MAHLIGAI YANG TERKOYAK

MAHLIGAI YANG TERKOYAK
bab 5


__ADS_3

Sebuah hubungan akan tetap bertahan jika dilandasi akan adanya kepercayaan pada pasangannya, kejujuran juga kesetiaan kunci utamanya. Jika kita sudah tidak jujur pada pasangan, maka rawan pengkhianatan itu akan terjadi. Bagaikan kaca yang sudah retak, tidak akan mungkin bisa kembali utuh lagi. Luka yang sudah tergores, tak kan mungkin bisa terlupa meski waktu telah berganti. Apa lagi jika trauma itu tiada henti membayangi. Begitu pun dengan Melati saat ini, hatinya benar benar hancur hingga serpihan serpihan itu tidak mungkin bisa bersatu lagi.


"Hikkss,,,hikksss,," tangisnya terus membasahi kedua pipinya, tubuhnya masih bersimpuh di lantai ruang utama keluarga Anggara. Setelah tadi tubuhnya dihempas oleh Mama mertuanya hingga jatuh membentur sofa yang ada diruangan itu. Luka hati juga fisiknya membuatnya benar benar hancur, ingin ia menyerah dengan semuanya, namun karena teringat jika kini di dalam rahimnya telah ada kehidupan yang lain, ia pun mencoba bersabar, ikhlas menerima semua cobaan hidupnya.


Tian yang baru saja pulang bersama dengan Mawar terkejut melihat kondisi istrinya yang memprihatinkan.


"Sayang,,, kenapa kau menangis, ada apa?"


Tian pun melangkah mendekati istrinya, berniat untuk membawa tubuh istrinya ke kamar.


"Jangan sentuh tubuh wanita kotor itu dengan tanganmu Tian,,,!" Bentak Mama ya dengan nada tinggi yang menggema di seluruh ruangan. Matanya tersirat amarah yang memuncak. Bagaimana ia tidak marah jika di resto hotel tadi ia telah dipermalukan oleh Aditya yang mengusirnya dengan paksa meninggalkan hotel tersebut. Apa lagi peristiwa itu terjadi saat teman teman sosialitanya sudah berkumpul di resto hotel tempat mereka akan melakukan kocok arisan sosialitanya.


"Ma,,, apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa Melati seperti ini, apa Mama menyiksanya lagi? Kesalahan apa yang dia perbuat hingga Mama tega menyiksanya seperti ini?"


"Karena dia memang pantas untuk disiksa, wanita murahan, j*l*ng seperti dia tidak pantas menjadi istrimu, cari saja wanita yang lain, yang bisa dibanggakan nantinya, buang saja sampah yang menyakitkan mata itu!"

__ADS_1


Tian hanya menghembuskan nafasnya berat, ia tahu jika Mamanya hanya ingin mencari cari kesalahan istrinya, agar bisa memisahkan mereka.


Ia pun tak menghiraukan ucapan Mamanya, segera mengangkat tubuh istrinya yang masih terisak berniat membawa tubuh Melati ke dalam kamar mereka.


Namun langkah kakinya terhenti akan ucapan seseorang.


"Turunkan aku Mas,,, dan tolong jangan sentuh aku sebelum aku siap."


Tian terkejut dengan ucapan istrinya, hingga ia pun terdiam terpaku sesaat untuk mencerna arti ucapan istrinya. Hatinya tiba tiba kalut tak karuan, pikirannya pun bekerja keras sekarang. Apa benar wanita yang dilihatnya di hotel sekilas tadi adalah Melati. Dilihat dari sikap dingin istrinya ia bisa merasakan ada yang tidak beres.


"Kau bicara apa sih sayang, kenapa aku tidak boleh menyentuhmu, apa salahku hingga kau hukum aku seperti ini?"


"Sampai kapan pun aku tidak bisa mengganti posisi kakak dihatimu Mas,,," bisiknya dalam hati yang entah mengapa begitu menyakitkan hati juga menyesakkan dadanya.


Melati yang melirik kepergian adiknya hanya bisa menutup matanya dengan air mata yang terus merembes keluar.

__ADS_1


"Kau kenapa sih Mel,,, tingkahmu aneh hari ini, padahal pagi tadi kamu baik baik saja?"


Tian terus melangkahkan kakinya hingga mereka tiba di dalam kamar yang dituju. Perlahan Tian mendudukkan istrinya di tepi ranjang. Sebuah kecupan akan mendarat di kening Melati namun dihindari olehnya. Hingga Tian mencium ruang yang kosong.


"Sayang,,, ada apa denganmu?" Pertanyaan itu pun terulang kembali, namun Melati justru diam tanpa menjawab, melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


"Maafkan aku Mas, tidak bisa menjadi istrinya yang baik untukmu, hatiku masih terlalu sakit akan pengkhianatan mu."


Deg


Jantung Tian seakan berhenti berdetak mendengar ucapan lirih Melati yang kini tubuhnya telah hilang di balik pintu kamar mandi.


"Apa kau sudah tau Mel,,, maafkan aku,,,"


Tubuh Tian terduduk lemas di tepian tempat tidur. Tak terasa buliran bening pun mengalir dari sudut matanya.

__ADS_1


"Aku memang pengecut,,,"


bersambung,,,


__ADS_2