
Sampai dirumahnya, Rahayu merasa lelah, tetapi masih tetap harus semangat demi sang buah hati. Malam ini Rahayu berencana membuat tempe goreng bumbu, di padu padankan dengan saus sambal kecap kesukaan putrinya. Untuk sayur, Rahayu menumis kangkung yang dia bawa pulang dari rumah makan.
Bukannya Rahayu tidak bisa membawa pulang makanan di sana, tapi Rahayu lebih memilih makan masakan yang baru di masak karena merasa itu jauh lebih segar.
Rahayu akan masak sehari 2 kali. Di pagi hari dan malam hari. Memasakkan makanan dan dicintai rasa masakannya oleh keluarga adalah hal yang paling membahagiakan bagi Rahayu.
Setelah masakan jadi, Lili pulang di antar neneknya, waktu yang tepat untuk makan malam.
"Makan dulu ya Bu, Ayu udah masak." Tawar Rahayu pada ibunya.
"Ibu makan dirumah aja, Ayahmu menunggu," jawab ibu singkat.
"Oke.. gak duduk dulu Bu? Ada yang mau Ayu omongin."
"Ya udah, Ibu telpon Ayahmu dulu."
Setelah mendapat persetujuan Suaminya, Ibunya tinggal dan makan malam bersama dengan anak dan cucunya.
"Kamu mau ngomongin apa?"
"Gini Bu....." Rahayu menceritakan kejadian siang ini kepada ibu nya. Mulai dari gadis kecil bernama Mutia yang menarik ujung bajunya, sampai kepada tawaran Bu Susi untuk menjadi pengasuh cucunya. "Menurut Ibu gimana?" sambung nya.
"Kalo ibu sih ya gapapa, karena kan untuk tambak udah ada yang ngurus, rumah makan kamu juga ada yang ngurus, kamu cuma perlu datang sesekali kerumah makan tanpa harus kerja kan," Jawab Ibunya. "Kamu ini sebenarnya udah enak loh Yu, tinggal duduk tenang aja semua udah ada yang ngerjain dan terima duit aja, lagian kenapa kamu masih repot-repot terjun kelapangan coba?" sambung nya.
"Karena Ayu gak ada kegiatan Bu, hampir mati kebosanan semenjak Mas Annas gak ada," Rahayu berkata murung.
__ADS_1
"Iya Ibu ngerti kok, ya udah terserah kamu gimana enaknya aja Yu, yang penting anak kamu juga terurus. Jangan nanti ngurusin anak orang, tapi anak sendiri terlantar." Ibu menasehati.
"InsyaAllah Ayu bisa Bu, lagian Ayu kasian dengan anak itu, kayaknya gak pernah dapet kasih sayang Ibunya."
"Memangnya Ibunya kemana Yu?" tanya Bu Rima.
"Ayu gak tau Bu, Neneknya gak bilang apa-apa sama Ayu tadi."
"Ya udah kalo gitu, semua keputusan ada sama kamu." Ibu menepuk bahu Rahayu memberikan semangat dan dukungan atas keputusannya. "Tapi ingat Yu, kamu ini janda, kalo Ayah anak itu masih ada Ibunya, kamu harus hati-hati, Ibu gak mau anak ibu disebut-sebut sebagai pelakor."
"Iya Bu, Ayu ngerti. Makasih ya Ibu mau dengerin curhatan Ayu." Ayu memeluk Ibunya seperti ketika saat Rahayu bermanja-manja ria. "Makasih juga udah nasehatin Ayu."
Selepas mereka mengobrol, saatnya untuk Ibu Rahayu kembali kerumahnya. Rumah mereka tidak terlalu jauh, hanya beda lorong saja.
"Oh ya? Lili punya PR apa sayang?" Rahayu bertanya dengan lembut pada anaknya.
"Kata Bu guru, suruh buat gambar kolase bentuk hewan dari kertas rogami."
"Kertas apa nak?" Rahayu gak salah denger kan?
"Kertas rogami Bundaaa..."
Rahayu tertawa hingga perutnya sakit mendengar jawaban putrinya. "Haduuuhh.... bukan kertas rogami sayang.. tapi kertas origami..." Rahayu memperbaiki kata-kata anaknya.
"Iya.. itu maksud Lili Bun,, Ehehehe"
__ADS_1
"Jadi di apain nanti gambar nya? kertas nya di gimanain?"
"Ini, PR nya dihalaman 15. Coba Bunda baca." Laili memberikan buku sekolahnya pada Rahayu.
"Oh... ini.. ini sih gampang, Bunda aja yang buat gimana?" tawar Rahayu.
"nanti kalo bunda yang buat terus nilainya untuk Bunda donk?" Tanya Laili.
"Ya iya, kan bunda yang buat, Bunda kan juga mau dapet nilai sayang,,," Rahayu tertawa menggoda anaknya.
"Gak bisa, ini tugas Lili, Bunda gak boleh buat, biar Lili aja yang buat, Lili juga mau dapet nilai bagus," Laili berkata dengan sungguh-sungguh.
"Nah.. itu baru anak Bunda, tugas sendiri , harus kerjain sendiri, biar jelek tapi usaha kamu sendiri." Rahayu menepuk kepala anaknya sayang. "Besok Bunda beli bahan-bahannya ya," Laili mengangguk setuju dan kembali mengerjakan PR nya yang belum selesai.
"Bunda, nanti kalo Lili udah siap ngerjain PR nya, lili boleh bobok sama Bunda ya.."
"Loh, kenapa sayang? biasanya berani bobok sendiri?" Tanya Rahayu penasaran. Sebab, anak gadis nya ini sudah minta tidur sendiri sejak tahun lalu dan belum pernah minta tidur bareng orang tuanya lagi.
"Lili kangen ayah, Bunda..." Laili berkata dengan raut wajah sedih, hal itu membuat Rahayu juga ikut merasakan kesedihan anaknya.
"Ya udah, nanti bobok sama Bunda, terus nanti Bunda bangunin sholat malam untuk doain Ayah kamu ya nak,"
Laili mengangguk setuju. "Kalo udah siap PR nya terus cuci kaki, ambil wudhu, sholat isya dulu baru tidur," Rahayu mengingatkan.
"Iya Bun.." jawab Laili.
__ADS_1