
Tian nampak gelisah duduk di tepi tempat tidur, matanya masih menatap sayu kearah istrinya yang masih belum sadarkan diri. Pikirannya kini mulai kacau, bagaimana jika Melati benar benar hamil dan terjadi apa apa sama janin itu karena ulahnya, pasti istrinya tidak akan memaafkannya. Dan bagaimana jika anak itu benar benar anaknya, ia pasti akan menyesal seumur hidup sudah tidak mendengarkan perkataan Melati karena kecemburuannya. Apa lagi kehadiran anak itu sangat mereka nantikan, dan jika terjadi apa apa dengan rahim Melati,,"Aaargghhhh" Tian menjambak rambutnya lalu meremasnya. Pikirannya yang kacau sekarang tidak bisa membuatnya berpikir jernih. Kekalutan hatinya akan kehilangan orang yang disayanginya kini semakin membuatnya kacau.
"Kau kenapa, memangnya siapa yang sakit, malam malam begini mengganggu tidurku saja." Suara itu mampu mengalihkan pandangan Tian dari Melati menatap kearah sumber suara.
Nampaklah seorang pria tampan dengan rambut yang masih acak acakan namun tidak mengurangi kadar ketampanannya. Dialah Dokter keluarga Tian, sahabatnya sejak dari kecil. Yang kini melangkah kearahnya.
"Ada apa dengan wajahmu, kenapa kayak benang kusut,,," perkataan Dokter Kean terhenti saat melihat darah yang mengalir di sprei. Ia segera memeriksa Melati.
"Kenapa kau tidak langsung membawa istrimu ke Rumah Sakit jika ia mengalami pendarahan, kenapa harus menunggu kedatanganku, dasar bodoh,,, cepat angkat istrimu kita ke rumah sakit sekarang!"
__ADS_1
Sebenarnya Tian ingin marah telah dikatai bodoh oleh sahabatnya, namun benar katanya nyawa istrinya lebih penting, karena kekalutannya, ia jadi tidak bisa berpikir jernih, seorang Presdir perusahaan ternama terlihat bodoh saat dihadapkan dengan masalah yang menyangkut istrinya. Tian segera mengangkat tubuh Melati keluar dari rumah menuju mobil sahabatnya. Ia tidak menghiraukan penampilan dirinya yang memakai piyama tidur begitu juga dengan Melati yang sudah di pakaikan piyama oleh Tian.
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, karena waktu sudah menunjuk angka 1 malam, maka jalanan di ibu kota sudah sepi dan lengang. Tak sampai sepuluh menit, mereka pun tiba di rumah sakit tempat Dokter Kean bekerja. Kean segera turun dari mobilnya membantu membukakan pintu mobil Tian yang membopong tubuh Melati.
Mereka segera menuju UGD, seorang Dokter ahli kandungan sudah menunggu disana yang tidak lain adalah Radit. Kebetulan malam ini Radit tidak pulang ke rumahnya karena dirumahnya ada wanita yang ingin di jodohkan dengannya. Ia memilih tidur di Rumah Sakit keluarganya. Radit tanpa memperdulikan siapa pun segera mendorong brankar Melati menuju ruang operasi. Karena ia melihat darah yang terus mengalir dari selangka Melati. Ingin sekali ia membuat perhitungan dengan Tian, namun yang terpenting sekarang menyelamatkan Melati juga janinnya.
"Bertahanlah Mel,,, kumohon,,, Ya Allah,,, lindungi keduanya." Doa yang hanya bisa terucap dalam hati Radit.
"Biarkan kami bekerja, tolong mengertilah,,," putusnya yang mendapat tatapan tajam dari Tian, namun ia tidak ingin berdebat yang akan memperburuk kondisi istrinya, ia pun mengalah menunggu di kursi depan operasi.
__ADS_1
"Ya Allah lindungi istriku, jika dia benar hamil anak kami, selamatkan keduanya, saya mohon,,," lirihnya dalam hati yang disertai buliran bening jatuh dari sudut matanya. Air mata yang tertahan tadi kini tumpah saat mengetahui kondisi Melati yang kritis karena ulahnya.
"Tenanglah,,, aku yakin Melati akan baik baik saja, Dokter Radit bisa diandalkan, selain itu dia Dokter pribadi istrimu yang melakukan terapi kehamilan kemarin. Dan aku dengar usaha istrimu berhasil, ia sudah mengandung selama dua minggu, apa dia tidak memberitahumu?"
Tubuh Tian melunglai bersandar ke kursi, sekilas semua perbuatannya tadi terlintas di matanya, bagaimana ia memaksakan kehendaknya meski Melati sudah memohon dengan deraian air matanya, namun tak membuat iba hatinya karena rasa cemburunya yang sampai ke ubun ubun. Penyesalan kini yang tersisa dihatinya. Janinnya,,, kebahagiaan rumah tangganya,,, semua hancur di tangannya sendiri. Apa mungkin nanti istrinya akan memaafkannya.
"Kenapa semua jadi seperti ini Ya Allah,,, kenapa kebahagiaan itu makin menjauh dari kami, cobaan apa lagi yang kau berikan pada kami,,," lirihnya dengan tatapan kosong ke depan.
"Bersabarlah bro,,, ikhlaskan semua,,, yakinlah apa pun yang terjadi itu yang terbaik untuk kita, Tuhan memiliki rencananya yang lain." Kean menepuk pelan pundak sahabatnya. Ia tahu semua pelik permasalahan keluarga sahabatnya itu.
__ADS_1
bersambung,,,,,,