
...🌺🌺🌺...
Siang itu. Setelah pergi ke kantor untuk memeriksa laporan perusahaan. Andreas kini sedang menuju rumah sakit bersama Sekertarisnya Ken untuk menjenguk Rayana.
Sesampainya disana. Andreas segera pergi ke ruang rawat Rayana. Dari balik kaca pintu, Andreas dapat melihat keadaan Rayana dari luar. Nampak Rayana dipenuhi luka lebam di wajah dan juga tubuh.
"Ken! Apa mungkin Abi menganiaya Rayana? Tapi rasanya aku tidak percaya jika itu adalah ulah Abi." Lirih Andreas.
Ken juga menatap ke dalam ruangan, "Kenapa tidak mungkin tuan?" Andreas langsung menatap Ken dengan sorot mata tajam, membuat Ken menunduk takut dan menghentikan ucapannya.
"Maaf tuan. Bukan maksud saya menuduh. Hanya saja, belakang ini sikap tuan Abi juga berubah. Perusahaan yang di kelola olehnya juga dalam masa kehancuran. Bisa saja dia merasa stress lalu tidak sengaja memukul nona Rayana untuk melampiaskan kemarahannya" jelas Ken.
Andreas nampak masih diam berpikir, "Itu tidak mungkin Ken. Sebaiknya kita tanyakan saja ke Rayana apa yang terjadi sebenarnya"
Setelah mengatakan itu. Andreas pun memegang kenop pintu dan membukanya.
Rayana nampak menoleh ketika menyadari pintu yang terbuka. Wajahnya nampak sedih. Ketika Andreas sampai dan berdiri di sisi ranjangnya, Rayana langsung memeluk Andreas.
"Andreas! Aku sangat takut Andreas. Aku takut!" Ujar Rayana menangis sambil memeluk tubuh Andreas yang sedang berdiri di samping ranjangnya.
__ADS_1
"Rayana! Lepaskan!" Andreas melepaskan tangan Rayana yang nampak memeluknya dengan erat.
"Apa yang terjadi kepadamu?" Tanya Andreas.
Rayana menatap Andreas. Wajahnya nampak gugup, dan suaranya tergugu dan terlihat kebingungan.
"A-a-Abi. Ma-ma-maksud-ku Abi dan aku di rampok. Aku tidak tahu dimana Abi sekarang. Aku sudah dalam keadaan pingsan!"
Ken yang berdiri di belakang Andreas nampak menyernyit heran. Pasalnya dia belum menceritakan kepada Rayana dimana Abi sekarang. Benar jika dia menemukan Rayana dalam keadaan pingsan, seharusnya Rayana juga tidak tahu bagaimana keadaan Abi dan seperti apa setelah kejadian perampok itu. Memikirkan ini, Ken merasa ada sesuatu yang salah dan disembunyikan oleh Rayana.
"Aku sangat takut Andreas. Aku takut jika preman-preman itu membunuhku!"
"Tenangkan dirimu Rayana. Aku akan mencari keberadaan Abi. Lalu, kenapa kamu ada di rumahnya?" Tanya Andreas lagi.
"Nona Rayana. Apakah kamu tidak tahu jika tuan Abi sudah tidak memiliki proyek pekerjaan lagi di kantor." Sanggah Ken dengan tatapan menyelidik.
Rayana kalah telak. Dia lupa, bahwa Abi sudah bangkrut.
"Katakan sebenarnya apa yang kalian rencanakan? Jangan-jangan Nona hanya membual saja. Disana tidak tampak seperti perampokan. Bagaimana Nona mengklim bahwa ini adalah perampokan" Lanjut Ken menuntut penjelasan.
__ADS_1
"Rayana! Apa itu benar? Apa hubungan kamu bersama Abi?" Tanya Andreas penasaran.
"Jangan percaya kepadanya Andreas. Mana mungkin aku berbohong. Jika tidak perampok, lalu kenapa tubuhku penuh dengan luka seperti ini?"
Andreas menarik nafas panjang. "Baiklah. Aku percaya kepadamu. Istirahat saja. Aku harus pergi!" Jawab Andreas.
"Tunggu!" Rayana menarik tangan Andreas.
"Bisakah kamu disini saja? Aku sangat takut. Aku takut sendirian disini." Pinta Rayana dengan wajah mengiba.
Andreas diam, sebelah tangannya melepaskan pegangan tangan Rayana di tangannya, "Maaf Rayana. Dirumah Anna juga sangat membutuhkan aku. Jadi maaf, istriku juga sakit di rumah dan aku tidak bisa kemana-mana. Istirahat lah. Setelah kau sembuh, aku akan datang kembali!" Ujar Andreas. Lalu melangkah pergi meninggalkan Rayana sendiri.
Rayana mendecah sebal, "Lagi-lagi Anna. Kenapa dia selalu saja menjadi penghalang untuk aku mendekati Andreas. Awas saja kamu Anna!" Geramnya dengan kedua tangannya yang mengepal kuat.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan like dan komen ya ☺️