
Melati yang baru saja selesai mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil yang membungkus kepalanya dikejutkan dengan kedatangan Tian yang sudah memerah wajahnya menahan amarah karena rasa cemburunya. Ia membanting pintu dengan keras. Membuat Melati terlonjak dari duduknya.
"Mas Tian kenapa? Apa salahku? Harusnya kan aku yang marah bukan dia."
Meskipun takut melihat kelakuan Tian, ia mencoba tetap tenang, berekspresi datar seolah tak ada apa apa.
Tian yang melihat sikap Melati yang nampak begitu santai seakan tiada bersalah semakin menjadi. Di cengkramnya kedua bahu istrinya dengan kasar lalu diangkatnya berdiri dari duduknya, membuat Melati meringis menahan sakitnya.
"Siapa dia,,," suaranya nampak berat menahan marahnya yang berkecamuk dalam dada. Melati yang tidak pernah melihat Tian semarah ini semakin takut. Ia memilih menundukkan wajahnya dari pada tubuhnya gemetaran karena pandangan Tian yang dingin menusuk ke ulu hatinya.
"Katakan,,, siapa dia,,,!!" Bentak Tian meninggi membuat Melati terlonjak dengan tubuh yang gemetaran melihat amarah suaminya.
"Apa maksud Mas,,, aku nggak ngerti,,, lepaskan tanganmu, sakit,,,"Melati memegang tangan Tian dengan tatapan memelas berusaha agar suaminya tahu jika yang dilakukannya itu menyakiti Melati.
__ADS_1
"Siapa pria yang sudah berani menyentuh tubuhmu, jawab!!" Bentak Tian tanpa melepaskan genggamannya.
"Mas,,,, " air mata Melati sudah mengalir membanjiri pipinya, hatinya tersayat untuk kesekian kalinya, ia tidak menyangka jika Tian tega menuduhnya berselingkuh darinya.
"Apakah aku seburuk itu di mata Mas,,, apakah kesetiaanku juga cintaku selama ini tidak ada arti bagi Mas Tian, teganya Mas menuduhku berselingkuh, padahal kenyataannya,,,. hikkss,,, hikkss,,, " Melati tidak dapat meneruskan kata katanya, seakan tenggorokannya tercekat tidak bisa mengeluarkan suaranya, ia pun luruh ke lantai seakan penopang tubuhnya sudah tidak dapat menyangganya lagi.
Tian hanya bisa mengusap wajahnya dengan kasar. Lalu meremas rambutnya, ia merasa bersalah pada Melati, namun karena cemburu serta amarahnya yang masih menguasai dirinya, ia tidak bisa berpikir jernih, bayangan jika ada pria lain yang mengisi hati juga menyentuh tubuh Melati membuatnya benar benar terbakar api cemburu, laksana kobaran api yang bisa memakan semua hingga hangus tak bersisa, begitu juga Tian, kasih sayangnya dan kepercayaannya seakan sirna ditelan api cemburu yang berkobar di hatinya.
"Mas,,, jangan lakuin ini,,,aku mohon untuk sementara, karena,,,," ucapan Melati terhenti karena Tian sudah membungkamnya dengan bibirnya. Sedikit kasar Tian mencium istrinya, lalu menarik secara paksa piyama Melati dan membuangnya asal. Melati yang tahu akan kemarahan suaminya mencoba untuk berontak. Ia tidak mau terjadi sesuatu dengan anaknya, karena Radit sudah berpesan agar tidak melakukan hubungan intim selama kurang lebih sebulan ini, memastikan janinnya kuat di rahimnya.
Namun penolakan Melati disalah artikan oleh Tian, ia berpikir jika Melati tidak ingin disentuh karena memang di hatinya sudah ada pria lain.
"Kenapa kau menolak ku, apa karena dia lebih hebat di ranjang dari pada aku, hmm ,,? Beraninya kau khianati cinta kita, aku tidak akan membiarkanmu dimiliki oleh siapa pun, aku tunjukkan kalau aku lebih hebat darinya, terima semua hukumanku,,, " Tian pun memaksa Melati melayaninya meski ia berontak mengucapkan sakit di perutnya setelah Tian berulang kali memaksakan kehendaknya.
__ADS_1
Untuk kesekian kali Tian menghukum istrinya hingga ia terkejut saat melihat darah mengalir dari selangka Melati dan melihat istrinya sudah pingsan.
"Mel,,, bangun sayang,,, jangan menakutiku,,, Mel,,, bangun,,," Tian berusaha menyadarkan Melati dengan menepuk pelan wajah istrinya, Lalu ia melihat darah itu, seketika ia tersadar jika tadi Mamanya bilang jika Melati sedang hamil.
Deg
Tiba tiba saja dada Tian merasakan sesuatu akan hilang nantinya, tapi apa,,, entahlah,,, perasaan aneh itu menghantuinya saat ini, segera ia menelpon dokter keluarganya untuk memeriksa Melati.
"Sayang bangun,,, maafkan aku sudah menyakitimu,,,"
rasa sesal itu pun datang namun semua sudah terlambat, " semua karena kebodohanku,,, aarrgghhh,,," kaca tak bersalah pun kena hantaman tangan Tian yang meluapkan semua perasaannya. Darah pun mengalir dari tangannya.
bersambung,,,,
__ADS_1