MAHLIGAI YANG TERKOYAK

MAHLIGAI YANG TERKOYAK
bab 15


__ADS_3

Mobil terus melaju memecah jalan raya yang kini sudah mulai terlihat padat. Sesekali Tian menghela nafas kesal karena lampu merah yang seakan ingin terus menghalangi laju kendaraannya, juga kemacetan yang biasa akan terjadi di jam masuk kerja bersamaan dengan jam masuk anak anak sekolah. Membuatnya ingin segera melajukan mobilnya dengan cepat agar tidak terjebak kemacetan yang panjang nantinya. Ia sudah tidak sabar melihat reaksi istrinya dengan kejutan yang telah disiapkannya jauh jauh hari kemarin.


Sekilas Melati melihat kearah suaminya yang terlihat mulai kesal dengan situasi jalan raya, ia pun tersenyum," sabar mas,,, bukankah sudah biasa seperti ini, kita tidak bisa menghindarinya,,,"


Melihat senyuman di bibir Melati membuat Tian sedikit tenang, "iya sayang,,, tapi aku sudah tidak sabar lagi melihat reaksimu akan kejutanku nanti,,," Tian membelai rambut istrinya sambil tersenyum, menoleh sebentar kearah Melati lalu fokus lagi dengan kemudinya.


Akhirnya setelah satu jam perjalanan, mobil Tian pun masuk kesebuah kompleks villa elit yang terdapat di puncak. Melati sedikit terkejut karena Tian tidak membawanya pulang tapi membawanya ke tempat yang belum pernah ia singgahi.


"Mas,,, sebenarnya kita mau kemana, kenapa ke puncak? Katanya kita mau pulang?"


Sambil menatap kagum ke arah jalanan yang di penuhi dengan aneka bunga juga pepohonan yang rindang, membuat sejuk udara di pagi ini, Melati pun membuka jendela mobil lalu menghirup udara yang terasa menyejukkan, rambutnya tersapu angin yang terasa begitu lembut di wajahnya.


Tian hanya tersenyum melihat ekspresi istrinya yang terlihat begitu menikmati udara di kawasan ini. Tanpa terasa mobil Tian sudah memasuki sebuah villa yang begitu mewah dengan 2 lantai. Ia pun memarkirkan mobilnya di halaman Villa.


"Ayo sayang kita turun,,," ucapnya seraya mengecup kening Melati lalu membuka pintu mobil, melangkah keluar membuka bagasi mobil mengambil koper sang istri.


Melati yang masih tertegun dengan kenyataan yang ada, seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang, ia tetap duduk di kursi tanpa bergeming dengan sejuta pertanyaan di pikirannya.


"Sayang,,, ayo turun, apa perlu aku gendong,,hmmm,,," Melati terkejut saat Tian sudah mengangkat tubuhnya, ia mulai tersadar dari lamunannya.

__ADS_1


"Mas,,, turunkan aku,,, ini villa siapa?"


Melati menautkan kedua tangannya di leher Tian yang terus melangkah dengan menggendongnya.


"Ini villa kita sayang,,, mulai hari ini kita tinggal di villa ini, biar kamu terbebas dari Mama, kita mulai semua dari awal di villa ini, hanya kita dan juga anak anak kita nantinya." Meski hati Tian terasa sakit jika teringat anak anak, begitu pun juga Melati yang merasakan hal yang sama. Sejenak mereka terdiam.dengan pemikiran masing masing, hingga Tian membuka pintu utama dengan bantuan Melati yang menekan password seperti yang suaminya ucapkan. Masih dalam gendongan suaminya, Melati nampak terkejut melihat ruangan yang sudah disulap sedemikian rupa.


Titik air mata menetes dari sudut matanya, ia tidak menyangka jika suaminya akan memberikan kejutan yang begitu indah. Tiap ruangan. dihiasi dengan bunga melati juga bunga lili yang merupakan bunga kesukaannya. Balon balon berwarna merah, pink juga putih menghiasi setiap ruang juga anak tangga yang menuju ke kamar mereka.


"Mas,,, terima kasih untuk semua kejutannya, aku sangat terharu." Buliran bening itu masih terus mengalir dari sudut mata Melati, membuat Tian merasakan ngilu dihatinya, teringat hanya air mata yang bisa di berikan olehnya pada istri tercinta.


"Maafkan aku sayang,,, untuk semua kesalahanku selama ini,,,, aku berjanji akan memperbaiki semuanya. Hanya aku minta jangan pernah tinggalkan aku," Tian menyatukan kening mereka. Sambil terus melangkah memasuki kamar mereka. Saat pintu kamar terbuka, mata Melati terbelalak seakan tak percaya dengan apa yang telah dilihatnya.


Melati yang belum menyadari adanya liontin yang sudah terpasang di lehernya, masih terus memandangi keindahan kamarnya.


Kamar yang atapnya terbuat dari kaca, sehingga bisa memandang indahnya langit biru saat siang hari, juga kerlip bintang dan indahnya cahaya bulan saat malam hari, sedangkan ruangan sudah dihiasi dengan bunga lili juga edelweis. Di atas tempat tidur telah bertabur melati pink berbentuk hati menghiasi sprei putih. Di lantai kamar tertata rapi lilin lilin yang menyala hingga sampai ke tepi tempat tidur yang di sepanjang kaki melangkah tertabur bunga bunga yang menguarkan keharumannya.


"Apa kamu menyukainya sayang,,," bisik Tian tepat di belakang telinga Melati sambil memeluk tubuh istrinya dari belakang.


"Aku menyukainya Mas,,, sangat,,,, terima kasih ya mas,,,"

__ADS_1


Melati memeluk tubuh suaminya, Tian melepas pelukan sang istri lalu mengarahkan tubuhnya kearah cermin rias yang ada di ruangan itu. Saat Melati melihat pantulan dirinya di cermin, ia terkejut dengan liontin yang sudah menghiasi lehernya.


Karena terlalu fokus melihat keindahan kamarnya, hingga ia tidak menyadari jika Tian sudah memakaikan liontin tersebut.


"Mas,,, ini,,,, "suara Melati tercekat, ia tidak bisa lagi mengungkapkan kebahagiaannya hari ini, hanya air mata bahagia yang mengalir mengiringi tiap ucapan syukur dari dalam hatinya.


Semoga apa yang dikatakan suaminya itu menjadi kenyataan, memulai hidup baru hanya berdua, itulah doa Melati saat ini, meski ia terkesan egois mengesampingkan keberadaan Mawar diantara mereka.


"Kamu memang cantik sayang,,, beruntung aku bisa memilikimu."


Tian mulai menciumi leher jenjang istrinya. Tak tertinggal tangannya mulai beraksi memberikan sentuhan sentuhan di titik sensitif Melati, membuatnya tak berdaya untuk menolak keinginan sang suami.


"Bolehkan aku meminta hak ku sayang,,," dengan nafas yang sudah tak beraturan menahan hasratnya, Tian menatap sendu mata istrinya.. Melati pun mengangguk lemah. Mendapat persetujuan dari istrinya, rona bahagia terbit di wajah Tian yang tadi sempat mendung jika istrinya masih menolaknya. Namun semua diluar dugaannya, Melati mengijinkan Tian untuk melakukan kewajiban dan mengambil hak nya.


Tanpa menunggu lama, Tian segera membopong. tubuh Melati lalu merebahkan di atas tempat tidur. Namun sebelum mereka memulai percintaan ada suara yang mengagetkan mereka.


"Mas,,,"


bersambung ,,,,

__ADS_1


__ADS_2