Majikan Kejam Itu, Suamiku!

Majikan Kejam Itu, Suamiku!
Bab 52


__ADS_3

...πŸ€πŸ€πŸ€...


"Maaf Anna. Tolong maafkan aku! Maafkan aku, seharusnya aku lebih mempercayaimu dari pada perawat itu. Maafkan aku!" Andreas berucap sambil memeluk tubuh Anna dengan sangat erat. Rasanya begitu enggan dia lepaskan.


"Aku tahu Mas. Kamu akan percaya kepadaku. Aku hanya mengkhawatirkan mu, aku takut kamu kenapa-kenapa tadi!" Jawab Anna.


Andreas pun melepaskan pelukannya sambil tersenyum kearah Anna. Kedua tangannya memegang wajah Anna. Detik berikutnya, dia mengecup pucuk kepala Anna dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang.


"Terimakasih karena selalu mengerti aku. Maafkan aku yang juga selalu membuatmu khawatir." Ujar Andreas lagi.


Anna tersenyum senang, "Aku selalu akan ada untukmu Mas. Mau itu senang atau susah, aku akan selalu bersamamu"


"Anna! Ayo kita pergi menemui anak kita!" Ajak Andreas. Anna mengangguk, lalu Andreas menggenggam tangan Anna dan membawanya pergi menuju ruangan Arsy.


Sesampainya disana. Andreas dan Anna nampak tersenyum, menemui bahwa Wira sudah ada disana. Bahkan, Arsy sudah mendapatkan golongan darah yang cocok dan Wira berserta Dokter yang menangani Arsy juga ikut hadir disana.


"Wira! Ini?" Andreas bertanya sambil menunjuk darah yang kini sudah mulai diberikan kepada Arsy.


"Maaf! Aku tidak memberitahu kalian lebih dulu. Aku dan Dokter Riswan sudah memeriksa Arsy. Kebetulan ada seseorang yang mendonorkan darah dengan golongan darah yang sama ke pihak rumah sakit. Jadi aku menyuruh Dokter Riswan untuk lebih cepat bertindak. Sekali lagi maaf. Aku tidak bermaksud untuk mendahului kalian soal Arsy." ujar Wira lagi memohon maaf.


"Tidak Wira. Aku bahkan berterimakasih karena kamu selalu menolong kami. Sekali lagi terimakasih banyak" jawab Andreas cepat. Menyudahi rasa bersalah yang selalu diucapkan oleh Wira.

__ADS_1


Arsy nampak tenang dan tidak rewel. Kali ini tidak seperti sebelumnya yang sempat rewel. Mungkin, dia merasa senang karena melihat kedua orang tuanya yang kembali bersatu. Begitulah pikir Andreas.


"Andreas. Boleh aku bicara?" Ucap Wira. Andreas sontak menoleh kepada Wira, lalu akhirnya mengangguk mengiyakan.


Wira dan Andreas pun pergi ke luar ruangan. Mereka nampak duduk di salah satu kursi di koridor rumah sakit.


"Kamu ingin membicarakan apa?" Tanya Andreas segera.


"Aku sudah melihat cctv rumah sakit. Aku melihat Rayana pergi kesini kemarin sore. Dia bertemu dengan perawat yang turut memeriksa darahmu tadi. Aku curiga bahwa ini adalah ulah Rayana." Jawab Wira dengan wajah serius.


Andreas menatap Wira, lalu seperdetik kemudian, dia merasa geram, "Rayana lagi, Rayana lagi. Kenapa wanita itu selalu saja membuat ulah? Aku merasa sangat membencinya saat ini. Sikapnya yang jahat telah membuktikan bahwa dia memang tidak baik. Sepertinya aku telah ketinggalan jauh mengenali sifat Rayana." Ujar Andreas geram.


"Sebaiknya kamu lebih hati-hati. Anna dan Arsy, adalah orang yang akan menjadi incarannya." Jawab Wira mengingatkan.


Wira mengangguk senang. Lalu dia pun berdiri sambil berkata, "Aku akan pergi. Kamu hati-hati, apalagi Abi dan Rayana masih belum ditemukan!" Jawab Wira, lalu pergi meninggalkan Andreas yang masih duduk di kursinya.


Andreas nampak diam berpikir, "Rayana sudah ada ditangan ku Wira. Aku akan membuat dia menyesal telah membuat Anna menderita. Dan Abi, tunggu saja, aku juga akan menghukum mu!" Geram Andreas.


Usai berbicara dengan Wira, Andreas pun kembali ke ruangan anaknya. Disana sudah ada ibu dan ayahnya yang datang menyusul untuk melihat keadaan Arsy. Semuanya nampak sangat akur, apalagi Anna begitu pandai mengambil hati mertuanya. Mereka sangat akrab, bahkan tak bisa dipungkiri bahwa Buk Santi telah menganggap Anna sebagai anak sendiri dan bukannya sebagai menantu.


Andreas tersenyum bahagia, lalu menghampiri semua orang sambil tersenyum ramah.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan Arsy, sayang?" Tanya Andreas. Dia duduk di tepi ranjang sambil mengusap rambut Arsy yang sedang tertidur.


"Sudah membaik. Demamnya juga sudah turun. Kata Dokter, jika besok demamnya sudah sepenuhnya turun dan darahnya juga sudah stabil, Arsy sudah bisa pulang." Jawab Anna menjelaskan.


Andreas pun nampak tersenyum senang, "Syukurlah. Aku senang mendengarnya!" Jawabnya tersenyum.


"Ma. Mama mau makan apa tadi? Kita pesan makanan di luar aja ya?" Anna beralih kepada mertuanya sambil bertanya.


"Terserah kamu saja! Sini deh, mama mau nunjukin baju bagus untuk kamu, kira-kira kamu suka gak?" Buk Santi nampak antusias dan membawa Anna duduk. Keduanya pun nampak saling mengobrol dengan sangat akrab. Andreas yang melihat semua itu, merasa sangat bahagia.


"Semoga tetap seperti ini ya tuhan! Jangan engkau ambil lagi kebahagiaan ini" Doa Andreas didalam hatinya.


Setelah sesaat dia terlihat tersenyum, kini wajahnya berubah tajam, "Tunggu pembalasan ku Rayana. Kamu akan menyesal telah membuat kesalahan ini!" Batin Andreas menggeram.


.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


Jangan lupa untuk memberikan like dan komen ya ☺️


__ADS_2