
Pagi ini Mutia bangun dengan semangat, mengingat dia akan bertemu dengan tante cantik yang dia panggil Mama kemarin, betapa senang hatinya. "Nenek... Nenek... ayuk..." Mutia berlari mendatangi Nenek nya yang sedang membuat sarapan.
"Mumut mau kemana pagi-pagi?" Tanya Bu Susi.
"Mama..." jawabnya polos.
Bu Susi mengerti, pasti anak ini mengajaknya untuk bertemu dengan Rahayu."Sabar ya sayang, nanti Tante Ayu pasti bakal kemari kok, Mumut tunggu di rumah aja ya sayang." Bujuk Neneknya.
"Gak mau.. mau Mama..." Mutia mulai merengek.
"Ya udah nanti kita jumpain Tante Rahayu ya.." Mutia pun mengangguk antusias ketika nenek nya berjanji akan mengajaknya bertemu dengan Rahayu.
Setelah sarapan, Bu Susi mengajak Mutia mandi, setelah itu Mutia menonton TV kartun kesukaan nya. Bersama dengan sang kakek, pak Firman Dani.
"Cucu kakek mau nonton apa?" Tanya Pak Firman ketika dia memangku Mutia.
"Pombob.. Mumut mau Pombob.." jawabnya semangat.
"Oke.. oke,, kakek carikan film Pombob." Mereka pun nonton dengan gembira.
Mahaga? Jangan di tanya, pagi-pagi sekali bahkan matahari belum menunjukkan wajah malu-malu nya dia sudah pergi entah kemana, yang keluarganya tau dia hanya pergi bekerja. Kalau sudah keluar pagi-pagi, berarti tempat yang akan di datanginya adalah tempat yang jauh.
Walaupun workaholic, tapi Mahaga selalu membiasakan diri untuk pulang ke rumah bertemu dengan anaknya semenjak ketiadaan istrinya. Dia gak mau anak nya menjadi jauh dengan dia karena kesibukannya di luar rumah.
Menjelang siang, dan juga karena sudah bosan, Mutia mulai teringat lagi dengan Rahayu, mengapa hingga saat ini belum tampak juga kemunculan Rahayu di rumahnya.
Bu Susi juga penasaran, apa yang membuat Rahayu belum menelponnya. Dia menunggu dan terus menunggu. Tapi hingga malam menjelang masih gak ada kabar dari Rahayu.
Tepat saat Bu Susi hendak keluar dari kamar Mutia, dia mendengar Mutia mengigau memanggil Mama...mama... di dekati cucunya dan di sentuh nya, alangkah terkejutnya dia mendapati badan Mutia sangat panas. Segera dia memanggil suaminya untuk bergegas membawa Mutia ke rumah sakit.
Bu Susi juga menghubungi Mahaga yang sedang lembur untuk segera datang ke rumah sakit melihat kondisi anaknya. Tanpa ba bi bu, Mahaga langsung datang dan membiarkan pekerjaannya tertunda. Pekerjaan itu penting, tapi Anak jauh lebih penting.
"Kenapa bisa demam Bu?" Tanya Mahaga.
"Ibu gak tau Ga, dia mengigau memanggil Mama,, Ibu kira dia ngigau seperti biasa, tapi rupanya setelah Ibu cek, badannya panas." Jawab Bu Susi.
__ADS_1
"Ya udah, Ibu istirahat, biar Haga yang jaga disini, Ibu bisa tidur dulu."
"Apa mungkin karena dia merindukan Rahayu ya Ga?" Tanya Bu Susi.
"Mana mungkin Bu, Rahayu itu siapa, dia bukan mamanya, mana mungkin Mutia rindu sampe segitunya." Haga mengelak mengakui.
"Kalo beneran gimana?" tanya Ibu lagi.
"Gak mungkin.."
Setelah percakapan yang tak berkesudahan itu, akhirnya ruangan itu tenang, menyisakan Haga yang duduk di samping bangsal anaknya sambil menggenggam tangan mungil yang bebas dari infus. Melihat wajah pucat anaknya membuat hati Haga sakit. Bahkan untuk Haga meninggalkan dia beberapa hari karena pekerjaan luar kota juga anaknya gak pernah sakit.
