
...🌿🌿🌿...
Wira nampak berlari ke arah Andreas untuk melihat situasi. Dan benar saja, Anna sudah hampir tidak sadarkan diri di dalam mobil dengan nafas yang tidak teratur.
"Minggir! Aku akan memeriksanya!"
Andreas hendak menghentikan Wira, namun segera di tahan oleh Ken.
"Tuan! Biarkan dia memeriksa dulu!" Ucap Ken.
Andreas yang terlihat marah, dengan hati terpaksa membiarkan Wira untuk memeriksa Anna. Sebab, untuk pergi ke rumah sakit pun ini akan memakan waktu yang cukup lama dan akan berakibat fatal jika tidak di berikan pertolongan pertama.
"Cepat! Ambilkan peralatan medis ku di dalam mobil!" Perintah Wira. Salah satu anak buahnya pergi dengan setengah berlari menuju mobil belakang dan mengambil tas berisikan alat medis yang selalu Wira bawa kemanapun.
"Ini tuan!" Ujar anak buahnya sambil menyerahkan tas medis Wira.
Wira mengambil tas itu dan segera memeriksa keadaan Anna setelah diberikan pertolongan pertama.
Anna yang terlihat sesak nafas, kini sudah mulai tenang. Akan tetapi, tubuhnya masih sangat lemah dan tidak bisa membuka matanya sebab pengaruh dari obat yang di berikan kepada Anna.
"Apa yang terjadi? Sana pergi!" Andreas segera mendorong tubuh Wira kebelakang.
"Anna! Sayang! Ada apa denganmu? Kenapa kamu seperti ini?" Ucap Andreas cemas seraya mendekap serta membelai lembut rambut kepala Anna.
__ADS_1
"Dia tidak akan meresponmu karena dia dalam pengaruh obat!" Jawab Wira menyeka ucapan Andreas kepada Anna.
Andreas menoleh dengan sorot matanya yang tajam, "Apa yang kamu lakukan kepada Anna ku?" Teriak Andreas marah.
"Bukan aku! Aku bersumpah bukan aku yang membawa Anna kesini atau membuat Anna seperti ini. Aku bersumpah!"
"Jika kalian tidak percaya, tanyakan saja kepada ke empat pria itu. Kami berkelahi karena merekalah yang menculik Anna." Lanjut Wira yang mencoba menjelaskan semuanya kepada Andreas.
Andreas dan Ken nampak menoleh kepada empat pria yang kini sudah babak belur. Dan benar, sebelum mereka sampai disana, dari kejauhan memang terlihat ada yang sedang berkelahi.
"Ken! Hukum mereka sampai mereka tidak lagi berani menyentuh istriku. Jebloskan mereka ke penjara! Cari tahu apa keinginan mereka yang ingin menculik istriku! Jika mereka tidak ingin bicara, potong saja lidahnya!" Perintah Andreas yang terdengar begitu kejam dan tidak berperasaan. Siapapun yang mendengar perintah Andreas, maka mereka akan bergidik ngeri dan menjauhi diri dari masalah bersama Andreas
"Baik tuan!" Jawab Ken. Ken pun pergi memerintahkan anak buahnya untuk membawa ke empat pria itu untuk di interogasi. Dan sesuai perintah Andreas, lidah ke empat pria itu akan di potong jika tidak ingin berbicara.
"Anna! Maafkan aku! Maafkan aku sayang!" Andreas memeluk tubuh Anna sambil menangis penuh penyesalan. Karena dialah Anna sampai mengalami ini semua. Jika saja dia mengatakan perasaannya sejak awal, Anna tidak akan pergi meninggalkan dirinya dan tidak akan mengalami situasi seperti ini lagi.
"Andreas!" Seru Wira. Dia pun enggan melihat bagaimana Andreas memeluk Anna, jadi dia hanya menunduk sambil sesekali melihat ke arah Andreas dan Anna di dalam mobil.
"Ada yang ingin aku katakan." Lanjut Wira ragu.
"Apa? Katakan saja!" Jawab Andreas sedikit ketus. Namun masih setiap membawa Anna di dalam dekapannya dan mencium kening Anna tanpa henti.
"Melihat ciri-ciri dan reaksi Anna tadi. Aku mengira seseorang telah memberikannya obat Anti-depresan dengan dosis yang tinggi" jawab Wira.
__ADS_1
"Lalu apa ini akan membahayakan Anna?" Tanya Andreas cemas.
"Iya. Obat jenis ini biasanya diresepkan untuk memperlambat denyut jantung dan menurunkan tekanan darah. Sayangnya, obat ini juga dapat 'memblokir' bahan kimia penting seperti norepinefrin dan epinefrin, sehingga menyebabkan masalah memori dan hilang ingatan." Jelas Wira.
Kedua mata Andreas membulat, dia menatap wajah Anna dengan penuh penyesalan.
"Anna! Maafkan aku!" Andreas semakin sedih. Namun, detik berikutnya dia kembali mengangkat wajahnya.
"Apa hilang ingatan ini permanen? Bagaimana jika dia melupakan aku? Lalu, apa dia akan melupakan anaknya juga? Tidak! Ini tidak boleh terjadi. Anna. Sayang. Tolong jangan hukum aku dengan cara seperti ini! Jangan lupakan aku Anna!" Andreas berbicara dengan nada khawatir. Dia semakin mengeratkan pelukannya dan sangat menyesali perbuatannya kepada Anna.
Wira hanya bisa menarik nafas dalam-dalam, "Apa takdirku akan tetap seperti ini? Aku mencintainya, tapi pria lainlah yang mendekap tubuhnya" batin Wira sedih. Mau bagaimana lagi, dia juga belum memiliki hak jika Andreas masih berstatus sebagai suami untuk Anna. Setidaknya, dia masih mengingat batasan sebagai seseorang yang memilik harga diri.
"Bawalah ke rumah sakit! Lebih cepat lebih baik."
Mendengar itu. Andreas baru tersadar. Dia bergegas menggendong tubuh Anna dan membawanya ke mobil miliknya tanpa memperdulikan Wira yang sejak tadi menatap Anna dengan wajah cemas.
.
.
.
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa untuk memberikan like dan komen ya kk ☺️