
"Assalamu'alaikum...." Suara Rahayu membuat Mutia langsung terjingkat. Sangat terkejut karena orang yang di tunggu-tunggu akhirnya ada di depan matanya.
"Waalaikum salam..." Jawab orang-orang yang ada disitu.
"Mama....." Teriak Mutia hendak lari menuju Rahayu. Kalau tidak di cegah Kakek nya, mungkin Mutia sudah melompat dari ranjang rumah sakit.
"Hati-hati sayang..." Rahayu langsung berlari memeluk Mutia.
"Mama kok baru dateng? Mumut kangen..." Mutia berkata manja di leher Rahayu, membuat Rahayu tersenyum. Rasanya Mutia seperti anak kandungnya sendiri. Sama seperti Lili ketika lama tak bertemu dengan Bunda nya.
"Mutia kok sakit?" Tanya Rahayu.
"Lindu Mama..." Jawabnya polos.
Rahayu tersenyum canggung ketika di hadapkan dengan keluarga Mutia.
"Ya udah, kan Tante udah dateng, jadi Mutia cepet sembuh ya, ini Tante bawain Mutia buah sama roti, kamu mau makan yang mana?" Tawar Rahayu.
"Mumut mau jeluk.." Jawabnya manja.
Rahayu melepaskan pelukan mutia untuk bangkit mencuci buah-buahan yang dia bawa. Setelah itu Rahayu mengupas buah jeruk untuk di beri makan pada Mutia. Dengan telaten Rahayu menyuapkan nya buah.
Mereka yang melihat sikap Rahayu pada Mutia merasa sangat tersentuh. Padahal Rahayu hanyalah orang lain yang tak sengaja bertemu dengan anak itu. Itu pun sebab kesalahpahaman yang mana Rahayu di anggap Mamanya.
Bu Susi menyenggol lengan Haga, membuat Haga menoleh. Ketika melihat Ibu nya tersenyum penuh arti, Haga hanya memutar bola matanya.
"Kok kamu gak hubungi saya Yu? Kamu gak mau jadi pengasuh Mutia?" Tanya Bu Susi membuka percakapan.
"Maaf Bu, saya lupa, banyak hal yang harus saya lakukan, jadi saya lupa untuk menghubungi Ibu." Jawab Rahayu penuh dengan permintaan maaf.
"Oh, jadi kamu gak mau jadi pengasuh Mutia? Gajinya besar loh Yu.." Bu Susi menggodanya.
"Bukan saya gak mau Bu, tapi saja juga harus konsultasi dulu sama orang tua saya.."
"Oh.. kamu dekat sama orang tua kami ya Yu?" Tanya Pak Firman.
"Iya pak, mereka tempat bernaung saya.." Jawab Rahayu.
__ADS_1
Mendengar pernyataan Rahayu, Pak Firman memiliki kesan yang mendalam.
"Jadi gimana pendapat Orang tua kamu Yu?" Tanya Bu Susi.
"Mereka Izin Bu, asalkan saya bisa mengatur waktu.."
"Jadi Kamu udah bisa jagain Mutia hari ini Yu?" Tanya Bu Susi.
"Hmmm... hari ini belum bisa Bu, mungkin besok." Jawab Rahayu.
"Oh, ya udah kalo gitu gapapa." Jawab Bu Susi.
Setelah melihat interaksi mereka, Haga pamit pada Ibu dan Anak nya untuk membeli sesuatu di mini market terdekat.
"Ehmm Bu, ada yang mau saya bicarakan sama Ibu." Kata Rahayu setelah menidurkan Mutia yang mengantuk karena sudah makan dan minum obat.
"Ada apa Yu?"
"Begini, Saya kan punya anak Bu, jadi saya gak bisa seharian jagain Mutia di rumah Ibu, paling enggak, ketika anak saya sekolah, saya akan datang ke rumah Ibu, tapi saat jam nya anak saya pulang sekolah sampai dia nanti berangkat mengaji, saya harus ada di rumah. Jadi kalo Ibu izinkan, saya akan bawa Mutia ke rumah saya. kalo enggak, saya bisa tinggal dia untuk 1 sampai 2 jam." Kata Rahayu panjang lebar.
