
Pagi ini Rahayu sedang membersihkan rumah ketika Dimas, yang bertanggung jawab atas tambak datang dengan membawa laporan.
"Mbak Ayu, Aku kesini mau ada yang di laporkan," Kata Dimas dengan medok jawanya.
"Laporan apa toh? Kan masih pagi." Kata Rahayu.
"Ini loh Mbak e, ada orang yang mau beli ikan nila tapi Ndak banyak, dia mau beli sekiranya 25 kg aja Mbak e,, sedangkan pukulan kita kan paling rendah itu 50 kg,"
Dimas menjelaskan.
"Memangnya untuk apa dia beli segitu? Dia tau kan kita ini pemasok besar? Kita gak jual eceran loh," Rahayu menjelaskan.
"Dia bilang kan Mbak, dia beli ikan ini untuk acara kantor nya, katanya mau buat acara pamali katering,"
"Pamali katering? Apa itu?" tanya Rahayu bingung.
"Itu loh Mbak, yang kumpul-kumpul keluarga gitu kata Mas nya kemarin," jelas Dimas.
"Oalah... Famili Gathering itu Dimas..." Rahayu geleng-geleng kepala sambil cekikikan.
"Maklum lah mbak, lidah wong ndeso, payah mau nyebut family gathering."
"Lah itu bisa..."
"Itu contoh Mbak, hehehe"
"Kamu ini, ada-ada aja."
Rahayu berfikir sejenak, lalu dia menatap kearah Dimas dengan tatapan tajam setajam silet. Dimas yang di tatap malah berkeringat dingin, soalnya Dimas anaknya pemalu.
"Ono opo toh Mbak?"
"Ehmmm.... gini aja, itu kolam kita kan ada 8 yang siap panen, nanti kamu buat iklan terserah gimana caranya, kalo kita jual ikan nila eceran, tapi gak banyak, cukup 1 kolam aja, nanti yang 7 kolam seperti biasa kita pasok ke langganan kita."
"Jatahnya berkurang toh Mbak, kalo yang 1 kolam di jual eceran, sedangkan mereka kalo bisa minta lebih,"
"Gapapa bagian waktu ini ikan nya kurang, Nanti masa panen selanjutnya bisa di pastikan masing-masing mendapat jatah lebih dari biasanya, kan kolam kita yang masih berkembang ada 10 kolam Dim, jadi setiap panen sisakan 1 kolam khusus untuk di jual eceran, jadi kalo tetangga-tetangga sini ada yang mau beli ikan gak jauh-jauh."
__ADS_1
"Okelah kalo begitu, Saya pamit dulu Mbak," Dimas beranjak dari duduk nya dan hendak keluar sebelum dia berbalik lagi.
"Ada apa lagi Dim?" tanya Rahayu penasaran.
"Emmm... Itu Mbak, soal harga nya gimana?"Tanya Dimas lagi.
"Kamu bisa kasih harga seperti kita jual sama agen."
"Oh, oke Mbak." Lalu Dimas pun berjalan pergi meninggalkan kediaman Rahayu.
Tak lama setelah kepergian Dimas, datang sebuah mobil Maybach hitam yang sangat mewah. Rahayu mengerutkan kening, lah kok bisa-bisanya ada mobil mewah memasuki kawasan rumahnya, pikirnya.
Tetapi setelah melihat siapa yang datang, Rahayu tersenyum menyambut kedatangannya, ternyata itu adalah Mutia yang di antarkan oleh nenek dan Papanya.
"Mama...." Panggil Mutia sambil berlari menuju Rahayu.
Rahayu yang di panggil Mama merasa tak enak apabila panggilan itu di dengar oleh tetangga. Jadi Rahayu langsung jongkok dan memberi pengertian kepada Mutia, "Sayang, jangan panggil Mama ya, Mumut bisa panggil Bunda, sama kayak Kak Lili, yang panggil Bunda."
"Bunda?" Mutia menoleh kearah Neneknya. Dan dia mendapati sang Nenek mengangguk setuju. Itu juga kesepakatan antara Haga dan Bu Susi semalam, Mutia boleh memanggil apa saja kepada Rahayu asal jangan Mama.
