MAHLIGAI YANG TERKOYAK

MAHLIGAI YANG TERKOYAK
bab 18


__ADS_3

Malam telah hilang dari peraduannya, berganti dengan sinar terang yang menghangatkan seluruh makhluk hidup di bumi ini, perlahan Melati mengerjapkan matanya saat cahaya silau menerpa, di iringi hembusan sang bayu yang menyeruak dari tirai jendela yang sudah terbuka.


Merasakan beban berat sedang melingkar di perutnya. Ia pun tersenyum mendapati lengan kekar Tian yang memeluknya dengan erat. Perlahan Melati mengangkat tangan itu lalu menjadikan guling sebagai pengganti dirinya setelah turun dari tempat tidur. Ia pun melangkah ke kamar mandi, membersihkan dirinya, sekitar lima belas menit kemudian ia sudah keluar dari kamar mandi dengan memakai baju kebesaran para ibu ibu rumah tangga, apa lagi kalau bukan daster.


Di lihatnya Tian masih setia dengan tidurnya, ia pun melangkahkan kakinya keluar dari kamar setelah memakai lotion di tubuhnya juga memakai bedak tipis dan lipgloss di bibirnya, tidak lupa ia asal mengikat rambutnya ke atas. Kini ia sudah berkutat dengan aneka barang dapur juga aneka bahan masakan untuk membuat sarapan pagi mereka. Karena asyiknya memasak sambil berdendang sesekali, ia tidak menyadari keberadaan seorang gadis yang sedang menatapnya dengan intens penuh tanda tanya.


Nampak di tangan gadis itu ada peralatan untuk membersihkan villa. Saat Melati menoleh ke belakang, ia sangat terkejut akan kehadiran gadis itu sampai ia terlonjak dari tempatnya berdiri.


"Astaghfirullah,,, kamu siapa? Kenapa menatapku seperti itu?" Melati berusaha menenangkan degup jantungnya yang berdetak cepat karena rasa terkejutnya dengan meletakkan tangan di dadanya.


"Saya yang harusnya tanya, situ sapa? Kenapa bisa ada di dalam villa ini dan bisa memasak di dapur sini?" Alih alih menjawab pertanyaan Melati justru gadis itu balik bertanya dengan nada sinisnya. Ia sungguh kesal dengan wanita di depannya sekarang, karena ia tahu dari ayahnya jika Bos mereka memiliki istri tapi tinggal di panti setelah tau perselingkuhan suaminya dengan adiknya sendiri. Semula gadis itu juga marah pada Bos nya, dan bersimpati pada Melati, namun setelah ayahnya mengatakan jika Bos mereka juga terpaksa karena di suruh Nyonya Besar, ia pun bisa memahaminya. Namun ia tetap geram dengan adik Nyonya mudanya. Makanya ia berfikir sekarang Melati adalah wanita itu, yang tega mengkhianati kakaknya sendiri.


Melati yang menyadari tatapan sinis itu hanya mengerutkan keningnya, ia pun menelisik gadis di depannya." Kamu pasti putri penjaga villa ini, kan?" Tebak Melati sambil tersenyum manis kearah gadis itu.


"Kenapa ia tahu siapa diriku? Apa Bos sudah memberitahukan semuanya pada wanita ini, eh,, iya,,, kenapa aku jadi bodoh seperti ini,,," lirih gadis itu sambil menepuk jidatnya sendiri, membuat Melati terkekeh dengan sikap gadis di depannya.

__ADS_1


"Sayang,,," tiba tiba saja Tian sudah turun dari tangga lalu berjalan menghampiri mereka, ia nampak cuek saja saat melewati gadis itu, terus melangkahkan kakinya kearah Melati lalu mengecup kening istrinya.


"Mas,,,, ada orang lain, apa tidak malu,,," lirih Melati sambil menarik kepalanya menjauh dari bibir suaminya. Tian hanya tersenyum kikuk, lalu menoleh kearah gadis itu.


"Oh iya aku lupa jika ada Anye disini,,,"


"Selamat pagi Bos,," sapa gadis yang di panggil Anye oleh Tian sambil menundukkan kepalanya.


"Pagi Anye,,,mulai hari ini tugasmu tidak hanya membersihkan villa ini, tapi juga menjaga istriku saat aku tidak ada, mengerti kan maksudku?" Kini Tian sudah menatap tajam kearah gadis itu, dan dijawab anggukan olehnya.


"Iya,,, dia istriku,,,Melati,,," Ucap Tian sambil mencium kening istrinya lagi, yang mendapat pukulan kecil di lengannya karena mengulangi perbuatannya di depan gadis itu.


"Mas,,, malu ada Anye,,," lirihnya yang membuat Anye tersenyum ramah, sedangkan kini wajah Melati sudah memerah karena malu pada Anye atas sikap suaminya yang tidak tahu tempat menurutnya.


Tian hanya terkekeh melihat wajah merona Melati, justru ia mendaratkan ciuman di pipi istrinya itu.

__ADS_1


"MasTian,,," protes Melati sambil membelalakkan matanya.


"Tenang saja Nyonya,,, saya tidak melihat dan mendengar apa pun, saya permisi dulu mau bersih bersih,,," pamit Anye sambil menahan tawanya, lalu bergegas melangkah keluar menuju lantai dua villa tersebut.


"Sudahlah sayang,,, Anye sudah cukup umur juga soal hal yang begituan, usia dia juga sudah hampir 17 tahun. Ia pasti mengerti, apa lagi kita ini suami istri, apa masakannya sudah matang? Aku sudah lapar ini?" Tian memegangi perutnya yang seakan juga bersabar dengannya, karena setelah ia mengucapkan katanya terdengar "kkkrrruuukkkk,,," membuat mereka saling pandang sesaat terus tertawa bersama.


"Duduklah Mas,,, akan aku siapkan semuanya." Melati kemudian menyiapkan semua makanan di atas meja, kemudian mengambilkan suaminya piring, mengisinya dengan nasi juga lauk pauknya, lalu meletakkan piring tersebut di atas meja depan tempat duduk Tian.


Namun dengan lembut Tian menarik tangan Melati hingga ia jatuh di pangkuan Tian.


"Suapin sayang,,," pinta Tian dengan nada memelas menatap sendu kearah Melati.


"Mas ini manja banget,,," Melati mencubit hidung Tian lalu mengambil piring tersebut dan mulai menyuapi suaminya. Setelah itu bergantian Tian yang menyuapi istrinya.


Sementara itu di ruang kerja seorang pria yang telah menghabiskan malam panas dengan Mawar, nampak tersenyum misteri, "akhirnya aku menemukanmu Raditya , tunggu pembalasan ku,,," tatapannya dingin kearah laptopnya menunjukkan wajah pria yang tersenyum ramah tersebut.

__ADS_1


bersambung,, 🌸 🌸🌸🌸🌸


__ADS_2