Madu?!

Madu?!
Debat


__ADS_3

Sungguh Rahayu lupa untuk menghubungi Bu Susi, jadi di pihak Bu Susi saat ini sedang menunggu keputusan Rahayu. Bahkan anak gadis kecil itu juga antusias sekali saat berbicara dengan Papanya.


Sore itu saat Mahaga Dani, Papa dari Mutia Arami yang sedang melepas dasinya setelah lelah bekerja seharian, heran melihat anak gadis nya yang biasanya murung, kini tertawa gembira bersama nenek nya. Seakan beban hidup yang selama ini menghantui hatinya terangkat hilang entah kemana.


Yah, begitu lah nasib anak itu. Di tinggal Ibunya saat hari kelahirannya. Sehingga Mutia tak pernah merasakan kasih sayang seorang Mama.


Haga, panggilan pria maskulin itu selalu bercerita setiap malam tentang sang istri pada anaknya. Menceritakan segala sesuatu tentang istrinya pada sang anak. Saat hendak tidur, setidaknya Haga selalu memberikan deskripsi bagaimana sosok seorang Mama. Mutia yang tak pernah melihat sosok Mamanya hanya bisa membayangkan betapa senangnya dia jika dia bisa menemukan Mamanya.


Kata Papa, Mama itu cantik, baik, ramah, penyayang, dan Mama selalu tersenyum yang senyumnya bisa membuat betah dan nyaman saat kita memandangnya. Begitulah deskripsi sang Mama menurut Papanya.


Makanya siang itu ketika Mutia melihat sosok seperti yang dikatakan Papanya, dia langsung berlari mengejar wanita itu, menganggap bahwa dia pasti Mama nya yang belum pernah Mutia lihat.


"Assalamualaikum... Mumut... Papa pulang...." Teriak Haga saat mendekati anaknya.


"Papa...." Mutia berlari menuju Haga dan langsung minta gendong pada Papanya.


"Sepertinya ada yang lagi bahagia banget nih? Anak Papa lagi bahagia ya?" Tanya Haga sambil menciumi pipi anak nya.


"Papa.... Mama ..." celoteh anak tiga tahun itu.


"Mama??" tanya Haga heran. Haga melihat kearah Ibunya seolah meminta penjelasan.


"Mama..... Mumut mau Mama... Disana Mama.." Tambah gadis imut itu.


"Maksudnya gimana Bu?" tanya Haga pada Ibunya.


"Tadi siang tuh, pas Ibu bawa anak kamu belanja, tiba-tiba Mumut hilang.." Bu Susi mulai menjelaskan.


"Kok bisa?" tanya Haga panik.


"Sabar dulu jangan ngegas kamu Ga.." kata Ibunya.


"Enggak Bu, Aku cuma khawatir.." Jawab Haga.

__ADS_1


"Jadi ceritanya tuh ......" Bu Susi menceritakan keseluruhan rangkaian kejadian saat Mutia hilang dan akhirnya bertemu dengan seorang wanita bernama Rahayu. Tak lupa pula Bu Susi menceritakan penawarannya pada Rahayu untuk menjadikannya pengasuh Mutia.


Sontak saja hal ini mendapat bantahan dari Haga. "Gak bisa Bu. Gimana bisa Ibu percaya gitu aja sama pelayan rumah makan untuk menjaga Mumut?" Aku gak setuju Bu.


"Kamu harus setuju Ga, Mumut udah bener-bener senang sama Rahayu." Jawab Bu Susi.


"Gak bisa Bu, Aku gak percaya sama orang sembarangan. Apalagi dia cuma pelayan rumah makan, pendidikannya Ibu tau? Aku gak mau terjadi apa-apa sama anak Aku Bu. Mungkin aja Mumut cuma kebetulan liat orang yang tepat, gak harus kan orang yang gak jelas jadi pengasuh nya?"


"Kita bisa buat tes dulu Ga, kasian Mumut udah senang bakalan di jagain sama Rahayu."


"Pokoknya Aku gak setuju Bu!" Haga bersikeras.


Mutia uang melihat Papanya marah merasa takut. Ada perasaan tak enak yang tak bisa terkatakan. Tanpa Papanya sadari, mood Mumut menurun. sedikit banyaknya dia mengerti dari isi percakapan Papa dan Neneknya bahwa wanita yang dia temui siang tadi gak bisa bersamanya. Dia gak bisa ketemu lagi sama tante cantik itu.


Mutia, tanpa bicara merosot turun dari gendongan Papanya dan berlari masuk kamar meninggalkan orang-orang yang sedang berdebat.


