
"Raaa,,ikut aku bentar yu aku mau bilang sesuatu sama kamu boleh"..tanya lembut Gabriel sembari berhati hati agar Laura tidak mengalami trauma saat diajak ajak orang. "Boleh riel ada apa?". Tanya balik
"Aku mau tanya ra tapi aku ingin kamu jujur jawabnya,,apakah kamu selama ini sudah punya pacar apa belum?". Gabriel pun menunggu jawaban Laura dengan harap harap cemas.
"Sebenarnya aku udah punya pacar riel,tapi jujur aku merasa tidak nyaman banget karena cowo aku suka kerjanya tuh diluar kota terus gitu riel dan apalagi setelah ada kamu,aku merasa cinta lama aku yang dulu aku punya itu muncul lagi gitu riel". jujur Laura
Gabriel yang mendengar jawaban itu langsung,bahwa Laura sudah memiliki kekasih rasanya hati Gabriel berkecambuk amat sakit namun ia juga senang saat tau Laura pun memiliki perasaan yang sama,sama dirinya.
Namun Gabriel tetaplah seorang pria gentle men ia hanya ingin Laura ketika ia sedang sendiri tanpa ada ikatan pacaran dengan pria mana pun kecuali untuk dirinya.
"Riel,kamu gpp?aku nyakitin hati kamu ya maafin aku ya..aku gak bisa menunggu kamu tanpa pria manapun". ujar teramat sedih batin Laura saat melihat wajah Gabriel yang semula bahagia namun jadi sedih gara gara mendengar jawabannya itu.
Tak lama Gabriel pun menjadi pura pura senyum dihadapan Laura
"Oh,gitu iya gpp lagian itu hak kamu juga Laura dalam memilih pasangan hidup,kalau kamu senang aku juga ikut senang kok ra". ucap Gabriel yang berpura menahan kesedihan.
"Yaudah aku mau ke kamar mandi dulu ya ra". ucap Gabriel
Setelah Gabriel meninggalkan Laura yang sendirian diluar tak terasa ketika sembari berjalan untuk menuju kamar mandi perlahan air mata Gabriel turun setetes demi setestes membasahi pipinya. Dan,ketika Gabriel sampe dikamar mandi pecah sudah air matanya
"Mengapa aku harus merasakan sesedih seperti ini ya,padahal aku juga yang meninggalkan Laura ketika ia masih pada menginjak 20 tahun maafkan aku Laura". sembari menangis sesegukan ia berbicara didalam hatinya.
Sementara Laura yang masih diluar merasa tidak enak hati,dan merasa sangat bersalah. Ia memutuskan untuk ke kamar mandi menyusuli Gabriel takut Gabriel kenapa kenapa
__ADS_1
Setelah itu Laura mengetuk pintu kamar mandi itu...
TOK TOK TOK
**RIEL ! **
Masih didalam kah? tanya Laura dari luar kamar mandi,
"Sebentar ra perut aku mules banget soalnya lagi diare" ujar Gabriel sembari berbohong agar Laura tidak curiga akan kondisinya saat ini, namun Laura tetap percaya saja "Kamu,mau minum obat diare gak?kebetulan aku punya obatnya kamu mau". Tanya Laura yang seolah menjadi dokter siaga untuk Gabriel
"Gak perlu ra nanti juga sembuh kok, gausah repot repot ya" ujar Gabriel yang berteriak dari dalam kamar mandi, tak lama kemudian Gabriel pun langsung keluar dari dalam kamar mandi "Hai ra,kamu mau ke toilet juga kah?". tanya Gabriel kepada Laura. Lalu Laura pun menggelengkan kepalanya "Ohh engga kok riel aku bukan mau ke toilet tapi khawatir aja takut kamu butuh bantuan makanya aku kesini". ujar Laura sembari menjalaskan maksud ia menunggu didepan kamar mandi.
"Oh, iya kirain ada apa diem didepan kamar mandi" ucap Gabriel,lalu Laura pun memberitahu sesuatu kepada Gabriel
"Kalau gitu aku ke kamar duluan ya riel". tersenyum lalu pergi meninggalkan Gabriel yang masih di toilet lantai 1. "Oke ra selamat tidur ra..". sembari berteriak dan masih memandangi punggung Laura yang sudah lebih dahulu naik tangga untuk menuju kamarnya itu. Setelah menaiki beberapa anak tangga tibalah Laura dilantai 3 ia pun langsung bergegas untuk membuka pintu kamarnya. Dan, ia pun langsung merebahkan tubuhnya dikamarnya.
Pagi hari ..
