
...🌾🌾🌾...
"Rayana! Rayana! Kamu dimana?" Teriak Abi yang kini sudah berjalan menuju kamarnya dengan membawa segelas air.
Namun sang empunya tidak terlihat setelah di panggil beberapa kali. Abi menyernyit heran, "Dimana dia?" Gumamnya heran. Sebab tidak biasanya Rayana tidak menyahut kala di panggil olehnya.
Abi merasa cemas. Dia pun mencari di setiap sudut ruangan, namun tidak menemukan dimana Rayana. Namun setelah sampai di ruang tamu, dia menghentikan langkahnya, dan matanya mengarah perlahan ke arah pintu dengan amarah yang sudah menguasai kepalanya.
"Rayana!" Teriaknya marah. Matanya memerah, dengan urat-urat lehernya yang jenjang terlihat keluar.
Diparkir mobil, nampak Ken berdiri di depan Andreas seraya menunduk memberi hormat.
"Kami sudah mengintrogasi pelaku penculikan itu tuan. Tapi tidak seorang pun yang mau bicara. Mereka malah memilih mati dibandingkan memberikan informasinya" lapor Sekertaris Ken kepada Andreas.
Kening Andreas nampak mengkerut, "Apa menurut mu ada orang lain di balik ini? Apa yang mereka katakan?" Tanya Andreas balik.
"Saya menduga memang ada seseorang dibalik semua ini. Salah satu dari mereka memang terlihat berbeda dan takut ketika saya mengancamnya akan memotong lidahnya. Namun temannya entah mendapatkan pisau dari mana, dia langsung melempar pisau itu hingga mengenai tubuh pria itu. Maaf tuan, ini adalah kesalahan saya yang tidak hati-hati, dia sudah meninggal sekarang!" Jelas Ken lagi dengan kepala menunduk penuh sesal.
Andreas menarik nafas dalam, "Cari informasi tentang keluarga mereka. Jika mereka berani bermain licik, maka aku juga bisa bermain licik. Bawa salah satu keluarganya dan ancam mereka lagi. Tapi, pastikan bahwa mereka aman. Gunakan hanya untuk mengancam!" Ujar Andreas memerintah.
__ADS_1
"Baik tuan. Saya mengerti!" Jawab Ken cepat.
"Pergilah!"
"Tuan!" Seru Ken lagi. Andreas yang hendak melangkah pergi, kini menghentikan langkahnya dan kembali berbalik ke arah Ken.
"Ada sedikit masalah di perusahaan cabang. Perusahaan ini dikelola oleh tuan Abi." Lanjut Ken lagi.
Wajah Andreas entah sudah keberapa kalinya mengkerut, sebab masalah selalu saja datang di waktu yang tidak tepat.
"Ada apa dengan Abi?" Tanya Andreas.
"Perusahaan yang di kelola oleh tuan Abi mengalami perosotan penjualan. Perusahaan cabang mengalami kerugian besar. Ini bisa mempengaruhi perusahaan utama tuan. Jika media menyorot berita ini, maka perusahaan utama juga akan terseret!"
"Selain itu. Saya sudah memeriksa laporan keuangan disana setiap beberapa bulan terakhir ini tuan. Omset perusahaan selalu berkurang dan tidak tahu kemana uangnya. Sepertinya, ada yang menggunakan uang itu tanpa ijin dan persetujuan dari perusahaan."
"Ken!" Seru Andreas setelahnya. Ken dengan sigap segera menyahut, "Iya tuan!"
"Lakukan penyelidikan lebih lanjut. Cari tahu kenapa perusahaan cabang sampai mengalami penurunan. Dan satu lagi. Jika kamu menemukan kecurangan dalam perusahaan,. Maka jangan segan-segan memecatnya segera!" Titah Andreas.
"Baik tuan!"
"Satu lagi. Kamu juga harus menyelidiki Abi. Akhir-akhir ini dia sangat jarang mengunjungi ku. Dia juga sangat berubah. Tidak lagi membalas pesan atau telepon ku lagi. Pastikan bahwa dia baik-baik saja saat ini." Ucap Andreas kembali.
__ADS_1
"Baik tuan"
"Pergilah! Aku tidak akan masuk ke kantor dalam beberapa hari ini. Jadi, aku harap kamu bisa mengurus segalanya!"
Setelah mengatakan itu. Andreas pun pergi meninggalkan Ken. Begitupun dengan Ken yang juga beranjak pergi dengan mobilnya menuju kantor cabang perusahaan milik Andreas yang di kelola oleh Abi.
Sementara itu. Di ujung jalan. Rayana nampak berdiri dan menatap ke arah Andreas sejak tadi. Samar-samar dia mendengar ucapan Ken yang mengatakan bahwa perusahaan yang di kelola oleh Abi ternyata adalah perusahaan cabang milik Andreas.
"Ternyata Abi berbohong kepadaku. Dia mengatakan bahwa itu adalah perusahaan miliknya sendiri. Dan ternyata semua itu milik Andreas!" Gumamnya syok.
Selama ini dia berpikir, sikap loyal yang di berikan oleh Abi kepadanya menandakan bahwa Abi lah penguasanya. Dia pikir, Abi adalah pemilik perusahaan itu. Tak disangka, ternyata perusahaan Abi hanyalah cabang dari perusahaan induk milik Andreas. Rasa sesal pun menghampiri perasaannya. Jika saja dia tahu sejak awal, dia tidak akan terjerumus sejauh ini. Hingga membuatnya kehilangan seseorang yang dulu sangat mencintainya dan juga sangat kaya.
"Tidak. Ini tidak mungkin. Aku tidak ingin bersama Abi lagi. Aku hanya menginginkan Andreas. Hanya Andreas. Aku ingin kembali kepadanya bagaimana pun caranya. Aku tidak ingin semua ini akan menjadi milik orang lain, terutama Anna!" Rayana berbicara dengan nada cemas.
"Andreas. Maafkan aku! Aku ingin kembali kepadanya!" Rayana pun melangkah pergi dan ingin menyusul Andreas. Sementara itu, sebelah tangannya tiba-tiba dicekal oleh seseorang dengan kuat. Rayana sampai tersentak dan menoleh dengan wajah takut.
"Abi!"
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.
Jangan lupa untuk memberikan like dan komen ya ☺️