Mereka bingung dengan sikap Mutia yang tiba-tiba. Membuat sang Nenek cemas, sehingga beliau mengikuti Mutia ke kamar. Haga yang melihat itu pun tak pelak mengikuti anaknya ke kamar.


"Mumut kenapa sayang?" Tanya Bu Susi ketika masuk. Saat itu yang sia lihat adalah Mutia yang berbaring telungkup menutupi wajahnya dengan bantal.


"Cucu kesayangan Nenek kenapa? coba bilang sayang, Mumut kenapa? kok Mumut nangis?" Bujuk sang Nenek.


Dengan berlinang air mata, Mumut menatap wajah Neneknya, "Mau Mama... Huaaa..." dan pecahlah tangisan gadis kecil itu yang membuat hati yang melihatnya seolah tersayat sembilu, pedih.


Mahaga yang melihat itu pun tak habis pikir, apa istimewanya wanita itu sehingga anaknya merasakan kenyamanan yang tak terhingga.


"Kamu lihat Ga? Anak kamu mau Rahayu. Ibu kan gak nyuruh kamu cari istri, Ibu cuma mau kamu setujuin Rahayu jagain Mutia, biar Mutia mendapatkan kasih sayang yang dia butuhkan. Lagian Rahayu juga sepertinya penyayang Haga.." Bu Susi mencoba membujuk lagi.


Haga juga gak habis pikir kenapa sang Ibu juga terpesona dengan wanita itu, apa sih kelebihannya? Apa sih yang buat dia bisa di cintai orang lain? Haga jadi penasaran.


Haga berjalan mendekati anaknya yang sedang di peluk Bu Susi, "Sayangnya Papa... maafin papa ya.."


Haga mencoba meraih Mutia, namun Mutia tak menghiraukannya dan masih lanjut menangis.

__ADS_1


"Mutia mau apa? coba bilang sama Pap, nanti papa kasih," Haga membujuk Mutia. Dan sepertinya pertanyaan itu membuat Mutia menoleh padanya.


"Benelan?" Tanyanya ragu.


"Bener.. apa aja boleh," kata Haga.


"Papa gak bohong sama Mumut?"


"Enggak sayang,."


"Mumut mau Mama..." Jawab Mutia pelan. Hal ini membuat Haga terdiam. Memandang ke anaknya tanpa berkedip, membuat Mumut menundukkan kepalanya.


Akhirnya Haga tak tahan dengan kesedihan anak nya sehingga dia mengalah. "Ya udah, kamu boleh di jagain sama per...eeee tante itu. Tapi Papa boleh minta satu hal dari mumut?" Mumut mengangguk.


"Janji jangan pernah panggil dia Mama."


"Kenapa?" Tanya Mutia bingung


"Mama Mutia cuma 1 sayang, dan Mama udah di surga..."


Mutia hanya menatapnya bingung. Mungkin jika Mutia sudah bisa berpikir dan berbicara lancar dia sudah mengatakan, 'haiiiyyaaa.. ya sudah lah, jangan panggil Mama ya jangan... uang penting di jagain tante cantik..'


Melihat percakapan Ayah dan anak,Bu Susi senang dan bahagia untuk cucunya. Pada Akhirnya dia visa melihat kebahagiaan yang terpancar dari matanya. Gak kosong lagi, gak murung lagi, semoga cucunya bisa seterusnya menampilkan kebahagiaan. Itu adalah harapan dari Nenek untuk cucunya.


"Udah sore,kita mandi dulu yuk.." Ajak Bu Susi pada Mutia. Mutia hanya mengangguk menyetujui.


Setelah mandi dan makan malam, Mutia tertidur karena kelelahan, seharian hilang entah kemana dan di rumah bermain terus menerus sambil melompat-lompat saking bahagianya dia.


"Ibu bisa kan mengawasinya?" Tanya Haga ketika sedang menonton TV.


"Apa?" Tanya Ibunya bingung.


"Pelayang rumah makan, eh calon pengasuh Mutia maksudnya."

__ADS_1


"Kamu bisa santai Ga.. yang terpenting kamu harus kerja yang rajin biar dapet banyak uang untuk membayar pengasuh Mutia. Ibu udah bilang gajinya 3 kali lipat dari tempat kerja dia di rumah makan.


Dan Haga hanya bisa tercengang mendengar penuturan Ibunya. 3 kali lipat? Apa-apaan... pikirnya. Tapi ya sudahlah, nasi sudah jadi bubur kan ya, jalani aja, yang penting anak dan Ibu bisa berbahagia dan bisa nyaman dengan wanita itu.


__ADS_2