
...🌿🌿🌿...
"Sus. Tolong periksa lagi! Bagaimana mungkin golongan darah saya tidak cocok? Saya ayahnya! Saya ayah kandungnya!" Ucap Andreas panik sekaligus syok. Rasanya ini tidak bisa di percaya. Matanya beralih kepada Anna dengan wajah kesal. Perasaannya sangat kacau, benar-benar kacau sampai dia tidak bisa berpikir dengan tenang.
"Mas...A-a-aku....i-ini tidak mungkin!" Ucap Anna tergagap. Dia benar-benar tidak tahu harus menjelaskannya dari mana, keadaan ini sangat menyulitkan dirinya.
"Sus. Apa ini tidak bisa diperiksa lagi?" Tanya Anna kepada perawat itu.
"Maaf Buk. Ini sudah hasil akuratnya, walaupun diperiksa lagi, hasilnya akan tetap sama!" Jawab perawat tersebut.
Andreas merasa kepalanya sangat sakit. Mendadak perasaannya menjadi kacau. Hatinya bertanya-tanya kenapa hal ini bisa terjadi. Jika Arsy bukan anaknya? Lalu siapa ayahnya?
Memikirkan ini, Andreas ingin sekali berteriak. Kepalanya terasa berputar, Kenangan ketika Anna menangis mengetahui dia hamil, dan menuduhnya sebagai pelaku yang telah menghamilinya waktu itu, bersemayam di dalam pikirannya.
"Hahhhhhh" Andreas mendecah sambil berlari pergi.
"Mas!" Teriak Anna cemas. Dia mengejar suaminya, namun sampai di pembelokan koridor rumah sakit, suaminya sudah tidak terlihat, Anna sangat cemas. Segera dia meraih teleponnya dan menelpon nomor Ken.
"Hallo Nona!" Jawab Ken dari balik telepon.
"Ken! Kamu dimana? Cepat kemari! Andreas pergi! Dia sangat syok ketika tahu golongan darah Arsy tidak cocok dengannya. Cepatlah! Cari Andreas. Dia sangat terluka. Aky takut dia kenapa-kenapa!" Perintah Anna kepada Ken.
Ken sontak terkejut mendengarkan ucapan Anna. Jangankan Andreas, dia saja merasa sangat terkejut sampai-sampai tidak bisa mengeluarkan kata-kata.
__ADS_1
"Ken! Apa kau mendengarkan ku?" Teriak Anna dari balik telepon yang terdengar masih cemas.
"Iya nona. Aku mendengarkan mu. Aku akan mencari tuan!" Jawab Ken. Setelah itu. Anna merasa sedikit tenang, dia pun mematikan teleponnya dan pergi mencari suaminya.
Sementara itu. Andreas berdiri di balik dinding koridor rumah sakit. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Antara percaya dan tak percaya, perasaan Andreas benar-benar kacau.
"Andreas!"
Andreas seketika tersentak kaget ketika seseorang memegang pundaknya. Dia menoleh dan mendapati Dokter Wira sudah ada dibelakangnya.
"Wira!" Lirihnya. Lalu mengusap wajahnya yang sempat basah oleh air matanya.
"Ada apa?" Tanya Wira.
"Andreas! Ada apa?" Tanya Wira lagi yang kembali mengulang pertanyaannya.
Andreas mengangkat wajahnya yang tertunduk, "Arsy. Arsy sedang sakit dan membutuhkan beberapa kantong darah. Tapi disaat aku ingin mendonorkan darah ku, perawat yang memeriksa mengatakan bahwa golongan darahku tidak cocok dengan Arsy." Jawab Andreas.
"Aku tidak tahu kenapa itu bisa terjadi. Kenapa aku harus mengetahui ini?" Lanjut Andreas yang merasa tidak habis pikir lagi tentang masalah hidupnya bersama Anna.
"Apa kamu meninggalkan Anna sendirian?" Tanya Wira lagi. Dan Andreas hanya mengangguk mengiyakan.
Wira menggelengkan kepalanya sambil menghela nafas panjang, "Apa yang kamu pikirkan Andreas? Kamu percaya sama hasil tes itu? Kenapa kamu tidak berubah? Aku sudah tau masalahmu dan Anna. Bukannya aku ingin ikut campur tentang masalah rumah tangga kalian. Tapi, seperti yang kamu ketahui, aku juga mencintai Anna. Aku melepaskan dia hanya karena dia mencintai kamu. Mantan istrimu itu bukan orang baik. Dan berita mengenai sahabat mu itu, dia juga sempat bekerja disini bukan? Walaupun dia sudah berhenti, tapi dia masih memiliki jaringan rumah sakit. Aku sarankan, kembalilah. Selidiki lagi. Anna sendirian di dalam. Dia pasti sangat mengkhawatirkan kamu. Jangan percaya apapun selagi Rayana dan Abi masih berada di luar sana. Ingatlah kata-kata ku, jangan sakiti Anna lagi, jika tidak, aku tidak akan tinggal diam dan jangan salahkan aku jika aku mengambil Anna dari mu Andreas. Pergilah!" Ujar Wira panjang lebar.
__ADS_1
Andreas diam sambil berpikir tentang apa yang Wira katakan. Selagi Abi ada di luar. Tentu saja dia tidak akan membiarkan semuanya akan berakhir begitu saja.
Andreas pun memegang pundak Wira dengan kedua tangannya, menatap Wira dengan senyuman tipis, "Kamu benar Wira. Seharusnya aku tidak seperti ini. Sebenarnya, mau itu anak aku atau bukan, aku tidak apa. Karena aku sudah terlanjut mencintai mereka berdua. Aku tidak ingin kehilangan mereka. Terimakasih banyak Wira. Aku akan mengingat ucapan mu" Ujar Andreas setelahnya.
Wira hanya membalasnya dengan senyuman manisnya, "Pergilah. Aku percaya kepadamu Andreas. Jagalah Anna untuk ku!" Jawab Wira.
Andreas mengangguk mengerti, "Terimakasih Wira!" Dia pun melangkah pergi dari sana. Sementara Wira hanya bisa menatap kepergian Andreas yang semakin menjauh dengan wajah penuh harap.
"Semoga saja kamu benar-benar bisa membahagiakan Anna, Andreas." Batin Wira.
Sementara itu. Andreas berlari menuju tempat terakhir kali dia meninggalkan Anna. Namun sesampainya disana, dia tidak menemukan Anna. Dia pun mencari ke seluruh tempat, hingga akhirnya, langkahnya berhenti tepat di depan halaman rumah sakit. Kedua matanya menangkap manik indah yang kini juga menatapnya dengan wajah sedih.
Keduanya saling bertemu tatap beberapa saat, hingga akhirnya Anna melangkah dengan setengah berlari dan menghamburkan pelukannya kepada Andreas. Andreas pun membalas pelukan istrinya dengan sangat erat. Keduanya terhanyut oleh perasaannya masing-masing.
"Maafkan aku Anna!" Ucap Andreas ditengah pelukan eratnya.
.
.
.
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa untuk memberikan like dan komen ya ☺️