
Setelah berpamitan pada ibu panti kemarin malam, kini Melati bersiap siap kembali ke rumah suaminya, diambilnya ponsel yang berada di atas meja kecil di dalam kamarnya. Senyuman tipis terlihat dari bibirnya saat memandang fotonya bersama Tian sedang memeluknya dengan mesra.
"Mas,,, aku pulang,,, apa kau merindukan aku?"lirihnya, ntah mengapa meskipun hati sudah tersakiti namun saat ini ia begitu merindukan suaminya. Membuatnya semakin tidak berdaya antara benci juga rindu menjadi satu. Hingga rasa itu terasa begitu menyesak di dadanya. Apa lagi saat mengingat pengkhianatan sang suami bersama adik tercinta. Membuat airmata Melati luruh untuk kesekian kalinya.
"Mel,,," panggil seseorang yang sangat dikenali oleh Melati dari suaranya. Ia pun mengusap air matanya, berusaha tersenyum agar orang yang menghampirinya tidak merasa khawatir nantinya.
"Iya Bunda,,," jawabnya sambil menenteng kopernya. Ia pun keluar dari kamar lalu menutupnya perlahan.
Bunda yang sudah berdiri di depan pintu kamarnya pun tersenyum melihat wajah Melati yang terlihat berseri seri tertimpa sinar mentari pagi.
"Sudah siap Mel,,, itu di depan ada Nak Tian sedang menunggumu."
"Mel sudah siap Bunda,,, terima kasih untuk semua yang Bunda lakukan untukku selama ini, selamanya Mel akan terus berutang budi sama Bunda. Dan itu tidak bisa digantikan oleh apa pun. Kasih sayang Bunda akan selalu menjadi penguatku nantinya menjalani hari hari yang mungkin akan terasa sulit awalnya, tapi insya Allah,,, Mel bisa melaluinya Bunda, jadi jangan khawatir akan keadaan Mel disana, dan Mel harap Bunda menjaga kesehatan ya, jangan sampai sakit seperti kemarin."
Sebelum Bunda memberikan ceramahnya, Melati sudah mendahului apa yang ingin disampaikan oleh ibu panti padanya. Melati tahu pasti, jika wanita disampingnya ini akan sangat cerewet sekali saat mereka akan berpisah, pasti petuah nasehat selalu di pesankan dari awal mula jalan sampai ke tempat yang dituju, takkan ada titik komanya. Membuat Melati berinisiatif untuk mewakili sendiri apa yang akan di sampaikan ibu panti padanya.
"Sejak kapan kamu cerewet seperti ini Mel,,,?" Sambil mencubit hidung Melati ibu panti pun tertawa lirih, diikuti oleh Melati yang ikut terkekeh pelan.
__ADS_1
Di ruang utama panti, nampak Tian sedang melihat satu persatu lukisan kaligrafi yang menuliskan asma asma Allah juga sholawat untuk Nabi Muhammad, ia cukup kagum dengan hasil kreasi dari anak anak panti ini. Sorot mata kekaguman disertai senyum yang terus mengembang di bibirnya, memperlihatkan betapa ia sedang berbahagia.
Selama kurang lebih dari satu bulan Melati berada di panti, akhirnya ia mau kembali lagi ke rumah, berkumpul bersama lagi seperti dulu, meski semua tidak akan bisa kembali sama. Namun dalam hati ia bertekad untuk mempertahankan perkawinannya. Ia sudah tidak menyentuh Mawar lagi setelah kejadian yang menimpa Melati waktu itu. Rasa bersalah yang terus menghantuinya, membuat Tian mengambil keputusan untuk mengakhiri semua. Kembali pada istri tercintanya, meski harus dihadapkan dengan amarah dari Mamanya nanti. Namun ia sudah tidak memikirkannya lagi, tekadnya sudah bulat untuk memperbaiki rumah tangganya.
Saat Tian fokus dengan lukisan kaligrafi, Melati didampingi Bunda panti bersama dengan anak anak juga pengurus panti yang lain sudah berada di halaman panti. Mereka secara bergantian memberikan salam perpisahan untuk Melati. Suara ramai di halaman mengusik Tian, hingga akhirnya ia melangkah ke luar, melihat sang istri saling berpeluk dengan penghuni panti yang lain. Ia pun segera melangkah mendekati mereka.
"Bunda kami pamit, terima kasih sudah menjaga istri saya selama ini, budi baik Bunda akan selalu ku simpan dalam hati." Sambil bersalaman dan mencium punggung tangan panti, Tian berpamitan.
"Tolong jaga Melati baik baik ya Nak Tian, Bunda harap, kejadian seperti kemarin tidak akan terulang lagi." Ucap Bunda disertai menepuk pelan pundak Tian saat ia mencium punggung tangannya.
"Insya Allah saya akan berbuat sebaik mungkin untuk membahagiakan istri saya Bunda, kejadian kemarin merupakan teguran dari Allah untuk saya, untung saja kami bisa melewatinya."
"Aamiinn,, terima kasih Bunda,," ucap keduanya bersamaan.
"Kak Melati sering sering tengok kami ya kak,,," dengan mata berkaca kaca Jasmine memeluk Melati untuk terakhir kali.
"Iya sayang,,, jika kakak ada waktu luang, pasti ke sini jenguk kalian semua." Melati mencium kening Jasmine, lalu kedua pipi kanan kirinya.
__ADS_1
"Sudah,, sudah,,, nanti kak Mel kesiangan, Kak Tian juga mesti berangkat kerja. Bukankah setiap akhir bulan kak Tian selalu kemari, nanti Kak Melati pasti ikut."
Ibu panti memeluk Jasmine dari belakang ingin menenangkan gadis kecil itu. Jasmine hanya menganggukkan kepalanya.
Setelah memasukkan koper Melati ke garasi mobil, Tian pun membukakan pintu mobil untuk istrinya, setelah Melati masuk ke dalam mobil, Tian membantu memasangkan sabuk pengamannya. Setelah itu ia berjalan memutari mobil dan masuk ke dalam kursi mengemudi. Setelah melambaikan tangan sambil mengucapkan salam, akhirnya mobil Tian melaju meninggalkan halaman panti.
Selama di perjalanan, senyum Tian selalu mengembang melihat kearah istrinya.
"Mas kenapa senyum senyum terus, ada yang lucu ya,,," Melati mencoba berdamai dengan hatinya, membuang semua rasa sakit yang telah tertoreh cukup dalam, meskipun itu sangat sulit baginya.
"Tidak ada yang lucu,,, tapi aku bahagia sekali karena kamu mau pulang lagi ke rumah. Maafkan aku ya sayang,,, mulai sekarang kita buka lembaran yang baru lagi. Dan aku sudah menyiapkan semuanya untuk kita."
Senyuman terus menghiasi bibir Tian, ia sudah membayangkan bercinta dengan istri yang sangat dirindukannya tanpa ada pengganggu nantinya.
"Mas Tian,,,, kenapa senyum terus sih,,, pasti ada yang mas sembunyikan ya,,, ayo bilang,,, atau aku akan ngambek lagi, mau,,?"
"Tunggulah sayang,,, nanti kamu juga akan tahu sendiri,,,aku akan memberikan kejutan yang akan membuatmu bahagia,,," Tian terus tersenyum meski melihat wajah istrinya yang terlihat berpikir keras menebak apa yang dirahasiakan suaminya.
__ADS_1
bersambung,,,,,