
Di sebuah ruangan yang didominasi warna putih, duduklah seorang wanita cantik di depan seorang Dokter tampan. Dengan seksama ia mendengarkan semua yang diucapkan oleh Dokter tersebut. Sekilas senyuman cerah pun terbit di bibir yang ranum itu. Matanya berbinar menyiratkan kebahagiaan yang teramat sangat. Akhirnya, setelah sekian lama dalam penantian, saat itu akan datang juga.
Kebahagiaan dalam keluarganya akan menjadi lengkap dan sempurna.
Kehadiran buah hati yang telah lama dinantikan pun akan menjadi nyata. Sejenak ia mengelus elus perutnya yang masih rata." Terima kasih karena mau hadir dalam rahim Bunda sayang,,,"bisiknya lirih tak terasa buliran bening itupun terjun bebas dari kedua manik matanya.
Dokter tampan itu hanya bisa tersenyum senang, ikut merasakan kebahagiaan dari sahabatnya. "Selamat ya Mel,,,penantian panjangmu akan menjadi nyata, meski harus menunggu beberapa bulan lagi."
Dokter Raditya menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya. Senyumnya terus mengembang menatap kearah sahabat yang tumbuh sedari kecil bersamanya. la sungguh sangat bahagia, penderitaan Melati akan segera berakhir dengan hadirnya nyawa baru yang kini telah bersemayam di rahim sahabatnya itu.
Ia sungguh miris melihat kehidupan rumah tangga sahabatnya selama ini yang jauh dari kata bahagia. Meskipun bergelimang harta tidak bisa menjamin kebahagiaan di dalamnya. Justru ia semakin tersiksa batin, saat mertuanya selalu memaki dengan kata kata kasar yang tidak pantas untuk di dengar telinga.
Karena kekurangan sahabatnya yang dinyatakan tidak bisa memberikan keturunan, saat pasangan suami istri itu melakukan tes kesuburan. Meskipun suaminya sangat mencintai Melati, namun lambat laun sikapnya mulai berubah karena hasutan Mamanya.
Kekecewaan mertuanya pada Melati yang tidak bisa memberikan keturunan untuk putranya, membuat wanita paruh baya itu melampiaskan pada menantunya dengan kata kata kasar yang sangat menyakitkan hati Melati, dan tidak jarang juga menyakiti fisik menantunya.
Melati yang mengalami tekanan batin, membuatnya semakin terpuruk akan nasib rumah tangganya. Apa lagi saat Mama mertuanya menyuruh suami yang sangat dicintainya untuk menikah lagi.
"Sungguh malang nasibmu Mel,,," gumam dalam hati Dokter Raditya menatap iba pada sahabatnya. Sedikit sesal dihatinya karena dulu tidak memperjuangkan cintanya pada Melati.
Andai dulu Melati mau menjadi istrinya, mungkin hidupnya tidak akan semenyedihkan sekarang. Karena ia akan berusaha sekuat tenaganya untuk membahagiakan orang yang dicintainyadicintainya, meski dulu masih dalam kesusahan.
__ADS_1
"Dokter Radit,,," panggil Melati yang tidak mendapat sahutan dari empunya nama.
"Dokter Raditya,,," Melati sedikit meninggikan suaranya untuk menyadarkan Dokter Radit dari lamunannya.
"Eh,, iya Mel,,,ada apa?" Dengan sedikit gagap Dokter Radit membalas Melati.
Suara kekehan terdengar dari bibir Melati melihat ekspresi keterkejutan dari Dokter Radit, timbul di pikirannya untuk menjahili sahabatnya.
"Lagi ngelamunin siapa,,, oh,,, cewek yang memakai baju merah kemarin ya? Udah kalau kangen samperin aja,,,dia juga kangen tuh,,,he,,,he,,,he,,,dari pada fokus kamu terganggu menahan rindu, kasihan nanti pasienku jika kau salah menganalisa penyakit mereka karena rindumu padanya. Selain itu jangan sampai kau terlihat bodoh di depan pasienmu nantinya, ha,,, ha,,,ha,,,"
Melati semakin melebarkan senyumnya saat menatap wajah Radit yang membelalakkan mata kearahnya tidak terima dengan perkataan Melati.
"Kau jangan menggodaku Mel,,,kalau tidak mau aku jadikan penggantinya sekarang." Senyuman licik diikuti kerlingan mata sebelahnya, Raditya mencoba membalikkan keadaan, menggoda Melati yang bergidik ngeri melihat ulah sahabatnya.
