
"Lepaskan tanganmu dari istriku,,!"
Tian sudah mencengkram erat kerah baju Raditya. Dengan tatapan membunuhnya disertai dengan bogem mentah tepat mengenai wajah tampan Raditya. Membuatnya sedikit mundur ke belakang. Sambil mengusap darah yang mengalir dari sudut bibirnya yang terasa sobek oleh pukulan Tian.
Tatapan dingin menusuk diberikan Radit pada Tian, tangannya sudah mengepal menahan marahnya, ingin sekali ia membalas pukulan Tian tadi, namun ia sadar jika saat ini bukanlah waktu yang tepat, mengingat ada anak anak yang sedang memperhatikan mereka.
"Sial,,, andai tidak ada Melati juga anak anak, sudah ku habisi kau brengsek, akan ku buat kau membayar setiap luka Melati akibat ulahmu." geram Radit dengan nafas yang sudah tidak beraturan menahan marahnya, raut wajahnya memerah dengan rahang yang mengeras.
Tian pun tersenyum sinis melihat ekspresi wajah Raditya, ia tahu jika laki laki di depannya sekarang sudah siap meledakkan amarahnya atas perlakuannya tadi. Namun Tian tidak menghiraukannya, ia segera menarik tangan Melati agar ikut bersamanya.
"Ayo kita pulang sayang,,, "Melati yang ditarik lembut tangannya oleh Tian tetap terpaku di tempatnya, hanya tatapan sendu terarah pada suami tercintanya. Sekilas kepingan kepingan luka itu pun terlintas lagi di pikirannya, membuat hatinya terasa sakit serasa begitu menyesak di dada, hingga bernafas pun ia seakan tak bisa.
__ADS_1
"Maafkan aku Mas,,, aku belum bisa pulang bersamamu, hatiku masih terasa sakit, setelah aku berdamai dengan hati ini, aku akan mengabari Mas Tian untuk menjemputku, hmm,," Melati menakupkan kedua tangannya di pipi Tian dengan senyum manisnya, berharap agar suaminya itu bisa mengerti akan keinginannya.
Nampak raut kekecewaan di wajah Tian, ia sungguh merindukan Melati, jika bukan karena pekerjaan yang harus membuatnya datang sendiri mengatasi masalah di anak cabang perusahaannya, mungkin ia tidak akan membiarkan ibu panti untuk membawa Melati kembali ke panti asuhan.
"Sayang,,,tolong maafkan aku, berikan aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku, saat ini aku sangat membutuhkanmu disampingku sayang,,," Tian berjongkok di hadapan Melati sambil menggenggam erat tangan Melati yang terkepal.
"Andai hatiku tidak sesakit ini, pengkhianatan mu sungguh melukai hatiku mas, apa lagi tuduhanmu yang membuat kita kehilangan buah hati kita, membuatku sesak untuk bernafas. Tolong beri aku waktu sedikit lagi Mas,,, aku mohon,,," air mata Melati pun luruh untuk sekian kali. Meskipun ia tidak tega melihat kondisi Tian yang terlihat begitu terpuruk, namun ia juga tidak bisa membohongi hatinya yang tidak baik baik saja sekarang.
"Jika Melati tidak mau jangan di paksa, ia membutuhkan pemulihan mentalnya yang sudah kau rusak,,,"
"Apa urusannya denganmu, memangnya siapa kamu berani mencampuri urusan rumah tangga kami, heh,,," Tian sudah mencengkram kerah baju Raditya. Bersiap memberikan bogem mentahnya kembali, namun di cegah oleh Melati.
__ADS_1
"Jangan Mas,,, aku mohon, jangan buat keributan disini, liatlah,, banyak anak anak yang melihat kalian, aku mohon, kendalikan emosi Mas,,," Melati menggenggam erat lengan suaminya, ia tidak mau anak anak nanti terpengaruh karena tindakan suaminya.
Tian segera melepaskan cengkeramannya dengan kasar." Selamat kau kali ini, tapi jangan anggap permasalahan kita sudah selesai !"
"Dengan senang hati aku akan menunggu saat itu, kita lihat siapa yang membereskan siapa,,," balas Radit yang tak mau kalah sambil membetulkan kerah bajunya, lalu mengebas ngebaskan bajunya yang tadi di sentuh Tian, seakan membersihkan kotoran yang menempel di bajunya.
"Kau,,," bentak Tian yang merasa terhina akan kelakuan Radit, seakan dia adalah kuman bakteri virus yang harus di hilangkan.
"Apa,,," bentak Raditya yang tak kalah tinggi dengan aksi protes Tian.
"Kalian,,, sudah cukup,,, atau aku tidak akan memaafkan kalian berdua!" Melati yang sudah hilang kesabaran akhirnya pergi meninggalkan keduanya masuk ke dalam panti diikuti oleh anak anak yang lain.
__ADS_1
"Mel,,, Melati,,," panggil keduanya bersamaan sambil melangkahkan kaki mereka mengikuti Melati yang masuk ke dalam panti. Meski ada adegan saling mendorong bahu mereka disepanjang langkah keduanya.
bersambung,,,,