
Flashback... on
"Assalamualaikum cucu Oma..." Tampak seorang wanita sedikit agak tua masuk setelah mengucapkan salam kepada dalam ruangan Mutia.
"Omaaa...." Mutia juga sangat bersemangat bertemu dengan Oma nya. Oh, mungkin ini ibu dari pihak ibu Mutia kali, batin Rahayu.
"Kok kamu sakit sayang, yang mana yang sakit? Ada yang gak enak badannya?" Tanya Oma bertubi-tubi.
"Enggak Oma, Mumut kangen Mama..." Mutia berkata demikian tapi dengan memandang Rahayu.
Gerakan kecil itu menumbuhkan kecurigaan di hati Bu Ririn, Oma nya Mutia.
"Apa kabar Mbak yu?" Tanya Bu Susi seraya berjalan ke arah Bu Ririn setelah melihat gerak-gerik nya yang sepertinya mulai sinis. Karena sedari masuk tadi emang pandangannya pada Rahayu terbilang tak sedap di lihat. Tapi Rahayu mengabaikannya.
"Baik, akan selalu baik jika cucu ku juga baik." Jawabnya ketus.
Ini nih,, yang begini nih yang paling Rahayu gak suka. Sama nya dia juga neneknya Mutia, tapi sifatnya jauh beda dengan Bu Susi. Sombong...
"Oh ya, kamu siapa? Kamu calon istri menantu ku yang di pilih Susi?" Tanya nya lagi.
"Bukan Bu...." Jawab Rahayu sedikit gugup.
"Dia pengasuh Mutia.." jawab Bu Susi cepat diikuti anggukan kepala rahayu., Persis seperti ayam yang mematuk jagung dalam mangkuk.
"Oh, saya kira calon istri Haga, kok mau maunya dia milih calon istri yang gak berkelas begini," Bu Ririn mencemooh.
"Kalo pun dia calon istri Haga emang nya kenapa? Haga belum laku juga, lagian mereka juga sama-sama singlenya toh Bu," Bu Susi mencibir.
Rahayu yang mendengar percakapan mereka hanya bisa duduk manggut-manggut karena dia tak bisa menyela ketika orang tua ngomong.
__ADS_1
"Paling gak kalo Haga mau nikah lagi ya pilih la perempuan yang baik, cantik, berstyle, terus berkarir kayak anak-anak saya. Apalagi Tantenya Mutia yang sempurna jadi mantu idaman."
Bu Susi hanya tersenyum garing mendengar penuturan besannya. Sepertinya dia kepengen jika Haga turun ranjang, batin Rahayu.
"Saya itu loh, gak nyari mantu yang muluk-muluk, yang penting bisa ngurus keluarga, apalagi ada Mutia yang kalo jadi akan jadi anak tiri. Gak banyak perempuan yang mau Nerima anak tiri toh mbak yu?" Pertanyaan Bu Susi sangat menohok menurut Rahayu.
"Anakku si Susan itu ya juga peduli sekali sama anak-anak, apalagi sama keponakannya. Sejak kakaknya meninggal toh Susan juga selalu mikirin Mutia kok.
Bu Susi hanya tersenyum datar. "Iya kamu bener Mbak yu, tak seperti Mama nya dulu yang selalu mementingkan karir nya kan,"
Bu Ririn segera mematung ketika pernyataan itu keluar dari mulut Bu Susi. Wah sepertinya ini adalah drama keluarga yang seharusnya Rahayu gak ikut-ikutan kan ya.
Rahayu hanya menjadi pendengar yang baik untuk mereka, setelah di salah pahami sebagai calon istri majikannya, Rahayu pun bertekad untuk menjaga Mutia di rumahnya saja. Jangan sampai ada kesalahpahaman lagi nanti ketika dia menjaga Mutia di rumahnya.
Gak lama, hanya sekitar 1 jam Oma nya Mutia datang berkunjung, ketika pamit dia masih melirik ke arah Rahayu seperti hendak menerkam nya hidup-hidup. Rahayu hanya bergidik melihat dan berada di kejadian ini. Kalo bisa Rahayu gak akan pernah mau ketemu lagi sama Oma nya Mutia.
