MAHLIGAI YANG TERKOYAK

MAHLIGAI YANG TERKOYAK
bab 19


__ADS_3

Sementara itu di sebuah ruang yang bernuansa putih nampak seorang dokter tampan sedang memeriksa pasiennya. "Semuanya baik baik saja Nyonya, tidak ada yang perlu di khawatirkan, dua Minggu lagi kita melakukan USG lagi untuk mengetahui jenis kelaminnya. Sementara ini saya resepkan beberapa vit untuk kesehatan Nyonya juga janinnya." Raditya menyerahkan kertas berisi resep vit yang harus di tebus oleh Nyonya itu.


"Terima kasih Dokter tampan,,," kerlingnya genit, karena ia sangat memuja Raditya sejak pertama kali memeriksakan kandungannya. Namun hanya diangguki oleh Raditya dengan senyumnya yang terlihat di paksakan.


Wanita itu sangat bahagia mendapatkan senyum dari Raditya. Ia justru senyum senyum nggak jelas menatap kearah Raditya, dalam khayalnya ia sedang di belai sayang oleh dokter tampan itu. Membuat suster juga Raditya bergidik ngeri melihat sikap wanita hamil tersebut. Mereka saling pandang lalu,,,


"Mari saya antarkan anda ke luar ruangan Nyonya, karena pasien yang lain sedang menunggu antrian, kasihan yang sudah lama menunggu."Tutur perawat dengan lembut sambil mempersilahkan wanita itu keluar dengan mengarahkan tangannya kearah pintu. Membuat wanita itu sedikit cemberut tapi tetap melangkah keluar.


" 2 Minggu lagi kita bertemu ya tampan,,," kerlingan genit terarah ke Raditya saat wanita itu berada diambang pintu ruangan Raditya. Hanya di jawab anggukan oleh Raditya. Sedangkan para perawat hanya bisa menggigit bibir bawahnya menahan tawa. Karena sejak kedatangan wanita itu ke ruangan Dokter Raditya, ia mencoba merayu Dokter tampan itu, membuatnya jadi tidak nyaman.


"Ya Tuhan,,, semoga hanya wanita itu saja yang bikin ulah, jangan ada lagi." Helanya sambil mengusap wajahnya kasar.


"Jangan salahkan mereka Dok,,, salahkan saja kenapa Dokter yang terlalu tampan juga baik." cerocos perawat yang sejak tadi menahan tawanya karena ulah wanita tadi. Kata kata perawat itu pun di sambut dengan gelak tawa temannya yang lain.


"Kalian mau aku potong gajinya, berani menindas Dokter, hmm,,," Raditya sudah memicingkan matanya kearah para perawat nya.


"Maafkan kami Dok,,, jangan potong gaji kami, naikin saja he,,,he,,,he,,," ucap salah satu perawat yang lain yang mendapat toyoran dari teman perawatnya.

__ADS_1


Ya,,, mereka memang sering bercanda satu sama lain, semua mereka lakukan untuk menghibur hati Raditya yang terlihat murung sejak kepergian Melati dari panti asuhan. Tanpa terasa kini sudah hampir seminggu sejak kejadian itu. Membuat Raditya sering melamun kan Melati karena usahanya ternyata gagal untuk membuat Melati berpisah dari Tian. Tapi apa pun itu keputusan Melati, ia tetap mendukungnya asalkan sahabat tersayang nya itu bahagia.


"Apa masih ada pasien yang lain?" Kini Raditya kembali pada mode tugasnya.


"Pasien tadi yang terakhir Dok,,, karena saya tahu Dokter Radit tidak nyaman, maka saya usir secara halus dia,, he,,, he,, he,,," kekeh perawat itu sambil menutupi bibirnya dengan punggung tangannya.


"Ya udah kalau gitu aku pulang dulu, dan besok saatnya aku tidak ada piket, kalian ngerti harus apa kan?"


Ucap Raditya yang berdiri dari kursinya lalu melangkah ke luar ruangan yang diangguki oleh para perawatnya.


"Iya,,, kita harus bagaimana lagi, jodoh, rejeki, ajal hanya Allah yang tahu, moga saja penyelamat kita itu mendapatkan kebahagiaannya segera." Timpal salah satu perawat yang lain.


"Aamiinn,,," jawab mereka serempak.


Para perawat itu terus bergosip, tanpa mereka sadari jika Raditya masih ada di luar ruangan, ia pun menghela nafasnya dengan berat.


"Kamu baik baik saja kan, Mel?" Lirihnya sambil memandang wajah cantik yang tersenyum di ponselnya. Ia pun mengusap wajah itu lalu mematikan ponselnya dan menyimpannya dalam saku bajunya. Hatinya kini menahan siksa karena kerinduannya. Meski pun hanya beberapa bulan dekat lagi dengan Melati setelah wanita itu resmi menikah, namun menyisakan kenangan yang mendalam untuk Raditya, apa lagi hanya Melati satu satunya wanita yang berhasil mencuri hatinya.

__ADS_1


Dengan langkah kaki lebar ia menuju parkiran mobil, lalu melajukannya cepat menuju daerah yang telah dikirimkan oleh anak buahnya. Keinginannya hanya satu sekarang, melihat wanita itu secara langsung untuk mengobati kerinduannya. Apa lagi saat ini Tian sedang berada di luar kota. Dan dari info yang ia dapat, Mawar juga sedang melaju kearah villa Melati, ia tidak mau jika Melati kenapa napa, karena Mawar pergi bersama dengan Nyonya Anggara, Mama Tian yang sejak kemarin sudah merencanakan sesuatu pada Melati.


"Apa kalian masih di tempat sekarang?"Raditya menghubungi anak buahnya yang disuruh menjaga Melati dari jauh.


"Kami masih mengawasi villa itu Bos, dan baru saja ada 2 mobil yang masuk ke halaman villa." Jawab di seberang.


"Awasi terus, jika memang perlu bertindak, kalian bertindak, aku sedikit lagi nyampe di sana." Kata Raditya tegas dengan rahang yang sudah mengeras menahan marahnya.


"Sedikit saja kalian lukai Melati, jangan harap belas kasihanku lagi." Geramnya sambil meremas kemudinya lalu menambah kecepatan laju mobilnya.


Hatinya sedikit tenang, karena disana sudah ada anak buahnya yang bisa bertindak jika terjadi hal yang tidak diinginkan, namun ia lebih tenang lagi jika Melati tetap aman juga baik baik saja, dalam artian adalah tidak ada lagi luka batin yang akan di timbulkan oleh kedua wanita berbisa itu, namun semua tidak akan mungkin terjadi, dan ia bisa pastikan, hati wanita itu akan terluka lagi dan lagi.


Lengangnya jalan malam ini membuat mobil yang dilajukan Raditya tidak mendapat halangan apa pun, dan dalam sepuluh menit ia pun sudah sampai di halaman Villa Melati, namun matanya tak berkedip menatap sosok yang kini sudah ada di hadapannya.


"Kita bertemu lagi kakak sepupu,,," seringai licik terbit di bibir pria itu.


bersambung ,,, 🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸

__ADS_1


__ADS_2