Disini Haga hanya kesal apa mungkin yang di katakan Ibu benar adanya, apakah anak nya merindukan wanita itu? masak sih? Haga gak habis pikir.
Sepanjang malam Haga tak bisa memejamkan matanya, masih menolak kenyataan jika anaknya benar-benar merindukan wanita yang gak jelas asal usulnya. Tapi jika ingin di pungkiri, anaknya selalu mengigau memanggil mama ditengah-tengah ambang kesadarannya.
Hampir mendekati subuh barulah Mutia bisa tidur nyenyak, setelah melewati masa kritis di demamnya. Saat ini suhu badannya sudah menurun, yang membuat Haga tenang dan santai. Dia takut sekali hal-hal yang gak baik akan terjadi. Tapi mungkin ini hanya sebuah pemikiran.
Setelah merenungkan dan melihat keadaan anaknya, Haga mau tak mau harus berkompromi dengan hatinya, membiarkan wanita yang bernama Rahayu mengasuh anaknya.
"Bu, Aku izinkan wanita itu mengasuh Mutia,"
"Yakin?" tanya Ibu.
"Kenapa ibu tanya gitu? sudah dari malam kemarin kan Aku izinin."
"Izinmu malam itu palsu Haga.."
"Maksud Ibu?" Haga bingung.
"Seperti Ibu baru kenal kamu, kamu bilang kamu izin, tapi hatimu belum ikhlas sepenuh nya jika anakmu memanggil orang lain sebagai mamanya." Bu Susi menjelaskan. "Bukan Ibu maksa kamu juga buat nikahin dia, tapi setidaknya pikirin kebahagiaan anak kamu, gak harus menikah juga kan kalo Rahayu mau di panggil Mama? bisa juga Mutia di angkat sebagai anak oleh nya." tambahnya.
"Iya Bu, Aku ngerti. Jadi tolong Ibu panggil dia buat jenguk Mutia." Kata Haga pasrah.
"Ibu gak punya nomor hapenya." Jawab ibu santai.
__ADS_1
Lah?! Haga tercengang, kenapa ibunya memaksa menerima wanita itu sebagai pengasuh tapi gak punya nomor untuk di hubungi?
"Jadi maksudnya gimana Bu?" Tanya Haga bingung.
"Ibu gak punya nomor nya, kemarin Ibu cuma ninggalin kartu nama, jadi Ibu juga lagi nunggu keputusan dia."
Sombong sekali dia, batin Haga. Baru jadi pelayan rumah makan aja pun udah payah di hubungi.
"Ibu sengaja gak minta nomor hape nya, Ibu suruh dia mikir-mikir dulu."
Haga menaikkan sebelah alis nya. Kok Ibu tau apa yang Aku pikirin, batinnya lagi.
"Nampak dari wajah mu yang gak seberapa itu Ga.."
"Aku tampan Bu,," Jawab Haga
"Mosok?" Kata Ibu.
"Aku anak Ibu loh,"
"Lah terus? masih kalah ganteng sama Bapak mu." Ibu melenggang pergi ke kamar mandi
Haga hanya bisa geleng kepala melihat tingkah Ibu nya.
"Sekarang tugas kamu cari itu Rahayu bawa kemari buat jenguk Mutia." Ibu berbisik di telinga Haga yang sedang memandangi Mutia.
"Astaghfirullah al Adzim Bu,, Aku kaget loh.. kalo ngomong itu ya yang wajar jangan tiba-tiba berada di belakang Aku." Haga menepuk dadanya yang bidang karena saking kaget nya dengan tindakan Ibu nya. "Lagian Aku mau cari tuh pengasuh kemana coba?" tanya Haga lagi.
"Pergi sana ke rumah makan Serambi, dia bekerja disitu."
"Yang deket gedung olahraga itu?"
"Iya, disana. Udah sana cepet pergi, Ibu mau nanti waktu Mutia bangun Rahayu udah ada disini." Perintah Ibu.
Tak menunggu lama lagi, Haga langsung bergerak menuju rumah makan Serambi. Seingatnya dia juga pernah makan disitu, dan kantornya selalu jadi langganan delivery di rumah makan itu. Jadi tak pwrlu bagi Mahaga Dani untuk kesasar dalam mencari cinta.. Eh, mencari pengasuh buat Mutia, anak kesayangannya.
__ADS_1