Oh Rahayu ingat itu boneka semua yang ada di mesin capit.


Rahayu menoleh ke arah Haga, Masak sih Pria ini main capit boneka, rasanya gak mungkin aja kan,,


__ADS_2