
Sementara itu disebuah kamar hotel, nampak dua insan yang sudah dalam keadaan polos tanpa penghalang sehelai pun. Mereka mulai bercumbu, saling memberi juga menerima, saling memberi kepuasan pada masing masing. Udara siang itu yang sangat panas di luaran sana, tidak bisa mengalahkan panasnya permainan mereka. Meskipun terkesan bermain dengan buru buru karena mengejar waktu, mereka sangat menikmati percintaan yang membuat keduanya terbang ke alam syurga yang diciptakan oleh si pria.
Suara erangan juga ******* terdengar jelas menggema di kamar hotel itu. Setelah bermain selama setengah jam, akhirnya mereka pun sampai pada puncak kenikmatan bersama. Si pria pun menanamkan benihnya dalam rahim wanita yang sudah digaulinya kurang lebih tiga bulan ini. Setelah pelepasan nya, tubuh pria itu pun tergolek lemas disamping tubuh wanitanya yang kini memiringkan tubuh menatap pria tampan yang mampu menggetarkan hatinya. Hingga ia rela melakukan apa pun untuknya, termasuk memberikan keperawanannya pada malam itu saat kakak iparnya pulang dalam keadaan mabuk. Hingga kini, hubungan terlarang itu tetap terjalin.
Mawar membelai pipi kakak iparnya yang kini sudah menjadi kekasihnya. Sebuah kecupan singkat pun mendarat di bibir Tian. Membuatnya tersenyum lalu merengkuh tubuh Mawar dalam pelukannya, mendaratkan kecupan singkat di kening Mawar.
"Apa kau sudah tidak mengkonsumsi pil KB lagi sayang?"
"Aku sudah tidak meminumnya selama dua Minggu ini Mas,,, juga sudah meminum pil kesuburan kandungan yang Mas berikan saat itu, semoga saja ia cepat hadir di rahimku sebentar lagi, atau mungkin sudah hadir tapi aku belum menyadarinya." Suaranya yang manja dengan sedikit godaan menyusuri dada bidang Tian dengan telunjuknya, mampu membangunkan sesuatu yang tadinya sudah tertidur karena kelelahan.
"Kau sedang menggodaku sayang,,, hmm,,," Tian sudah mengukung kembali tubuh Mawar yang masih polos.
"Mas,,,. nanti kita terlambat ke kantor, jam makan siang akan segera berakhir." Mawar berusaha mendorong tubuh Tian agar menjauh dari tubuhnya, namun semua hanya sia sia belaka. Pria yang sudah berkabut hasrat itu semakin memperdalam ciumannya.
"Untuk apa kamu takut terlambat, kalau aku Presdir di perusahaan itu, semua terserah apa kataku. Yang terpenting sekarang kau puaskan aku dulu."
__ADS_1
Mawar hanya bisa membalas semua aksi Tian, dirinya yang bekerja sebagai sekretaris Tian hanya bisa pasrah saat atasannya yang memberi perintah. Meski ia tidak setuju dengan jalan pikiran Tian sekarang. Baginya apa pun alasannya, saat memasuki waktu kerja, maka ia harus profesional dengan pekerjaannya.
Namun kini, ia tak berdaya dengan cumbuan kekasihnya, yang mampu membawanya terbang ke nirwana, menikmati indahnya syurga dunia, memadu kasih mereguk manisnya madu cinta yang membuat keduanya semakin terlena, hingga mereka lupa ada hati yang telah tersakiti nantinya.
Setelah bermain cukup lama akhirnya mereka sampai pada klimaksnya bersama. Sekali lagi Tian menanamkan benihnya di rahim Mawar.
Sekilas bayangan seorang wanita terlintas jelas di mata Tian, membuat jantungnya seakan berhenti berdetak.
Hatinya terasa sakit dengan beban rasa bersalah, yang semakin hari semakin menumpuk di hatinya, hingga terasa begitu menyesak di dadanya.
Ia pun segera masuk ke dalam kamar mandi membersihkan dirinya, meninggalkan Mawar yang masih tergolek lemas tak berdaya diatas tempat tidur. Karena ulahnya yang terkesan kasar saat menggauli Mawar tadi.
Mawar menatap punggung yang kini sudah menghilang dari balik pintu kamar mandi. Senyuman tipis pun menghiasi bibirnya.
"Cepatlah hadir di dalam rahim Mama sayang,,, karena hadirmu yang akan memberikan kebahagiaan untuk keluarga kita." Buliran bening pun jatuh dari sudut matanya.
__ADS_1
"Maafkan aku Kak ,,, namun aku harus melakukan ini untuk kebahagiaan kita nantinya, aku sudah bosan menjadi orang miskin. Setelah kita hidup mapan selama kakak menjadi istri Mas Tian, tidak akan aku biarkan kita menderita lagi seperti dulu karena kekurangan Kakak." gumamnya dalam hati yang ikut menjerit merasakan sakit yang akan di derita kakaknya jika tahu apa yang telah terjadi.
Apa lagi ia terlanjur jatuh hati pada kakak iparnya itu. Sehingga ia mau saat Mama Tian menawarkan perjanjian dengannya. Ia tidak mau jika harta Tian akan jatuh pada orang lain jika Tian menikahi wanita yang lain. Sudah dipastikan ia dan kakaknya akan terdepak keluar dari keluarga itu jika penerus kerajaan bisnis keluarga Tian telah lahir ke dunia. Dan ia tak mau hidup dalam kekurangan lagi. Cukup sudah masa masa sulit itu baginya juga kakaknya, itu pikir Mawar, sehingga ia mau menjadi istri ke dua Tian nantinya saat ia benar benar sudah hamil.
Mawar pun bangkit dari baringnya setelah Tian keluar dari kamar mandi. Segera ia melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Sementara itu Melati yang masih setia menunggu suami juga adik kandungnya di resto hotel itu mulai tidak sabar lagi. Ia pun berdiri dari duduknya lalu berjalan mondar mandir sambil terus menatap kearah lift. Namun untuk sekian lama, ia belum juga bisa menemukan keduanya.
Pikirannya pun kalut sekarang, ia sudah berpikir yang tidak tidak, namun ia mencoba menepis rasa itu. Tidak mungkin jika suami dan adik tercintanya berselingkuh. Namun semakin ia mencoba untuk mempercayai keduanya, rasa sakit itu semakin mendera hatinya. Hingga air mata pun menetes dari kedua manik matanya.
Ia tidak memperdulikan menjadi tontonan pengunjung hotel yang lain. Fokusnya sekarang hanya bisa menemukan kedua orang yang sangat berarti dalam hidupnya. Hingga ia harus dikejutkan dengan sapaan seseorang.
"Apa yang kau lakukan di sini Mel,,,?"
bersambung ,,,,,
__ADS_1