Madu?!

Madu?!
Siska pulang


__ADS_3

Di tengah ruangan yang besar, seorang lelaki tengah berkutat dengan tugas yang menumpuk. Banyak berkas yang harus direvisi dan di tinjau ulang. Ada juga beberapa dokumen yang harus dia tanda tangani.


Mahaga yang tengah di pusingkan dengan beberapa berkas mendapat pesan singkat melalui aplikasi chat di hp nya. Namun karena kesibukannya, dia mengabaikan chat tersebut.


Tak lama setelah dia mengabaikan dering telponnya, ada tamu yang tak di undang masuk ke ruangannya tanpa permisi dan mengetuk pintu. Sontak Haha melihat ke arah datangnya dua orang tersebut. Yang satu adalah sekretaris nya, dan yang lain adalah... eh?! Haga mengerutkan keningnya. 'Kok dia udah disini?' pikir nya.


"Surprise......." Teriak wanita itu.


"Siska?" Haga terkejut tapi tak sampai bangkit dari kursi kebesarannya. Yah, dia adalah Siska, adik dari almarhum istrinya.


"Iya, Aku udah balik Mas, kamu apa kabar? seneng gak Aku pulang?" deretan pertanyaan dia lontarkan pada Haga.


"Kok kamu kesini?" Tanya Haga gak santai. Pasalnya Haga gak terlalu suka dengan wanita ini, entah kenapa walaupun wajahnya mirip dengan sang kakak, dia memiliki sifat yang jauh berbeda dengan mendiang istrinya.


"Ih, kamu kok gitu sih Mas, Aku kan rindu sama kamu, sama Mutia juga," Jawabnya sambil mengerucutkan bibir nya. Jika orang lain yang melihat tingkah Siska yang seperti ini, mereka pasti akan langsung memiliki pikiran untuk langsung melahap bibir seksi itu. Tapi ini seorang Mahaga, yang tak pernah tergoda dengan wanita manapun selain istrinya.


"Ya tapi gak harus ke kantor Aku juga kan. Kamu bisa pergi ke rumah aja. Aku lagi sibuk." Kata Haga ketus. "Dan kamu, kalau ada selanjutnya kamu biarin tamu tanpa janji masuk, saya gak segan untuk pecat kamu." Haga berkata tegas pada sekretaris nya.


"Maaf Pak, saya udah berusaha mencegahnya, tapi nona ini ngeyel mau masuk." jelas sang sekretaris.


"Kali ini kamu saya maafkan, ingat jangan di ulang lagi. silahkan keluar."

__ADS_1


"Baik Pak." Mila, Nama sekretaris itu pun langsung mengangguk patuh dan keluar ruangan.


"Kamu ih Mas, jangan kejam-kejam sama bawahan, kasian kan dia gak salah." bujuk Siska.


"Kamu tau dia gak salah dan kamu asih jadikan dia kambing hitam?"


"Mana ada.... Aku kan anggota keluarga kamu Mas, masak harus buat janji dulu mau jumpain calon suami Aku." Siska datang mendekat dan duduk di kursi depan Haga yang di halangi oleh meja.


"Ck..." Haga berdecak mendengar penuturan Siska. Haga tak pernah suka dengan Siska, tapi karena amanah dari istrinya bahwa setelah kepergiannya dia harus menjaga adik semata wayang nya, Haga menjadi sedikit terbebani. Menurut Haga menjaga bukan berarti harus menikahi, tapi keluarga mendiang istrinya malah berfikir bahwa Haga harus menikahi Siska. "Siapa calon suami kamu? jangan asal ngomong kamu." lanjutnya.


"Ya Aku lah Mas, kamu gak inget pesen almarhum kakak ku? Kamu itu harus jagain Aku, lagian Aku juga pantes kok jadi istri kamu, Aku cantik gak kalah sama kakak Aku. Aku juga punya karir yang lebih menjanjikan dari pada kakak. Aku juga bisa jadi Ibu untuk anak-anak kamu Mas." jelas Siska panjang lebar.


