
Tokk,,, tokk,,," suara pintu diketuk dari luar. Tian pun perlahan melangkahkan kakinya membuka pintu kamarnya. Setelah pintu terbuka, nampak sang Mama berdiri tepat di tengah pintu sambil melihat ke dalam, ia seakan mencari cari sesuatu.
"Mama ada perlu apa, kenapa celingak celinguk seperti itu? Mama mencari Melati?"
Tian menyandarkan punggungnya di dinding pintu sebelah luar, mengerutkan alisnya memandang penuh tanya kearah Mamanya.
"Dimana wanita sialan itu?" tuturnya sinis masih mencari cari keberadaan Melati.
"Ia masih mandi Ma, memang ada perlu apa Mama mencari Melati, tumben,,, biasanya Mama memandang wajahnya aja sudah jengah?"
"Baguslah kalau dia masih mandi, ikut Mama ke ruang kerja, ada yang ingin Mama bicarakan sama kamu!" Nyonya Anggara memastikan jika Melati tidak akan mendengarkan percakapannya dengan putranya nanti, karena hal ini berhubungan dengan ucapan Radit yang masih terngiang terus di telinganya, ia ingin memastikan kebenaran berita itu dulu sebelum mengambil keputusan nantinya, karena ia tidak mau jika harus disalahkan oleh putranya nanti.
Nyonya Anggara pun melangkah terlebih dulu ke ruang kerja Tian, di ikuti putranya itu dari belakang setelah menutup pintu kamarnya.
Setelah memasuki ruang kerja Tian, Nyonya Anggara pun mendudukkan pantatnya di sofa yang ada di ruangan tersebut.
__ADS_1
"Kunci pintunya Tian, aku tidak mau ada telinga lain yang akan mendengarkan percakapan kita!"
Ucapnya serius yang dipatuhi oleh Tian. Ia kemudian ikut duduk di sofa samping Mamanya.
Sebenarnya ia malas jika harus diajak membicarakan soal Melati yang ini itu oleh Mamanya, namun kalau ia tidak mengikuti kemauan Mamanya, yang menderita nanti istrinya, karena Mamanya akan melampiaskan kekecewaan juga amarahnya pada Melati, jadi ia mengikuti semua keinginan Mamanya, termasuk menjalin hubungan dengan Mawar.
Dengan malas Tian menyandarkan tubuhnya di sofa, badannya terasa capek sekali seharian habis bekerja ditambah kegiatan panasnya tadi siang bersama Mawar.
"Apa yang ingin Mama bicarakan, aku capek sekali Ma,,," protesnya seolah ingin cepat menyudahi percakapan mereka. Karena ia ingin sekali segera membicarakan hal penting dengan istrinya, mengapa sikap Melati berubah hari ini.
Nyonya Anggara benar benar kesal dengan sika p putranya saat ini. Kadang ia tidak habis pikir, sihir apa yang digunakan Melati hingga putranya begitu mencintai dia menerima segala kekurangan dia.
"Sudahlah Ma,,, jika Mama cuma ingin membahas masalah yang itu itu saja lebih baik Tian istirahat, capek rasanya hati juga pikiran Tian dengan semua tuntutan Mama. Apa masih kurang yang Tian lakukan untuk Mama, hingga menduakan dia dengan adik kandungnya sendiri hanya memenuhi keegoisan Mama, apa masih kurang cukup itu buat Mama?" Nada bicara Tian sudah meninggi, ia sungguh muak dengan semua yang Mamanya yang mengatur kehidupannya. Andai ia bisa memilih, lebih baik hidup sederhana berdua bersama Melati dari pada harus menanggung semua beban rasa bersalah seumur hidupnya.
"Kamu sudah berani membentak Mama gara gara wanita murahan itu? Asal kamu tahu, ia sudah berani berhubungan dengan pria lain di belakangmu selama ini, itukah istri yang kau banggakan, dan pria itu mengatakan jika Melati hamil saat ini."
__ADS_1
"Duuaarrr" Bagai tersambar petir Tian mendengar perkataan Mamanya. Pikirannya pun kalut sekarang antara percaya dan tidak dengan perkataan Mamanya.
"Itu tidak mungkin Ma,,, Melati tidak mungkin mengkhianatiku dan berselingkuh dengan pria lain di belakangku. Itu semua pasti fitnahan untuknya."
Tian segera bangkit dari duduknya, melangkah begitu saja meninggalkan Mamanya yang masih berteriak memanggil namanya.
"Tian,,, berhenti! Mama belum selesai bicara,, Tian,,,berhenti,,!"
Nyonya Angkara hanya bisa melempar bantal kearah pintu meluapkan marahnya saat putranya tak menghiraukan panggilannya.
"Apa alasan ini yang membuat sikapmu berubah Mel,,, apa benar ada orang lain di hatimu sekarang,,, tidak ,, aku tidak akan membiarkan itu terjadi." Dengan tergesa gesa Tian menuju ke kamarnya, mengepalkan tangannya menahan marah juga kecemburuan yang membabi buta. Hingga ia tidak menghiraukan saat Mawar memanggil namanya saat melewati ruang keluarga yang terhubung dengan ruang makan.
"Mas Tian,,, ayo makan dulu,,," Namun Tian seakan menulikan telinganya dengan panggilan Mawar yang sudah duduk di kursi ruang makan menunggu yang lain untuk makan malam bersama.
"Ada apa denganmu Mas,,, hingga kau tak menghiraukan panggilanku, apa memang aku tak ada arti di matamu dibanding dengan kak Melati,,," tanpa terasa buliran bening itu pun terjun bebas dari kedua matanya.
__ADS_1
bersambung,,,,