
Melati nampak ketakutan melihat tatapan tajam yang sudah terhunus kearahnya. Tubuhnya gemetaran menahan rasa takutnya. Sosok yang menyeramkan seperti hantu yang selalu ingin dihindarinya kini tepat berada di hadapannya. "Kenapa aku sial sekali hari ini,,," lirihnya yang bisa di dengar oleh Raditya. Dan ia bisa mengerti maksud dari ucapan Melati.
"Tenanglah Mel,,, ada aku disini, tak akan kubiarkan nenek lampir itu menyakitimu lagi." Radit mencoba menguatkan sahabatnya dengan menepuk pelan pundaknya.
Hanya senyuman yang tertahan sebagai balasan perkataan Raditya.
Sejenak Melati mengambil nafasnya dalam dalam saat melihat Mama mertuanya berjalan menghampirinya bersama dengan adik sepupu dari suaminya.
"Jadi ini yang kamu lakukan saat suamimu bekerja di kantor, justru kamu bersenang senang dengan selingkuhanmu,,, hmm,,," mata Nyonya Anggara sudah melotot kearah Melati dengan senyum menghinanya.
"Ma,,, sa,, saya,,, tidak melakukan itu, Mama salah faham." sangkal Melati atas semua tuduhan Mama mertuanya.
"Jangan sebut aku Mama dengan mulutmu yang busuk dan kotor itu. Cihh,,, menyesal aku menuruti permintaan Tian yang membiarkanmu tetap menjadi istrinya, harusnya aku suruh kalian bercerai saja saat itu, kamu pikir karena kamu mandul bisa berhubungan dengan pria mana pun saat suamimu bekerja, belangmu sudah ketahuan, lebih baik kamu minta cerai sama suamimu sebelum aku yang menyuruh Tian untuk menceraikanmu, dasar wanita murahan, hanya membawa sial saja di keluarga. J*l*ng sepertimu tidak ada tempat di keluarga kami." Nyonya Anggara mendorong tubuh Melati sampai ia terjatuh dan menatap kursi yang tadi di dudukinya.
Radit yang tidak menyangka jika mertua Melati akan mendorong tubuh menantunya, tidak memiliki refleks yang bagus hingga ia tak bisa menahan tubuh Melati, apa lagi ia tadi fokus pada sepupu Tian yang seakan merekam semua yang terjadi.
Air mata Melati pun luruh lagi mendengar cacian juga makian dari Mama mertuanya, meskipun lututnya terasa sakit, namun tidak ia hiraukan, sakit hatinya semakin menganga lebar dengan perbuatan suami, Mama mertuanya juga Mawar. Ingin rasanya ia berteriak meluapkan semua luka hatinya, namun keinginannya tertahan karena bakti seorang istri pada suaminya, yang harus menjaga kehormatan keluarganya. Melati hanya bisa merutuki nasibnya dalam hati.
"Sikap Nyonya sudah sangat keterlaluan, sebagai seorang ibu dimana hati nurani anda, sebagai sesama wanita harusnya anda lebih peka akan penderitaan yang kalian berikan pada Melati. Saya bisa menuntut Anda secara hukum karena telah berlaku kasar juga mencemarkan nama baik Melati. Dan perlu anda tau, sekarang Melati sudah mengandung selama dua Minggu, dan itu adalah cucu anda."
Raditya yang sudah terbakar emosi sudah tidak dapat menahan sikapnya lagi. Ia segera membantu Melati untuk berdiri, lalu membantunya duduk, memeriksa kondisi Melati memastikan jika tidak terjadi apa apa dengan kandungan Melati.
__ADS_1
"Apa perutmu baik baik saja, tidak merasakan sakit?" Melati hanya menggelengkan kepalanya pelan.
"Hatiku yang sakit Radit,,,hatiku,,, ingin rasanya aku mati saja jika tidak ada benih dirahimku hikkss,,, hikksss,,," batin Melati dengan derai air matanya.
"Apa yang kau katakan tadi? Wanita mandul ini mengandung? Ha,, ha,,,ha,,,," tawa Nyonya Anggara menggema di seluruh ruang resto itu. Ia sungguh tak percaya dengan ucapan pria yang kini sedang berusaha untuk membela Melati. Tatapannya pun penuh selidik kearah Raditya. Sejenak ia berpikir dan mengingat ingat siapa sebenarnya pria yang berdiri di hadapannya sekarang.