"Aku memang berjanji jagain kamu, tapi gak harus menikah sama kamu. Kamu kami mau nikah, maka kamu harus cari lelaki lain, dan bukan Aku." Jawab Haga lalu mengambil beberapa dokumen lagi untuk di tanda tangani.


Haga yang melihatnya berlalu tanpa pamit hanya bisa menggelengkan kepala nya. Masak iya dia harus menikahi adik iparnya yang sama sekali gak dia suka sih? Haga gak mau. Yang terpenting sekarang bukanlah harus menikah lagi cari ibu baru buat Mutia. tapi kebahagiaan Mutia lebih penting. Apapun yang Mutia inginkan Haga pasti akan mengabulkan jika itu baik. Termasuk jika Mutia juga ingin ibu baru.


Haga gak ambil pusing memikirkan merajuknya Siska. Dia langsung kembali tenggelam dengan berkas yang menumpuk di meja nya.


Sementara itu, Siska yang merasa sangat kecewa dengan jawaban Haga, berjalan ke parkiran mobilnya untuk menenangkan diri. Bukan sekali dua kali Haga bersikap acuh tak acuh, tapi setiap kali mereka bertemu akan selalu seperti itu.


Siska emang centil, dan sebenarnya dia juga bukan orang yang gampang sekali merayu pria. Siska adalah orang yang juga baik. Tapi ketika Kakak nya akan pergi, dia berpesan pada Siska bahwa Siska harus menjaga anak dan suaminya. Ayu, mendiang istri Haga berpesan bahwa Siska harus menikah dengan Haga agar Siska bisa menjaga Mutia.

__ADS_1


Tapi ketika Siska memberikan penjelasan akan hal itu pada Haga, Haga menolaknya karena gak mungkin istrinya akan menyuruh nya menikahi Siska. Maka dari itu, untuk mendapatkan perhatian Haga, selama ini Siska harus bersikap tak tahu malu. Mungkin dengan begitu suatu saat Haga akan mempertimbangkan dia menjadi istri nya dan ibu untuk keponakannya.


Sebenarnya pada awalnya juga Siska tidak mencintai Haga, namun lambat Laun dengan seiring berjalannya waktu Siska ingin merebut hati Haga, perlahan tapi pasti dia mulai mencintai Haga. Sekarang Siska harus bekerja lebih keras lagi untuk meluluhkan hati Haga, pikirnya.


Siska menjalankan mobilnya menuju kediaman Haga, sudah lama dia tak bertemu dengan keponakan cantiknya, dia juga akan bertemu dengan calon mertuanya.


Ada sedikit kebahagiaan di hatinya ketika mengingat senyum manis bocah 3 tahun itu. Sambil mendengarkan musik, tak ayal Siska juga terkadang ikut menyanyikan lagu yang tengah di putar.


Hanya butuh waktu setengah jam untuk sampai ke rumah Haga dari kantor nya. Siska memarkirkan mobilnya di depan rumah, dia turun dengan membawakan beberapa tas yang berisikan oleh-oleh untuk calon mertua dan calon anaknya.


"Assalamualaikum... Tante, calon mantu Dateng nih.." Siska berteriak di luar pintu.


"Waalaikum salam.... eh, Siska Dateng? ayo masuk.." Bu Susi menyambut kedatangan Siska dengan hangat. bagaimanapun juga, Siska termasuk gadis yang sopan di hadapan orang tua, apalagi calon mertuanya.


"Apa kabar Tante? sehat? nih, aku bawain Tante oleh-oleh. Ada juga itu bungkusan yang itu punya Mutia." Siska berkata sambil menunjuk paper bag untuk Mutia.


"Alhamdulillah Tante sehat, Makasih loh, kok kamu repot-repot bawain hadiah segala..." Bu Susi menerima pemberian Siska.


"gak repot kok Tan, " Siska tersenyum ramah. "Mutia mana?" Siska celingukan mencari sosok yang paling di rindukan.


"Oh, Mumut udah ada yang jaga, sekarang dia lagi berada di rumah pengasuh nya." Jawab Bu Susi.

__ADS_1


"


__ADS_2