Madu?!

Madu?!
Membludak


__ADS_3

"Bunda....." Teriak Laili pada Rahayu ketika dia melihat Rahayu yang sudah duduk cantik di atas motor nya. Lali mengerutkan kening ketika dia melihat sosok asing duduk di depan Ibu nya. Lantas Laili berfikir mungkinkah ini yang di katakan oleh ibu nya sebagai Mutia? Mungkin saja benar, pikirnya.


Laili pun berjalan dengan cepat sehingga akan lekas sampai pada ibu nya.


"Jangan lari-larian kak,," kata Rahayu menasehati.


"Maaf Bunda, kebiasaan." Jawab Laili cengengesan. "Ini siapa Bun?" Lanjutnya.


"Oh, kenalin sayang, ini Mutia yang Bunda ceritain sama kamu, kenalan dulu nak," Rahayu menyodorkan tangan Mutia pada Laili.


"Halo Mutia, Aku Laili, kamu bisa panggil Aku kak Lili," Laili memperkenalkan dirinya dengan mantap.


"Aku Mumut kak," jawab Mutia malu-malu.


"Yuk kita pulang dulu, disini panas soalnya." Ajak Rahayu pada kedua anak itu.


Sesampainya di rumah, Rahayu meminta Laili untuk menjaga Mutia sebentar, karena dia akan segera menyiapkan makan siang. Kedua anak itu pun bermain gembira di ruang tamu dengan berlimpahnya mainan milik Laili.


"Kakak, Mumut suka boneka ini, kakak dapat dalimana?" Tanya Mutia polos.


"Kamu suka? kakak suka main capit boneka, jadi banyak boneka kakak dapat darisana."


"Kemalin Papa Aku ada bawa boneka juga, lima." Mutia mengacungkan jari-jari mungil nya pada Laili. "Bonekanya lucu-lucu kak, Mumut suka."


"Nanti kapan-kapan kakak ajak kamu main capit boneka ya, jadi nanti kalo dapet banyak bonekanya kakak kasih ke kamu semua,"


"Benelan? boleh?" Tanya Mutia antusias.


"Boleh la, nanti kita ajak Bunda juga buat nemenin kita," jawab Laili.

__ADS_1


"Holeeeee...holeeee... mau dapet boneka banyak banyak..." teriak Mutia kegirangan.


"Jangan lompat-lompat dek," Laili menasehati Mutia.


Melihat interaksi kedua anak itu, tanpa sadar Rahayu tersenyum hangat, seperti ada kehangatan yang menelusup kedalam hati nya. Mungkin jika Ayahnya Lili masih ada, pasti mereka sudah akan merencanakan untuk menambah momongan... Ah... seandainya...


Hush... Cepat-cepat Rahayu menghilangkan pikiran itu dari kepalanya. Apa yang sudah terjadi jangan di sesali. Lagian suaminya juga sudah tenang di alam sana. Rahayu hanya saja terkadang ingat saat-saat bersama sang pujaan hati, membuat suasana menjadi sendu.


Tapi sekarang Rahayu hanya mencoba untuk ikhlas menghadapi kenyataan. Bahkan belum sampai setengah tahun dirinya menyandang status janda, banyak tetangga yang punya mulut tajam setajam silet menggosipkan dirinya. Memang kalau dipikirin bikin kepala mumet tujuh tanjakan, makanya Rahayu gak mau ambil pusing. Karena Rahayu tau sendiri apa yang dia perbuat dan lakukan gak pernah menentang norma-norma yang berlaku.


Dia juga gak menganggu rumah tangga orang, dia hanya mencari kesibukan disela-sela waktu senggang nya. Dia hanya ingin anaknya bahagia walaupun ayahnya tak menemani mereka.


Rahayu selesai memasak beberapa makanan untuk dimakan mereka bertiga. "Ayo kita makan siang dulu, terus nanti bobok siang." Ajak Rahayu pada mereka berdua yang sedang asik memainkan rumah-rumahan.


"Ayo dek, kita makan," ajak Laili pada Mutia. "Masakan Bunda enak banget loh," lanjutnya.


"Mumut gak mau mamam, Mumut mau main aja." Jawab anak kecil polos itu.


Dengan berat hati, Mumut juga berjalan ke meja makan, dia menatap beberapa hidangan yang tersaji di atas meja. Hatinya sedikit tergerak melihat ayam goreng yang sepertinya kriuk sekali kalau di gigit.


"Mumut mau makan pakai lauk yang mana? biar Bunda ambilin," kata Rahayu.


