
"Apa yang kau lakukan disini, oh,, aku hampir lupa kalau wanitamu ada di sini,,," Raditya tidak mau meladeni sepupunya yang sudah lama bersitegang dengannya. Karena harta yang kakeknya berikan dulu membuat ayah juga pamannya merasa tidak puas, ayah Radit yang tidak menginginkan menjadi pemimpin untuk kerajaan bisnis keluarga di paksa sang kakek untuk memimpinnya. Sedangkan sang paman yang haus akan kekuasaan terus saja mengibarkan bendera permusuhan pada kakak yang seayah dengannya. Bahkan tega melakukan apa saja untuk mencapai keinginannya, maka dari itu, Raditya dititipkan pada kakeknya agar keselamatan nya terjamin. Karena pamannya hanya takut pada kakeknya Raditya
"Aku tidak mau berbasa basi lagi denganmu, masalah kita, kita selesaikan nanti setelah aku memastikan kondisi Melati." Raditya yang tahu kenapa Leon kembali dari luar negeri dan kini berdiri tepat dihadapannya hanya karena satu hal, yaitu jabatan Presdir yang diincarnya.
Saat kaki Raditya melangkah, namun di saat itu juga kaki Leon menghadangnya." Jangan menghindari ku sepupu,,, kita selesaikan hutang kita yang belum tuntas." seringainya licik.
"Minggir Leon,,," geram Raditya mengepalkan tangannya, mencoba menahan amarahnya.
"Tenang saja,,, kak Mel tidak akan kenapa napa, Mawar hanya merindukan kakaknya saja, mungkin setelah ini Kak Mel akan menjadi milikmu, aku begitu baik hati kan sepupu,,,"
Senyuman itu, senyum yang penuh misteri dari Leon, membuat Raditya semakin cemas, namun tidak di tunjukkan rasa itu, ia tetap tenang, namun setelah mendengar,,,
"pranggg,,,," bunyi benda jatuh dari dalam, ia berniat melangkahkan kakinya ke dalam, namun di hadang lagi oleh Leon. Tak dapat menahan amarahnya lagi, Raditya pun melayangkan tinjunya kearah Leon.
"Semoga kau baik baik saja di dalam Mel,,," lirihnya dalam hati. Ia mencoba mencari anak buahnya, namun Leon lebih dulu membalas pukulannya.
"Anak buahmu itu sungguh tidak berguna, melawan aku saja mereka kalah hanya dalam sekali serang, ha,,,ha,,,ha,,," tawa Leon menggema di dinginnya malam.
Raditya hanya menatap Leon tajam, ia tidak mau main main lagi. Segera ia menyerang titik lemah Leon yang membuat pria itu terjatuh ke lantai dengan memegangi selangkanya.
"Kak,,, kau tega sekali,,," ringisnya yang menahan sakit luar biasa akibat tendangan Raditya, bukan di adik kecil Leon melainkan selangka bagian dalam.
__ADS_1
"Nikmati salam perjumpaan kita, tunggu aku mengurus nenek sihir dan adik laknat itu." Raditya menepuk bahu Leon, lalu melangkah ke dalam.
Disana ia melihat Melati sudah duduk di lantai bersandar pada sofa dengan air mata yang sudah mengalir deras. Sementara itu Mawar juga menangis di samping kakaknya sambil memegangi tangan Melati. Sedangkan Nyonya Anggara nampak sedih duduk bersandar di sofa ruang utama villa tersebut.
"Maafkan aku Kak,,, aku mohon,,," rengek Mawar yang terus menggoyang tangan Melati, namun wanita itu tetap diam seribu bahasa hanya air mata yang terus mengalir dari pelupuk matanya.
