
"Assalamualaikum Bunda,,," setelah mengetuk pelan pintu kamar pemilik panti asuhan, Melati perlahan membukanya. Nampak seorang wanita paruh baya sedang tidur berbaring dengan selimut menutupi sebagian tubuhnya.
"Waalaikum salam Mel,,, masuklah,,, sudah larut malam kenapa kamu belum tidur, Nak?"
Pemilik panti yang di panggil Bunda oleh Melati pun bangun dari baringnya setelah Melati masuk lalu duduk di pinggir ranjangnya.
""Kamu kenapa Mel,, kok jadi bengong, ada perlu apa ke kamar Bunda?" Masih bersandar di kepala ranjang, pemilik panti menatap Melati dengan penuh kasih sayang. Ia pun mendekatkan tubuhnya lalu duduk di tepi ranjang berdampingan dengan Melati.
Tangannya menggenggam tangan Melati yang terlihat bingung untuk memulai berbicara.
"Mel,,," panggilnya lembut yang membuat Melati tersadar dari lamunannya.
"I,,iya Bunda,,," jawabnya sedikit gagap.
__ADS_1
"Kamu kenapa sayang,,, jangan buat Bunda khawatir, kalau ada masalah yang mengganjal di hatimu, ceritakan pada Bunda, siapa tahu Bunda bisa membantumu."
Dengan menepuk nepuk pelan genggaman tangan Melati, pemilik panti berusaha untuk menenangkan Melati. Ia bisa merasakan luka hati Melati atas perlakuan mertua juga suaminya. Namun ia tidak mau terlalu dalam ikut mencampuri urusan rumah tangga Melati jika tidak Melati yang memintanya. Karena ia yakin, wanita yang duduk disampingnya sekarang bisa melalui semua cobaan yang telah digariskan untuk hidupnya. Karena ia tahu, Melati gadis yang sabar, ikhlas dengan semua cobaan hidupnya sedari kecil.
Melati pun menghela nafas pelan," Bunda,,, Mel minta ijin pamit kembali ke rumah suami Mel, karena Mawar,,,hikkss,, hikkss,,," perkataan Melati terhenti akan Isak tangis yang sejak tadi telah di tahannya, namun terasa sesak di dadanya hingga tumpahlah sudah semua cairan bening dari kedua pelupuk matanya.
"Mel,,, jika kamu belum sanggup menerima semuanya lebih baik sementara kamu tenangkan dirimu disini dulu, Bunda tidak mau melihatmu seperti kemarin sayang,,," buliran bening pun mengalir dari sudut matanya, sekeras apa pun Bunda mencoba untuk tidak menangis, berusaha terlihat kuat di depan Melati, namun nyatanya dihadapkan dengan fakta yang membuatnya hancur berkeping keping saat melihat anak yang selama ini dirawatnya dengan penuh kasih sayang, jangankan untuk kekerasan fisik, membentak saja tidak pernah, telah mengalami penyiksaan lahir juga batin oleh keluarga suaminya.
"Mel,,, Bunda hanya ingin melihatmu bahagia Nak, meskipun Tian salah satu donatur utama di panti ini, jika kamu tidak bahagia hidup bersamanya, lebih baik kamu tinggalkan dia, raih kebahagiaanmu sendiri, Bunda yakin, kamu pasti bisa melewati masa masa susah ini."
Angin malam masuk menyusup melewati ventilasi udara yang berada di kamar, membuat suasana semakin terasa dingin. Bunda pun mengambil selimut untuk menutupi tubuhnya yang terasa dingin. Maklumlah di usianya yang sudah setengah abad membuatnya rentan dengan hawa dingin yang menyerang.
Melati pun membantu menutupi tubuh Bunda dengan selimutnya.
__ADS_1
"Melati harus kembali Bunda demi Mawar,,," meskipun hatinya terasa terkemas remas mengingat pengkhianatan adiknya, namun ia juga tidak bisa meninggalkan Mawar karena janji yang sudah terucap pada kedua orang tuanya, akan menjaga Mawar selama hidup mereka tidak akan terpisah.
"Apa kamu sudah yakin dengan keputusanmu,. setelah ini pasti tidak ada jalan kembali lagi jika kamu sudah memasuki rumah itu sayang,,,apa kamu bisa kuat nantinya?"
Sambil membelai rambut Melati, Bunda menatap dalam manik mata itu yang terlihat lelah dengan beban hidupnya.
"Melati akan kuat Bunda menghadapi semuanya, karena doa Bunda juga orang orang yang menyayangiku akan selalu menguatkanku."
Melati mencoba terlihat tegar di depan orang yang sudah memberikan kasih sayangnya selama ini padanya, meski jauh di lubuk hatinya ia ragu apa sanggup menerima semua cobaan hidupnya nanti. Namun saat ia teringat ancaman yang diberikan oleh mertuanya pada Mawar, membuatnya mau tidak mau harus kembali ke rumah itu, rumah yang terasa bagai neraka nantinya.
"Baiklah Nak,, jika itu keputusanmu, Bunda akan mendukungnya, kamu harus menjaga dirimu baik baik, jangan sampai kehilangan arah seperti kemarin, kau membuat Bunda khawatir juga sedih Mel,,, " air mata itupun tumpah lagi, dan kini mereka saling berpelukan menumpahkan semua beban di dada masing masing, setelah itu kembali menjadi sosok yang kuat dan tegar esok harinya.
bersambung,,,
__ADS_1