
Melati, Jasmine, Raditya bersama anak anak yang lain berkumpul di hamparan rumput hijau yang tertata rapi. Mereka duduk membentuk sebuah lingkaran. Melati duduk disamping Raditya, nampak di tangannya membawa sebuah gitar tua, yang menjadi saksi bisu kisah perjalanan cintanya yang hanya bertepuk sebelah tangan, karena gadis yang selalu di pujanya tidak pernah membalas cintanya.
Sebuah gitar yang menjadi saksi saat ia melantunkan lagu lagu cintanya untuk Melati. Ketika mereka masih duduk di bangku SMP sampai SMA.
Raditya yang sebenarnya anak orang berada namun lebih senang hidup dalam kesederhanaan bersama dengan kakeknya yang menjadi pemilik kebun teh di kota Batu, Malang. Namun karena kepintarannya, ia juga Melati mendapatkan bea siswa disalah satu sekolah ternama di kota itu.
Meskipun banyak siswi yang mengidolakan Radit, karena bukan hanya pintar, tapi dia juga jago bermain gitar juga bernyanyi, selain itu wajahnya yang tampan menarik setiap siswi untuk memujanya. Namun Radit tidak pernah menganggap mereka ada. Sikapnya sangat dingin pada cewek cewek disekolahnya, namun tidak terhadap seorang gadis yang selalu berhasil menarik perhatiannya. Tidak hanya cantik alami tanpa polesan, hatinya juga lembut, dan yang paling penting, tempat Raditya mencurahkan segala keluh kesahnya. Entah kenapa ia selalu merasa nyaman bila bersama dengan Melati, hatinya begitu damai hingga bisa melupakan masalah yang selalu menghantuinya.
Bahkan ia sering menjahili sahabatnya itu hanya untuk melupakan masalahnya, ia tidak akan berhenti menjahili Melati kalau gadis itu tidak sampai menangis.
"He,, he,, he,," Raditya terkekeh sendiri mengingat masa masa kecilnya bersama Melati, ia tidak menyadari jika sikapnya itu mengundang penasaran semua mata yang memandangnya sekarang. Dengan alis berkerut, Melati menatap kearah Radit yang kini juga memandanginya dengan penuh cinta.
"Kau kenapa,,, tertawa sendiri kayak orgil aja,,,," Melati sengaja menyingkat katanya karena ia tidak mau anak anak mendengar perkataan yang tidak baik, karena ia harus memberikan contoh yang baik untuk mereka. Ia tidak mau anak anak itu nanti akan berperilaku yang buruk, baik dengan ucapan ataupun tingkah laku mereka nantinya. Karena pembelajaran dini sangat penting ditanamkan saat tumbuh kembang anak anak,. agar membentuk pribadi mereka yang baik nantinya.
__ADS_1
"Iya,, Kak Radit kenapa tertawa, apa ada yang lucu Kak?" Jasmine ikut berbicara karena penasarannya yang tinggi. Gadis kecil itu memandang penuh tanya kearah Raditya. Sedangkan anak anak yang lain hanya bisa melongo melihat kearah ketiganya
"Kakak hanya ingat saat masa kecil kakak seperti kamu sekarang." Radit mencubit lembut pipi Jasmine, membuatnya cemberut karena merasakan sakit di pipinya, tepatnya ia tidak mau jika wajahnya yang imut itu rusak nantinya karena sering dicubiti siapa saja yang gemas dengannya.
"Kak Radit hentikan,,, pipiku bisa dower nanti, bagaimana kalau aku tidak imut lagi, apa kakak mau tanggung jawab,," tutur Jasmine sambil cemberut membuat Raditya juga Melati tersenyum bersama.
"Maafkan kakak,,, itu ini ada coklat buat permintaan maaf kakak." Raditya menunjukkan sebatang coklat pada Jasmine, ia pun menyobek bungkusnya lalu berniat menyuapi Jasmine.
Radit pun mengarahkan coklat ke mulut Jasmine yang sudah siap terbuka menerima suapan dari Radit, namun saat coklat itu sudah berada dekat di mulutnya, tiba tiba saja tangan Radit sudah beralih ke mulut melati yang tadinya ikut menganga saat melihat Radit mau menyuapi Jasmine. Coklat itupun berlabuh di mulut Melati, yang mau tidak mau harus memakannya.
"Kak Radit curang,,, curang,,, " Jasmine menghentak hentakkan kakinya sambil cemberut. Saat Melati ingin memberikan sisa coklatnya pada Jasmine, namun tertahan oleh tangan Radit.
"Makan saja, aku masih ada buat anak anak." Tangan Radit menunjuk kearah penjual es cream yang sedang menjajakan es creamnya. Melati pun tersenyum mengerti maksud Raditya.
__ADS_1
"Iya,, iya,, Kak Radit minta maaf,,, mau es cream tidak,,, itu ada yang jual,, siapa yang mau minta saja nanti kakak yang bayar."
"Bener kak,,," sorak anak anak bersamaan dengan mata yang berbinar.
"Benar adek adek yang cantik dan ganteng ganteng,,, masa Kak Radit bohong ,,," sambung Radit yang sudah berjalan lebih dulu menghampiri penjual es krim tersebut, anak anak segera bangkit dari duduknya lalu berhamburan ke arah penjual es krim juga Raditya.
Radit membawa dua potong es krim kesukaan Melati rasa coklat stroberi, "nih Mel,,," Radit menyodorkan es krim tersebut yang di terima Melati dengan mata berbinar disertai senyum manisnya.
"Makasih ya Radit,,, kamu selalu tahu inginku,,,he,,,he,, he,,,"
Tanpa mereka sadari, sejak tadi sudah ada sepasang mata yang mencengkram erat tangannya melihat kedekatan Raditya dan Melisa, apa lagi saat melihat Radit membersihkan bibir Melati ada sisa es krim yang tertinggal, membuat darahnya mendidih ingin sekali menghajar bahkan melenyapkan pria yang sudah berani mendekati Melati.
bersambung,,,,,
__ADS_1