
Sesampainya di meja makan, Rahayu melihat bahwa mereka sudah menempati posisi masing-masing. Haga duduk di kursi sebelah kanan Bu Susi. Dan di sebelah nya ada Siska yang bergelayut manja.
Mutia duduk di sebelah kiri bu Susi, di depan Haga dan Siska. Lalu langsung saja Rahayu mengambil posisi di sebelah Mutia dan Lili di samping kiri Rahayu.
"Sayang mau makan apa? Biar Tante ambilin ya," tawar Siska pada Mutia.
Namun dengan polosnya Mutia menggelengkan kepalanya sembari berkata, "Enggak, Bunda aja yang ambilin Mumut makan, Mumut mau di suapin Bunda."
Sontak hal itu membuat Siska sedikit cemburu, kenapa keponakannya lebih dekat dengan orang asing ketimbang dirinya, adik Mamanya.
"Sama Tante Aja donk sayang, kan Tante mau jadi Mama kamu, kamu mau kan sayang,," Tanya Siska.
Mumut yang mendengar hal itu mengerutkan keningnya karena dia tidak mengerti apa maksud Tante nya.
"Sudah sudah, ayo kita makan, sebentar lagi Haga balik kantor, jadi jangan menyia-nyiakan waktu," kata Bu Susi.
Rahayu hanya diam memperhatikan interaksi mereka, begitu juga dengan Lili.
Rahayu mengambil sepiring makanan untuk Mutia dan sepiring lagi untuk Lili. Dengan sayur bayam dan ikan goreng di piring mereka. Lili makan dengan lahap, begitu juga dengan Mutia yang dengan senang hati melahap makanan yang di sendokkan Rahayu.
"Kamu gak makan Yu?" tanya Bu Susi.
"Iya nanti Bu, setelah selesai nyuapin Mutia baru saya makan," jawab Rahayu.
"Memang benar keibuan kamu Yu," celetuk Bu Susi. "Saya juga kalau makan nanti setelah nyuapin anak, begitulah dulu saya ngasih makan Haga," Bu Susi tersenyum.
"Iya bu, biar anak-anak kenyang dulu, ketika mereka kenyang kan makan saya gak ada yang ganggu, hehehe jadi saya bisa menikmati makan saya juga" Rahayu memberi alasan.
"Persis saya," Bu Susi mengedipkan mata. "Tuh liat Ga, yang begini nih yang pantes di jadikan istri, bisa ngurus anak. Kalo anak aja terurus apalagi suaminya, gak sibuk dengan kerjaan di luar sampe-sampe suami gak tau kapan makan nya."
Siska mengepalkan tangannya di bawah meja, bukannya Siska tak tahu jika Bu Susi menyindirnya, tapi Siska hanya berusaha terlihat biasa aja dengan ucapan Bu Susi, karena bagaimanapun juga dia masih berusaha untuk mendapatkan hati kakak iparnya itu.
"Sudahlah Bu, belum tentu juga kan yang full 24 jam dirumah bisa nyenengin suami, bahkan ada tuh istri yg gak bisa ngurus penampilan walaupun dirumah nganggur," Haga melirik Rahayu yang melihat kearahnya.
"Loh, Bapak nyindir saya? Jangan sekate-kate Pak, saya gak gitu orang nya.." jawab Rahayu agak nyolot.
"Lah, liat aja penampilan kamu, biasa aja tuh, gak bisa dandan kan," Haga tersenyum miring.
"Awas loh Pak, nanti anda jatuh cinta sama saya kalo saya dandan," Rahayu tersenyum kemenangan.
"Cih,, gak bakal." Jawab Haga ketus.
Bu Susi yang mendengar percakapan mereka hanya menggelengkan kepala, sungguh sudah seperti keluarga bahagia mereka, pikirnya.
"Udah di lanjut makannya, kamu kan harus segera balik ke kantor Mas," Siska menengahi percakapan mereka. Hatinya sakit melihat interaksi mereka.
Setelah selesai makan, Rahayu dengan sadar diri mencuci piring bekas mereka makan, padahal sudah dilarang oleh Bu Susi, tapi emang dasarnya Rahayu ringan tangan dalam bekerja, apalagi itu sudah menjadi keseharian nya.
"Kamu baru kan kerja jagain Mumut?" Tanya Siska yang datang tiba-tiba.
"Astaghfirullah...." Rahayu sedikit terkejut dengan kedatangan nya yang tiba-tiba, sehingga ia tak sengaja memercikkan busa sabun ke wajah Siska.