"Oh,,, aku ingat,,, kamu kan teman masa kecil Melati yang ngejar ngejar cintanya, mungkin saja itu akal bulusmu untuk mendapatkan seluruh kekayaan keluarga Anggara lewat anak harammu dengan wanita ini. Kalian memang pasangan yang sangat serasi, satunya murahan dan yang satunya tak tahu diri, pembohong, penipu tak tahu malu."
Pandangan jijik meremehkan penuh kebencian tersirat jelas di mata Mama Tian untuk keduanya.
"Ma,,, Mama boleh menghinaku sesuka hati Mama,,, tapi tolong jangan hina orang yang sudah membantu saya selama ini, karena bantuannya lah saya bisa mengandung sekarang,,, hikkss,,,hikkss,," Melati yang merasa sakit sahabatnya ikut dilibatkan dalam permasalahan keluarga mereka akhirnya angkat bicara, berharap Mama mertuanya bisa melunakkan hatinya. Hingga tidak menyakiti orang yang tidak bersalah justru telah berjasa bagi keluarga mereka.
"Berani nya kamu mengguruiku hah,,,dasar sampah,,," Nyonya Anggara yang sudah tersulut emosinya hendak menampar Melati, namun tangannya seakan melayang karena tangan kekar itu sudah mencekalnya.
"Cukup Nyonya,,,!!! Bentak Raditya dengan suara meninggi. Batas kesabarannya kini sudah habis. Dan ia tak tega lagi melihat kondisi Melati saat ini, hatinya benar benar hancur. Di depan matanya sendiri ia melihat penyiksaan yang dilakukan Mama mertua Melati.
"Saya sudah berusaha untuk menahan diri saya sejak tadi, menganggap anda orang tua yang harus dihormati. Namun sikap anda sendiri yang membuat saya untuk melawan anda. Dan saya tidak akan tinggal diam melihat nama baik sahabat saya anda cemarkan juga nama baik saya. Maka bersiaplah bertemu dengan saya di pengadilan nantinya."
Melati terkejut dengan penuturan Radit, ia memandang menghiba pada pria di sampingnya sekarang, ia mencoba untuk membela Mama mertuanya yang akan tersandung masalah karenanya.
"Radit,,, kamu tidak sungguh sungguh kan dengan ucapanmu barusan? Aku mohon masalah ini cukup sampai disini saja, jangan di perpanjang lagi, aku mohon,,,"
__ADS_1
Radit hanya bisa membuang nafasnya kasar, ditatapnya lembut wanita yang dikasihinya itu, melihat raut wajah Melati yang menyiratkan permohonan, membuatnya jadi tak tega membikin wanita ini semakin bersedih juga terluka semakin dalam nantinya.
"Hatimu terbuat dari apa sih sayang,, kenapa wanita sepertimu harus menderita, seharusnya hanya kebahagiaan yang kau dapat dengan ketulusanmu, dunia memang tidak adil untukmu. Namun percayalah, selama aku hidup tak akan ku biarkan orang menyakitimu lagi, walau pun itu suamimu."
"Radit,,," panggil Melati yang menyadarkan lamunan Raditya.
"Baiklah,,, akan ku tangguhkan niatku memperkarakan masalah ini dengan syarat,,," Radit menggantung kata katanya. Menatap tajam kearah Nyonya Anggara yang terlihat santai dengan ancaman Raditya. Karena baginya tidak ada yang bisa mengalahkan uang. Ia berpikir jika Raditya hanyalah seorang Dokter biasa. Tanpa ia tahu, jika Raditya adalah generasi penerus kekayaan keluarga Wijaya yang merupakan pemilik dari PT Wijaya Group. Perusahaan no 3 di negara ini.
"Apa syaratnya Radit, biar aku yang memenuhinya,," tutur Melati setulus hatinya.
"Tinggalkan Tian dan menikah denganku!!" Jawabnya dingin tanpa ekspresi.
"Apa???"
Mata Melati melotot tak percaya dengan apa yang di dengarnya, bagaimana mungkin Radit bisa berpikiran seperti itu. Sungguh ia tak habis pikir dengan ulah sahabatnya disaat seperti ini masih ingin bercanda dengannya.
"Aku tidak bercanda Mel,,, aku sungguh sungguh,,, jika kamu tidak bisa melakukannya, maka aku juga tidak bisa menangguhkan tuntutanku pada Nyonya Anggara."
Tuturnya dengan tatapan dingin, menguarkan hawa membunuh kearah Nyonya Anggara.
"Aku,,, aku,,,"
__ADS_1
bersambung,,,,,