"Dasar gila,,, aku tak mau meladenimu lagi, aku mau pulang, jangan sekali kali seperti ini lagi, nanti kalau ada yang lihat bisa timbul fitnah diantara kita, ingat itu, dan makasih untuk semua nya kabar baik yang kau beri hari ini."
Melati mendorong tubuh Radit agar menjauh darinya, lalu bangkit berdiri dengan muka masam dan ditekuk melangkah keluar dari ruang kerja sahabatnya.
Dokter Radit tersenyum penuh kemenangan sudah berhasil membuat Melati kesal. Padahal jauh di lubuk hatinya, ia berharap bisa berdekatan terus dengan Melati, namun apa daya, nasib tidak berpihak padanya. Cinta masa kecilnya tidak akan pernah bisa dimilikinya. Namun begitu, ia cukup puas bisa mencintai Melati dalam diam.
Sepeninggal Melati dari ruangannya, ia pun menghela nafas berat melihat seorang wanita yang sangat ingin dihindarinya masuk kedalam ruangannya sekarang dengan senyum terus mengembang menghiasi bibir merah merona itu.
__ADS_1
"Sayang,,, waktunya makan siang, ayo kita cari makan diluar, bukankah setelah ini kau bebas dari tugasmu?" Sebelum mendapat persetujuan dari Radit, wanita itu telah menarik tangan Radit agar mengikutinya.
Sepanjang perjalanan, tangannya tak pernah lepas dari lengan Radit, ia bergelayut manja di mm mm lengan kekar pria yang sebentar lagi akan menjadi tunangannya. Tanpa memperdulikan tatapan sekelilingnya yang seakan mengomentari kelakuannya, wanita itu tidak memperdulikannya, ia tetap posesif pada Raditya.
Sedangkan Radit yang merasa risih dengan ulah wanita itu mencoba untuk melepaskan tangannya dari dekapan wanita ini. Dengan tatapan yang dingin juga datar, ia meninggalkan wanita tadi setelah berhasil terbebas dari cengkeraman erat tangan yang bergelayut manja di lengannya.
"Sayang,,, tunggu,,," dengan sedikit berjalan cepat wanita itu mengejar Dokter Radit yang telah jauh berjalan di depannya.
Melati yang kini berada dalam sebuah taxi pun mengurungkan niatnya untuk pulang ke rumah. Tatapannya tajam terarah pada dua sosok yang sangat dikenalnya. Kecemasan juga kekhawatiran kini terlintas di benaknya.
"Bukankah itu Mas Tian dan Mawar? Untuk apa mereka ke hotel di saat jam makan siang? Ya Allah,,, kenapa hatiku merasa tidak enak, firasat apa ini, apa mungkin mereka,,," Melati tidak melanjutkan katanya yang sangat bertentangan dengan hati juga pikirannya sekarag.
Namun karena rasa penasaran yang begitu dalam, akhirnya ia memutuskan untuk turun dari taxi, melangkahkan kakinya masuk ke dalam hotel bintang lima, dimana suami dan adik tercintanya kini berada.
Ia pun menuju resepsionis hotel berusaha menanyakan keberadaan suami juga adiknya.
"Siang Mbak,,, ada yang bisa saya bantu?" Sapa salah satu resepsionis dengan sopan disertai senyum ramahnya saat Melati tepat berada di depannya.
"Siang Mbak,,, bisa minta tolong, apa ada tamu yang bernama Tian Anggara disini atau Mawar?" Tanya Melati dengan senyum manisnya meski hatinya sedang berkecamuk tidak karuan, entah mengapa ada firasat buruk yang akan terjadi, namun ia berusaha menyembunyikan kegelisahannya.
"Maaf Mbak,,, kami tidak bisa memberikan informasi tentang tamu kami pada orang lain tanpa seijin dari orang yang bersangkutan, karena itu privacy mereka, dan pihak hotel juga memiliki kebijakan sendiri untuk tamu tamunya. Maafkan saya,,, tolong dimengerti kebijakan hotel kami."
__ADS_1
Raut kekecewaan jelas tergambar di wajah Melati, ia juga paham maksud dari resepsionis tadi. Akhirnya ia pergi dengan perasaan yang tak karuan menuju resto di hotel itu setelah berterima kasih pada resepsionis tadi. Ia berniat menunggu suami juga adiknya keluar dari hotel tersebut.
bersambung,,,,