Hatinya benar benar hancur berkeping keping mendengar ucapan adiknya. Istri mana yang tidak akan sakit hati saat mengetahui jika suaminya telah menghamili wanita lain, apa lagi itu adiknya sendiri, bagai petir menyambar tubuhnya saat Melati mendengarnya tadi. Meskipun ia tahu, jika saat ini akan tiba, namun kenapa secepat ini, saat ia berusaha untuk berdamai dengan hatinya, saat ia ingin mempertahankan mahligai rumah tangganya, kenapa lagi dan lagi cobaan itu menerpa.
"Mel,,, " Raditya mendekati Melati lalu mengusap air mata di wajah cantik itu.
"Beraninya kamu datang ke sini disaat putraku tidak ada, apa memang kalian sedang menyelingkuhi putraku, hah,,,?"
Nyonya Anggara yang tadinya berakting ikutan sedih seperti apa yang mereka rencanakan, agar Melati merasa iba dan mau menuruti permintaan mereka, kini kembali ke sifat aslinya setelah melihat Raditya masuk bahkan mengusap air mata Melati.
meski mendapatkan tatapan tajam dari wanita paruh baya tersebut. Ia tetap fokus pada Melati.
Di lihatnya tatapan Melati yang kosong, membuatnya segera mengangkat tubuh Melati lalu membawanya ke luar rumah menuju mobilnya.
"Cepat bantu aku bodoh,,," teriaknya pada Leon yang tercengang melihat kondisi Melati.
"Kak Mel kenapa,,," Leon ikut merasa panik dengan kondisi Melati saat ini.
__ADS_1
"Tanyakan pada wanitamu, apa yang dilakukan pada kakaknya," Raditya mendudukkan Melati di kursi samping pengemudi lalu memasang sabuk pengaman.
"Ayolah Mel,,, jangan membuatku sedih lagi,,, kumohon,,, ingat bunda dan anak anak di panti asuhan, mereka sangat menyayangimu sayang,,," setitik tetes air mata keluar dari manik mata hitam Raditya, ia mengecup kening Melati berusaha untuk menenangkannya, hatinya benar benar sakit melihat kondisi Melati saat ini yang kembali terpuruk seperti saat itu, dimana ia mengalami keguguran dan mengetahui pengkhianatan suaminya. Air mata itu terus mengalir dari pelupuk mata nan indah dan meneduhkan hati siapa saja yang melihatnya.
Raditya segera berjalan memutar mobil lalu membuka pintu dan duduk di kursi mengemudi. Segera ia melajukan mobil itu ke rumah sakit miliknya. Sesekali ia menatap cemas kearah Melati, namun tetap fokus kearah kemudinya.
Sementara itu di villa Melati, dua wanita berbeda generasi itu tersenyum puas, telah mendapatkan apa yang mereka inginkan.
"Ayo kita pulang sayang,,," Nyonya Anggara menggandeng tangan Mawar keluar dari Villa tersebut.
"Apa Mama sudah merekam semuanya tadi?"
"Tentu saja sudah, Mama ingin mata anak Mama itu terbuka, jika istrinya itu hanyalah j*l*ng murahan yang harus di singkirkan. Kita hanya perlu melanjutkan rencana B." Seringai licik terbit di senyum kedua wanita tersebut.
"Ternyata hatimu benar benar sakit sayang,,," Leon menatap kedua wanita itu dengan pandangan yang sulit di artikan.
"Siapa dia Mawar,,,?" Nyonya Anggara menatap penuh selidik kearah Leon.
"Apa dia selingkuhanmu juga, hah,,,!"
"Bukan Ma,,, dia bukan selingkuhanmu, dia yang membantu kita mencari keberadaan Mas Tian,,," dengan rasa was was Mawar menatap tajam kearah Leon.
__ADS_1
"Berani kamu mengkhianati kepercayaan Mama, lihat apa yang bisa aku lakukan padamu." Ancam Nyonya Anggara yang diangguki oleh Mawar dengan wajah pucat pastinya. Berbeda dengan Leon yang tersenyum licik, "akhirnya kau akan tetap dalam kendaliku sayang,,," gumamnya dalam hati.
bersambung 🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