"Bunda..." Dengan suara yang halus dan lembut Mutia mencoba memanggil Rahayu. Mendengar itu, Rahayu merasa sangat bahagia di dalam lubuk hatinya, entah kenapa ada getaran halus ketika mendengar Mutia memanggilnya Bunda, sama seperti kebahagiaan ketika Lili memanggilnya Bunda.
"Ya udah, kalo gitu Papa mau kerja dulu ya sayang, sekalian Papa anter Nenek dulu pulang ke rumah." Haga yang sedari tadi memperhatikan interaksi keduanya menyela.
"Iya Pa, Papa hati-hati ya, dada Nenek, Mumut sama Bunda disini," Mutia melambaikan tangannya pada Papa dan Neneknya.
Haga dan Bu Susi mencium kening Mutia bergantian. Sesungguhnya Bu Susi masih berberat hati untuk meninggalkan Mutia bersama Rahayu di rumahnya. Bukan karena Bu Susi tak percaya pada Rahayu, tapi akan lebih menyenangkan jika Rahayu bisa berada di rumahnya.
"Hati-hati Pak, Bu," Rahayu juga melambaikan tangannya ketika mereka berdua masuk ke dalam mobil.
"Nah, sekarang kita masuk dulu yuk," ajak Rahayu kepada Mutia. Mutia mengangguk menyetujui. Mereka menuju ruang keluarga dimana disana tergeletak bermacam ragam mainan Laili. Mutia yang melihat itu sangat antusias, maka ia berlari menuju rak dan box yang terdapat beberapa boneka dan mainan masak-masakan.
"Mumut suka main masak-masakan?" Tanya Rahayu ketika melihat Mutia yang sangat gembira ketika berada di depan box.
"Suka..suka.. di lumah Mumut juga banyak mainan, Mumut suka main, tapi gak ada temennya." Mutia berkata dengan murung.
"Ya udah, nanti disini main sama kak Lili mau?" Tawar Rahayu.
__ADS_1
"Kak Lili siapa Bunda?"
"Kak Lili anak Bunda, tapi kak Lili lagi sekolah, jadi Mumut main sama Bunda dulu ya,"
"Iya Mumut mau."
"Eh tapi Mumut udah makan belum?" Tanya Rahayu lagi.
"Udah, tadi sama nenek dikasih makan loti pake susu..."
"Wihh.. enak donk sarapan Mumut,"
"Bunda tadi udah maam?" Tanya Mumut balik.
"Udah, tadi Bunda sarapan sama kak Lili makan nasi goreng,"
"Mumut suka nasi goleng, tapi Nenek gak buatin Mumut nasi goleng, kata Nenek mam loti aja dulu sama susu." Jelas Mumut.
"Iya nanti kapan-kapan biar Bunda buatin nasi goreng untuk Mumut mau?" Tanya Rahayu.
"Mau..." Jawab anak kecil nan imut itu antusias.
Mereka bermain sekitar satu jam sebelum Mutia merasa lelah dan mengantuk, sepertinya Mutia masih terbiasa tidur di jam 11 pagi, tapi Rahayu membujuknya agar tak tidur dulu, karena mereka akan pergi menjemput Lili pulang sekolah.
Mereka menaiki motor matic Rahayu untuk menjemput Lili, Mutia yang tak pernah di ajak naik motor merasa sangat senang dan antusias karena mencoba hal yang baru.
"Kita mau jemput kak Lili?" Tanya Mutia di sela-sela kegiatannya menikmati angin sepoi-sepoi.
"Iya, nanti Mumut pasti seneng deh kalo ketemu sama kak Lili." Jawab Rahayu.
"Iya Bunda?"
"Iya donk sayang.. tunggu aja ya, sebentar lagi kita sampai."
Motor melaju membelah jalanan yang sepi, karena memang ini bukan jamnya sibuk. maksudnya bukan jam orang pulang kerja, apalagi kalau orang kantor yang pulang kerja, beeeuueehhh riweh jalanan jadinya.
Ini juga bukan jam istirahat, jadinya jalanan sedikit legang, yang membuat Rahayu selalu memicingkan mata dan mengerutkan alis adalah matahari. Sungguh sangat panas sekali dijalanan saat seperti ini, bahkan cacing pun enggan keluar tanah.
__ADS_1
Hanya tinggal beberapa belokan lagi maka mereka sampai di sekolah Laili. Dan pada akhirnya mereka sampai dan di sambut dengan senyum indah laili.