Gabriel yang telah bangun lebih pagi agar ia bisa menyiapkan sarapan untuk dirinya dan untuk Laura. Tiba tiba Laura mencium aroma wangi yang menusuk hingga sampai di kamarnya itu. Laura pun akhirnya bangun dan bergegas untuk turun karena ia penasaran siapakah yang pagi pagi menyiapkan sarapan kalau orangtua nya pasti tidak mungkin karena dari semalam orangtuanya pun belum datang jugaa lantas siapakah yang memasak sepagi ini?
" loh riel kamu udah bangun sepagi ini? aku kira kamu suka bangun siang" ucap penasaran Laura. "Heheh iya ra aku kalau dirumah suka otodidak masak sendiri jadi aku jarang makan diluar atau diresto resto gitu". ucap Gabriel menjelaskan keahlian masaknya
"Jadi hari ini kamu masak apa riel,kok wanginya sampe atas ya kayanya sih enak banget makanannya". Goda Laura sembari menghirup udara wanginya pagi hari didalam rumahnya, "Heheh bisa aja kamu,aku hari ini masak gurame asam manis sama ayam lada hitam ra pasti kamu akan suka deh".
__ADS_1
"tunggu ya ra bentar lagi matang". yakin Gabriel sembari menunggu semua makanannya matang sempurna. "Siap chef Gabriel kalau gitu Lau mau mandi dulu ya ke atas". ucap Laura sambil bergegas buru buru ia ke kamar mandi tempat tidurnya.
Selang sejam Laura yang berada dikamar yang baru saja habis mandi dan Gabriel yang telah meletakan masakannya yang matang itu kedalam piring yang sangat indah bak dihotel yang megah dengan suasana rumah yang begitu indah,diletakan pula makanan tersebut dimeja makan yang masih tertutup rapih agar tidak ada lalat yang mendekati makanan itu,
"Raa, Lauraa ini udah mateng makanannya ra". panggil Gabriel kepada pemilik rumahnya itu, sementara Gabriel menutup seluruh pintu karena ia pun harus mandi dan bergegas untuk mengganti bajunya karena ia harus pulang dan siap siap untuk mengecek ke kantornya lagi.
Ketika Laura yang telah keluar dari kamar mandinya itu lalu sedang bersiap siap dandan, untuk pergi praktek kerumah sakit. Setelah semuanya selesai Laura pun bergegas untuk sarapan dan bertemu dengan Gabriel diruang makan ia menggunakan lift untuk menuruni lantai dasar rumahnya itu.
Ketika Laura sudah sampai didapur ia melihat disekeliling tidak ada aktifitas memasak lagi ia pun langsung menuju ke ruang makannya ia pun tidak melihat adanya Gabriel namun ia hanya melihat 2 buah makanan yang sudah tersaji didalam tutup tiba tiba Gabriel yang baru saja sampai dilantai bawah itu melihat di meja makannya sudah ada Laura.
"Loh ra kamu udah disini aja?" teriak Gabriel dari turun tangga yang masih penasaran, lalu Laura pun membalik badan dan menatap dari ujung kaki hingga ujung kepala Gabriel yang ternyata sudah sangat rapih berdasi,wangi dan bahkan sudah membawa tas kantor nya.
"Eh... iya riel aku udah kok mandinya jadi aku buru buru mau nemuin kamu takutnya kelamaan" ucap Laura sembari tercengir "btw kamu mau langsung berangkat ke kantor ya? tanya Laura
"Iyah nih ra aku makannya dikantor aja ya soalnya buru buru banget hari ini aku ada rapat sama klien". sambil melihat jam tangan yang dipakai ditangannya Gabriel
"Eh tunggu dulu kan kamu belum sarapan riell aku bawain bekel atuh ya?". ucap perhatian Laura.
"Eh, gak usah ra makanan itu buat dirumah aja kali orangtua kamu datang terus laper dan kebetulan aku udah masak banyak buat disini". ucap Gabriel sembari pamitan juga ia besok tidak bisa menemani Laura dirumahnya lagi.
"Kalau gitu aku juga mau pamit pulang kerumah,aku gak bisa nemenin kamu lagi ya ra soalnya gak enak kalau diliat tetangga kita nginep berdua dirumah kamu,apalagi kamu cewe ra". Gabriel pun langsung memberikan pengertian penjelasan agar ia tidak salah paham. Dan Laura pun memikirkan omongan Gabriel dengan baik baik yang ternyata memang benar tuhan mungkin tidak suka kalau ada cewe cowo yang tinggal satu rumah tanpa ada ikatan apapun ucap laura didalam hatinya
"Yaudah riel kamu juga bener,aku juga harus pergi praktek ke rumah sakit". ucap Laura
__ADS_1
Dan hati Gabriel pun lega akhirnya dia tidak dicurigai kalau sebenarnya ia pulang karena cintanya bertepuk sebelah tangan dengan ia keluar dari rumahnya Laura mungkin Gabriel bisa menjalankan hidupnya dengan tenang tanpa ada bayang bayang dari Laura lagi dihidupnya.