"Setelah saya pikir-pikir Bu, lebih baik saya menjaga Mutia di rumah saya saja, Ibu atau Papanya Mutia bisa mengantarkan Mutia ke rumah saya saja. Saya gak mau jadi bahan omongan orang Bu," pinta Rahayu ketika Oma Mutia benar-benar pergi.
"Maaf Bu, pilihannya cuma dua, Mutia di antar kerumah saya atau saya gak mau mengasuh Mutia. Bukan karena saya gak mau kerumah ibu dan jagain Mutia, tapi ada hati yang harus saya jaga. Ada Ayah dan Ibu saya, ada juga anak saya, saya gak mau nanti gara-gara mulut yang berbicara kayak wabah, menyebabkan anak saya dan orang tua saya khawatir. Saya juga gak mau kalo ada tuduhan-tuduhan yang gak mendasar kayak tadi Bu," Rahayu berbicara panjang lebar.
" Baik lah jika itu yang kamu pikirin Yu, saya akan bicara sama Haga nanti."
"Iya Bu, udah sore, saya harus pamit pulang Bu."
Setelah basa-basi singkat dan beberapa drama dari Mutia, akhirnya Rahayu bisa pulang juga.
flashback... off.
Duduk di meja makan seluruh keluarga, Rahayu tampak tak bersemangat membuat Ayahnya yang sedang melahap ikan nila asam manis pun merasakan asam yang luar biasa, hehehe. Padahal ikan itu ya manis juga, asam nya dikit aja dari tomat.
__ADS_1
"Kamu kenapa Nduk?" Tanya Pak Yunan.
"Gapapa Yah, besok Ayu mulai jagain anak orang itu," Jawab Rahayu lemas.
"Kamu udah yakin?" tanya Pak Yunan lagi.
"Yakin lah Yah, kasian Ayu tuh sama anaknya, masak bisa-bisanya sakit karna merindukan Ayu? persis sama kayak Lili yang kalok kangen sama Ayu padahal cuma di tinggal seharian." jelas Rahayu.
"Ya udah kalo keputusan kamu udah bulat. Cuma yang Ayah pesankan sama kamu, kamu harus jaga betul-betul anak itu, dan jangan sampai kamu buat kesalah pahaman sama orang tua nya. Kamu tau posisi kamu kan nduk,,"
"Ayu tau Yah, lagian Ibunya udah meninggal waktu ngelahirin dia. Jadi Ayahnya duda Yah,"
"Lah, kalo Duda lebih gawat lagi Yu," Ayahnya berkata dengan sedikit keterkejutan di nada nya.
"Gawat kenapa Yah?" Tanya Rahayu bingung.
"Nanti kalo dia kesengsem sama anak Ayah gimana? Langsung di ajak nikah kalo gitu, dah Ayah di tinggal lagi bedua sama Mbok mu," Ayah cekikikan.
"Ish Ayah ni, kirain apaan." Ayu merajuk. "Lagian gak mungkin Yah, karena dia udah ada calon istri, cantik, kaya, baik, punya karir lagi." Rahayu mulai menyebutkan kriteria calon istri Haga seperti yang di katakan mertua Haga sebelum nya.
"Wah... Bau cuka nih Bu," Kata Ayahnya menyenggol lengan Bu Rima.
Bu Rima hanya senyum-senyum aja melihat interaksi keduanya.
"Ngomong-ngomong, Lili udah punya calon Ayah Lili loh," Laili yang sedari tadi diam membuka suaranya.
"Hah?" Mereka kompak melihat ke arah Laili. Yang di lihat hanya menampilkan senyum gigi bersinar saja.
"Apa maksud kamu nak? Bunda mu punya pacar?" Tanya Bu Rima pada Laili.
__ADS_1
Rahayu juga gelagapan mau menjawab, tapi belum sempat dia menjawab, Laili sudah menjawab pertanyaan Neneknya. "Enggak Nek, Lili jumpa tadi pagi di mesin capit boneka,"
Dan jawaban itu kontan membuat semua yang ada di meja makan tertawa. Mereka berpikir kalau Laili, anak kecil imut nan lincah itu hanya mencoba menggoda mereka.