"Bunda, Mumut mau makan ayam goreng. tapi Mumut gak mau pake nasi," katanya.


"Bunda ambilin nasinya dikit ya, Mumut harus makan nasi, biar cepet gede kayak kak Lili, jadi bisa main capit boneka, gimana?" tawar Rahayu.


Mumut masih menggelengkan kepalanya. Namun, Rahayu juga tak kehabisan akal untuk membujuk anak ini untuk makan


"Bunda suapin mau?" tawarnya lagi. Barulah Mumut mengangguk setuju.

__ADS_1


Siapa yang menyangka kalau makan di suapin sama Bunda Ayu rasanya begitu nikmat? walaupun sambil main boneka, Mumut menghabiskan banyak makanannya. Yang biasanya tidak suka brokoli, hari ini Mumut hampir makan setengah piring sendiri, hal itu membuat Rahayu senang karena Mumut mau makan.


Setelah makan, mereka pergi ke kamar Laili untuk tidur siang. Dihidupkannya kipas angin, mereka bertiga rebahan di karpet samping tempat tidur, karena Laili menggunakan single bed, jadi masih ada area luas untuk membentangkan karpet untuk sekedar tidur siang. Tak lupa Rahayu menyetel alarm supaya gak kelewat waktu mengaji Laili. Jangan tanya kenapa, Rahayu punya kebiasaan tidur bablas kalo udah terlalu nyenyak, bahkan terkadang suara alarm aja sampe gak kedengeran.


Untuk menyiasatinya, Rahayu menyetel musik rock supaya suaranya nya lebih kenceng dari musik yang lain. Setelah itu barulah Rahayu bisa bangun dengan alarm.


Sekitar pukul setengah dua, Rahayu bangun. Melihat sekeliling dan membangunkan anak-anak untuk mandi. Laili bangkit dan di susul Mutia. Lalu dia menyiapkan perlengkapan mereka. Setelah setengah jam kemudian mereka siap, mereka bergegas ke rumah ngaji.


Setelah mengantar Laili, Rahayu mengendarai motor matic nya menuju ke rumah makan. Dia ingin melihat kinerja pegawainya, apakah ada yang kendor? hahaha...


Setelah sampai, Rahayu dikejutkan dengan ramainya pelanggan, bahkan ada yang berdiri di luar pintu mengantri untuk membeli makanan untuk di bawa pulang.


Rahayu mengajak Mutia masuk dan melihat para pegawai itu sedang sibuk melayani pelanggan. Di lihatnya ada satu anak baru yang mungkin baru di rekrut oleh Robbi.


Rahayu merasa sangat terkejut melihat pelanggan yang membludak itu, dia menyuruh Mutia untuk duduk di tempat biasanya mereka istirahat yang masih bisa di pantau dari dapur. Disana ada sofa dan juga televisi yang membuat Mutia juga gak jadi bosan, setelah di rasa aman, Rahayu segera berganti pakaian dan bergegas membantu Robbi dan si anak baru untuk melayani pelanggan.


Sebenarnya mereka terkejut melihat tiba-tiba Rahayu ada di rumah makan, tetapi untuk saat ini mereka tidak bisa bertanya pada Rahayu karena kondisi tidak memungkinkan. Jadi mereka akan menunggu waktu yang tepat. Sekarang mereka merasa lega karena mendapat satu tangan tambahan lagi.


Hufft... legaaa... itulah yang mereka rasakan setelah perjuangan kesana kemari di jam makan siang tadi. Merek juga sama seperti Rahayu, gak menyangka ide Jeno bisa membuat rumah makan mereka ramai sekali.


Mereka duduk di dalam ruang istirahat bersama dengan Mutia yang masih asik dengan tontonannya, sedangkan di tangan kirinya dia memegang boneka Teddy bear.


"Mbak, kok bisa disini? katanya akan jarang kesini?" Tanya Mala membuka percakapan.


"Saya jarang kesini bulan berarti saya tidak kesini Mala," Jawab Rahayu sambil memijit bahunya. Sedangkan Mala hanya cengengesan saja setelah mendapat jawaban dari Rahayu.


"Tapi untunglah Mbak dateng di waktu yang tepat, gak nyangka saya tuh mbak, rumah makan kita akan seramai ini," Kata Mala.


"Iya, saya juga heran, kok tiba-tiba pelanggan jadi membludak begini," Rahayu memandang ke arah Robby dan menaik turunkan sebelah alis matanya.

__ADS_1


Robby yang di tatap seperti itu pun segera mengerti apa maksud Bos nya.


__ADS_2