Bu Susi yang mendengar permintaan Rahayu terkejut donk, karena dia pikir Rahayu masih gadis tapi ternyata sudah menikah.
"Sudah Bu, anak saya 1 udah kelas 1 SD."
"hah? Jadi yang saya bingung kok kamu konsultasi sama orang tua kamu? Suami kamu?" Tanya Bu Susi lagi.
"Emh.. anu Bu, Suami saya udah meninggal 5 bulan lalu."
"Jadi kamu janda?"
"Iya Bu, maka dari itu saya juga menjaga diri saya, kalo boleh saya mengasuh Mutia di rumah saya aja. Itu pun kalo Ibu izinkan. Saya segan sama Orang tua Mutia."
"Hehehe....." Bu Susi tertawa.
"Kenapa Bu?" tanya Rahayu heran.
"Haga pun Duda Yu..."
__ADS_1
Percakapan berlanjut hingga sore hari. sudah waktunya bagi Rahayu pulang kerumahnya, karena sudah waktunya untuk memasak makanan kesukaan anaknya.
Rahayu pamit pulang pada Mutia, namun bocah kecil itu enggan berpisah dari Rahayu. Dia ingin ikut Rahayu tapi tak di izinkan karena dia sedang sakit.
"Jadi besok kamu sudah bisa jemput Mutia ya Yu.." Bu Susi mengantar Rahayu ke luar.
"Iya Bu, saya akan tepati janji saya menjaga Mutia.
Lalu Rahayu pulang kerumah orang tuanya dan disambut dengan senyum sumringah anaknya.
"Kamu kenapa?" Tanya Rahayu heran.
"Gapapa Bun, malem ini kita makan di rumah nenek ya, atau enggak kita tidur disini aja gimana Bun?" Laili membujuk.
"Ada apa sih? Kok kayaknya ada sesuatu yang kamu sembunyikan ya dari Bunda?" Tanya Rahayu curiga.
"Enggak ada kok Bun, Lili seneng aja hari ini di ajak sama kakek muter-muter naik delman." Jawabnya antusias.
"Sejak kapan di sini ada delman dek?"
"Tadi ada kang delman yang Dateng cari-cari penumpang. Jadi pas ada kakek, Lili minta aja naik, eh kakek malah ngajak muter-muter ke kota. Lili seneng deh Bun," Laili bercerita antusias.
"Alhamdulillah kalo kamu seneng nak, jangan lupa bersyukur."
"Iya Bun,"
Mereka pun masuk ke dalam rumah, karena Laili udah mandi, udah cantik, jadi Rahayu juga langsung membersihkan diri sebelum dia mulai memasak.
"Hari ini kita makan apa Bun? Lili bantu yah..." Laili berkata dari belakang.
"Bunda mau buat ikan nila asam manis kesukaan Ayah kamu," tiba-tiba Rahayu teringat pada almarhum suaminya, hingga dia merasa sedih sejenak, tapi cepat pulih dari kesedihannya, sebab dia tak ingin memberi tahu anak nya jika dia rapuh semenjak di tinggal suaminya.
"Iya, Ayah paling suka ya Bun, ikan yang bunda buat sampe makannya nambah-nambah," Jawab Laili nyengir.
Rahayu tersenyum menanggapi putrinya. "Ini, kamu tolong Bunda aduk aduk tepung ini sama air. Nanti takarannya bunda kasih tau,"
"Oke Bun," Laili bergegas dengan tugas yang di perintahkan Bunda nya.
__ADS_1
Saat memasak, Rahayu tak bisa tidak ingat kejadian di rumah sakit yang sedikit tak mengenakkan. Pasalnya tadi orang tua dari Almarhum ibunya Mutia juga berkunjung.