MAHLIGAI YANG TERKOYAK

MAHLIGAI YANG TERKOYAK
bab 9


__ADS_3

Seorang wanita menatap kosong ke luar ruangan, sesekali ia menyeka air mata yang terus luruh membasahi pipinya. Sakit ditubuhnya tidak ia rasakan pasca operasi kemarin malam, justru luka hati yang teramat sakit yang kini membuatnya rapuh menghadapi dunia ini. Tubuhnya serasa tak bernyawa lagi. Ia seakan telah meninggalkan raganya, asyik dalam dunia yang ia ciptakan sendiri. Sesekali ia tersenyum namun untuk sekian detik ia menangis dengan histerisnya. Bisa di bilang kini ia mengalami depresi yang berat. Bahkan ia tidak menghiraukan siapa pun yang mendekatinya. Seakan akan memutus kontak dengan dunia sekarang.


Tian yang melihat kondisi Melati yang sangat memprihatinkan hanya bisa menangis di samping brankar istrinya. Rasa bersalah yang teramat dalam menggerogoti hatinya. Penyesalannya kini tidak berguna lagi. Ia telah kehilangan buah hati tanda cinta kasih dengan istrinya yang sangat didambakan oleh keduanya hanya karena kebodohannya, api cemburu yang berlebih telah membakar hatinya hingga ia harus membayar mahal karenanya.


"Maafkan aku sayang,,, maafkan aku,,," entah untuk yang keseratus atau yang keseribu hanya kata itu yang bisa terucap dari bibir Tian semenjak tubuh istrinya di pindahkan ke ruang inapnya setelah menjalani proses operasi, pembersihan rahim istrinya setelah mengalami keguguran. Yang sering orang bilang kuret.


Yang paling memilukan hati Tian, setelah kesadaran Melati kembali, ia seakan tidak mendapatkan sosok istrinya lagi, seakan Melati berada di dimensi lain, yang membuatnya nyaman, enggan untuk kembali ke kehidupan normalnya. Semua bisa ditangkap Tian dari pandangan istrinya, juga tingkah laku Melati yang mirip orang kehilangan kesadaran, yang sering orang katakan dengan gila.

__ADS_1


Namun dengan sabar Tian tetap berada di samping istrinya, berharap Melati menatap kearahnya sekarang, kembali padanya dan menjalani hidup bersama seperti biasanya.


Iya,,, sudah hampir seminggu ini kondisi Melati tetap sama tidak ada perubahan. Namun Tian tetap sabar merawatnya, melakukan pekerjaannya dari rumah sakit. Dan seminggu ini ia tidak menyentuh tubuh Mawar lagi. Karena ia terus berada di sisi Melati tanpa sedetik pun meninggalkan ruangan istrinya. Ia takut jika sewaktu waktu Melati melarikan diri dari ruangan tersebut.


"Sayang,,, kamu ingat saat pertama kali kita bertemu,, he,,he,,he,,," Tian terkekeh pelan sambil menyisir rambut istrinya. membuat kepangan yang sangat disukai oleh Melati. Sedangkan wanita itu hanya memainkan tangannya dan seolah berbicara sendiri. Air mata Tian pun menetes dari sudut matanya. Namun segera di hapusnya.


"Sayang,,, maaf kan aku,,, jika waktu bisa di putar kembali, aku tidak akan sudi meminum barang haram itu, yang menjadi penyebab terjadinya malam sial yang membuatku terikat dengan Mawar sampai sekarang, andai aku bisa memilih, lebih baik kita pergi jauh meninggalkan semua ini. Maafkan aku sayang,,, kehancuran kita semua karena salahku,,, jika aku bisa menggantikan penderitaanmu sekarang, aku rela dan ikhlas,, asal kau kembali lagi seperti dulu. Meski tiada maaf untukku."

__ADS_1


Tak terasa air mata Tian yang mengalir jatuh di atas pundak Melati yang kini sedang tertegun menatap kosong ke depan.


Buliran bening itupun mengalir dari kedua manik mata Melati. Sorot mata yang memendam kesedihan yang teramat dalam juga kebencian yang teramat dalam terlihat jelas dari tatapannya. Hingga saat manik mata itu menangkap sosok yang sangat berjasa dalam hidupnya, sedang memandanginya dari luar jendela. Terukir senyuman di bibir tipis itu.


"Kau harus kuat Melati, kau harus kuat,,,demi kami,,," seakan itulah kata kata yang terucap dari pandangan orang itu yang juga tersenyum manis ke arah Melati.


bersambung,,,,,

__ADS_1


__ADS_2