"Kamu sengaja ya?" Tanya Siska kesal, sebab wajah cantiknya ternoda busa sabun cuci piring.
"Maaf kan saya Mbak, saya gak sengaja.." Rahayu terburu-buru membersihkan tangannya dan segera mengambil tissu di meja.
"Gak perlu, Aku bisa sendiri." Siska menepis tangan Rahayu yang hendak membersihkan wajahnya. "Kamu sengaja?" Tanya Siska lagi gak selow.
"Enggak Mbak, habisnya Mbak nya ngagetin saya dengan dateng tiba-tiba." Jawab Rahayu.
__ADS_1
"Sudahlah, jawab aja pertanyaan ku." Sinis Siska.
"Pertanyaan yang mana Mbak?" Tanya Rahayu lagi.
"Kamu baru kan jadi pengasuh Mutia?"
"Iya Mbak, baru kemaren.." Jawab Rahayu.
"Kenapa kamu bisa sedekat itu sama dia? Atau jangan-jangan kamu punya maksud mendekati Papanya Mutia?"
"Enggak Mbak, saya asli cuma mau jagain Mutia kok, gak mau deketin Papanya. Lagian saya belum berencana menikah lagi kok,"
"Kok saya gak percaya ya?" Tanya Siska.
"Ya terserah Mbaknya, lah wong saya juga baru di tinggal almarhum suami saya,"
Siska memicingkan matanya, "Haga punya saya, dan Mutia juga akan jadi anak saya, jadi kamu jangan coba-coba mendekati mereka dalam arti kamu jangan sampai jatuh cinta sama mereka. Mereka itu keluarga saya, hanya punya saya, cam kan itu." Siska lalu pergi dari dapur untuk mencari Mutia yang tadi katanya mau main boneka dulu selagi menunggu Rahayu mencuci piring.
Sedangkan Rahayu yang mendapatkan peringatan itu hanya mengangkat bahu tak peduli, lagian dia kan cuma kerja, bukan mau tebar pesona.
"Mumuuuut......" panggil Siska yg sudah menemui Mumut di ruang TV..
"Saya tante...." jawab Mumut tanpa menoleh ke arah Siska.
"Ih. Mumut kok gitu sih sama Tante? Liat Tante donk kalo di ajak ngomong " rajuk Siska sambil duduk di samping Mutia.
"Kenapa Tante? Mumut kan lagi main," Mutia memanyunkan bibirnya.
"Mut, Tante mau tanya deh sama Mumut, "
"Tanya apa Tante?"
"Iya, Mumut maunya panggil Mama, tapi gak boleh sama Papa."
"Kenapa gak boleh?" Tanya Siska penasaran.
"Kata Papa, Mama nya Mumut cuma satu. Gak ada yg bisa gantiin mama,"
Siska tertohok mendengar penuturan keponakan nya, padahal Siska sangat ingin menjadi Mama nya Mutia. "Kalo Tante yang jadi Mama nya Mumut mau gak?" Tanya Siska seketika.
Sontak pertanyaan itu membuat Mutia melebarkan mata belok nya, dan seketika menjawab, "Memangnya boleh?" Tanya Mutia polos.
"Boleh donk sayang, Tante ini kan adik nya Mama kamu, otomatis Tante juga bisa jadi Mama kamu, kamu mau kan kalo Tante jadi Mama kamu?" Siska merayu. Sedang yang di rayu malah asik dengan Boneka beruangnya. melihat itu Siska bertanya lagi, "Gimana sayang? Mau kan?"
"Emangnya kenapa Tante mau jadi Mama nya Mumut?" Tanya Mutia polos.
"Karena Tante sayang sama kamu, Tante juga sayang sama Papa kamu, jadi kalo Tante nikah sama Papa kamu, Tante akan jadi Mama kamu,"
"Nikah itu apa Tante?" Tanya Mutia lagi.
"Menikah itu orang yang saling mencintai, saling menyayangi tinggal bersama sayang.." jelas Siska.
"Oh gitu, kalo gitu besok Aku suluh deh Bunda nikah sama Papa bial Bunda bisa tinggal sama Aku, sama kak Lili juga, soalnya Mumut kan sayang sama Bunda sama kak Lili," jawab Mumut riang.
Oh sungguh jangan abaikan wajah Siska yang seperti nahan Pup. Hijau putih bergantian mendengar penuturan Mutia. Sakit besti...🥲
"Kan yang mau jadi Mama nya Mumut itu Tante Siska sayang, bukannya Tante ayu,,"
"Gapapa Tante, kalo Tante mau jadi Mama nya Mumut ya udah, tanya sama Papa, tapi bial Bunda tinggal disini sama Mumut, sama nenek, kakek, sama Papa juga. Tante kalo mau gapapa deh tinggal disini juga..." jelas Mutia.
__ADS_1
"Duh ni anak, gak bisa Aku ambil hatinya, ternyata dia hanya anggap Aku sebagai Tante nya aja, gak ada sedikitpun rasa sayang seorang anak ke Ibu nya." batin Siska.
"Ya udah deh, eh kayaknya Tante masih ada kerjaan. Tante mau pergi dulu, nanti Mutia bilangin ke Papa ya supaya Tante Siska bisa jadi Mamanya Mumut ya," Siska mengelus puncah kepala Mutia.
"Iya Tante..." jawab Mutia masih sambil memainkan beberapa boneka nya.
"Bu, saya pamit dulu ya, masih ada kerjaan yang harus saya selesaikan sebelum makan malam, kalo boleh nanti makan malam saya kesini ya Bu. Mau dinner bareng, hehehe" Siska pamit pada Bu Susi yang baru saja keluar dari kamar.
"Kok cepet banget Sis?" Tanya Bu Susi basa basi.
"Iya Bu. Mau segera diselesaikan projek nya, jadi Siska buru-buru nih," Siska berkata sambil melirik jam tangan.
"Ya udah hati-hati kamu di jalan, jangan ngebut-ngebut."
"Iya Bu, makasih... Siska pergi dulu ya, nanti malam Aku kemari lagi,"
Bu susi tersenyum tanpa memberikan jawaban. Sebenarnya beliau tak ingin terlalu rapat dengan Siska, tapi mau gimana lagi, ada penghubung di antara mereka, yaitu Mutia.
Siska berjalan keluar rumah dan berpapasan dengan Lili yang akan masuk rumah setelah bermain dengan ikan koi peliharaan Haga. Dia terkesima dengan cantiknya warna ikan koi itu, selain itu ikannya juga besar -besar. Walaupun Lili sering melihat ikan, tapi yang selalu Lili lihat adalah ikan nila peliharaan orang tuanya yang warna nya hanya hitam, dan itu pun tak sebesar ikan koi dalam kolam.
"Hei kamu..." Siska menunjuk Lili.
"Ya tante?" tanya Lili.
"Kamu jangan banyak berharap ya kalo Mutia bakal jadi adek kamu, soalnya Mutia akan jadi anak saya, jadi jangan sekali-kali kamu berfikir menjadikan Mutia adek kamu, ngerti?" Siska mendelikkan matanya.
"Ih Tante apaan sih. Ya suka-suka Aku donk kalo mau jadiin Mutia adek Aku, Aku suka main sama Mutia, dia juga udah panggil Bunda ke bunda nya Aku." sungut Lili.
"cih, anak kecil gak tau sopan santun. Huh" Siska mencebikkan bibirnya dan langsung berjalan keluar rumah meninggalkan Lili yang kesal dan berlari menemui Mutia yang sedang main boneka.
"Mumuuuutt...." panggil Lili..
"kak Lili dalimana? Mumut main boneka sendilian dalitadi lo..." Mumut cemberut.
"kakak habis liat ikan di dalam kolam Mut, ikannya gede-gede terus warna nya cantik."
"Kakak suka?" Tanya Mumut lagi.
"Suka liat nya," jawab Lili.
"Nanti Mumut bilang sama Papa deh supaya kasih ikan itu ke kak Lili."
"Eh, gak usah Mut, kakak gak mau ikan nya di bawa pulang. Kakak suka liat nya disini aja, pasti mahal ya ikan itu, soalnya gede-gede.."
"Mumut gak tau kak, Papa yang beli."
Lalu sambil main boneka, mereka bercerita random, biasalah anak-anak.
Rahayu yang sedari tadi mendengar percakapan mereka hanya bisa geleng kepala karena menurut nya percakapan anak kecil itu lucu.
"Bu, saya pamit mau pulang ya, hari ini Lili ngaji Bu," kata Rahayu ketika melihat Bu Susi.
"Ya udah, kamu hati-hati di jalan Yu, itu Mutia diajak kah?"
"Iya Bu, nanti sore saya antarkan lagi kemari, atau bisa juga di jemput kerumah." jawab Rahayu.
"Kalo gitu kami saja yang menjemput Mutia kerumah kami Yu, " kata Bu Susi.
"Baik Bu, kalau gitu kami berangkat dulu ya Bu," Rahayu menyalami Bu Susi dan pamit dengan membawa Lili dan Mutia.
__ADS_1