
...🌿🌿🌿...
Kringggggg!
Kringggggg!
"Tuan! Ada telepon dari rumah!" Lapor Ken kepada Andreas.
Kening Andreas mengkerut heran, "Kenapa menelpon? Apa ada masalah?" Tanya Andreas.
"Saya juga Tidak tahu tuan. Saya akan mengangkatnya." Balas Ken. Dia pun mengangkat telepon itu setelah meminta ijin kepada Andreas.
"Tuan! Non Arsy sakit. Nona Anna yang menelpon melalui telepon rumah" ujar Ken setelah kembali kepada Andrea.
Andreas nampak terkejut, "Kenapa tidak menelepon ku langsung? Sekarang dimana mereka?" Kata Andreas panik.
"Maaf tuan. Kata Nona Anna, nomor tuan tidak bisa dihubungi, jadi dia menelepon ku! Mereka sudah ada di rumah sakit." Jawab Ken.
Andreas yang mendengar itupun mengecek handphone miliknya, "Ahh sial. Ternyata aku lupa menambahkan baterai teleponnya. Ayo kita pergi"
Andreas pun melangkah pergi meninggalkan Kantor. Lalu Ken mengikuti dari belakang.
Kini mobil yang Andreas tumpangi sudah membelah jalan dan pergi menuju rumah sakit tempat anaknya di rawat.
Namun ditengah jalan, Andreas tak sengaja menemukan Rayana yang terlihat sangat berantakan.
"Berhenti!"
Ken yang mendengar perintah tuannya tersebut pun menghentikan mobilnya. Dia menatap Tuannya dengan wajah mengkerut. Tanpa mengatakan apapun, Andreas keluar dari dalam mobil dan menghampiri Rayana. Andreas menarik tangan Rayana dan Plakkkkkk!
Bugh!
Keras. Sangat keras. Tamparan itu melayang dengan sempurna ke wajah Rayana, hingga membuat wanita itu terjatuh ke tanah.
Kedua mata Rayana nampak berkaca-kaca, sebelah tangannya memegang pipinya yang terasa panas akibat tamparan Andreas.
"Ini tidak seberapa dengan rasa sakit Anna yang telah kamu perbuat Rayana. Ken! Bawa dia!" Perintah Andreas.
__ADS_1
Ken pun dengan sigap memegang tubuh Rayana dan membawanya ke dalam mobil dengan kedua tangan Rayana yang sudah dia ikat.
"Bawa dia. Aku harus memberikan pelajaran kepada wanita kejam ini. Aku akan kembali setelah menjenguk anakku ke rumah sakit! Pergilah, kamu urus dia, aku akan naik taksi saja"
"Baik tuan!" Hanya itu yang keluar dari mulut Ken. Setelah memberi hormat kepada tuannya, Ken pun melajukan mobilnya meninggalkan Andreas disana.
"Huhhhhhh." Andreas menarik nafas dalam-dalam. Dia benar kesal kepada Rayana. Dia memang pernah mencintai, namun melihat kekejaman Rayana, membuat Andreas menjadi murka dan melupakan bahwa dia pernah mencintai wanita tersebut. Rasanya, jiwa psikopatnya kembali muncul jika menyangkut Anna.
Tidak lama dia berdiri di tepi jalan, sebuah taksi online terlihat berhenti didepannya. Andreas pun segera masuk dan pergi menuju rumah sakit.
"Pak! Tolong cepat sedikit ya! Anak saya sedang di rumah sakit!" Perintah Andreas.
"Baik tuan!" Supir taksi tersebut pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sebagai supir, dia juga harus mematuhi peraturan lalu lintas. Masih melaju kencang, namun Tidak ngebut-ngebutan.
Sesampainya di depan parkiran rumah sakit. Andreas segera turun, dia mengeluarkan uang seratus sebanyak dua lembar, lalu memberikannya kepada supir.
"Pak! Ini kelebihan!" Teriak supir panik.
"Ambil saja!" Jawab Andreas yang balas berteriak seraya terus berlari menuju ruang IGD.
"Tuhan. Tolong selamatkan anak tuan tersebut. Dia sangat baik." Setelah mengucapkan doanya, dia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya sebagai akhir dari doanya tersebut.
Tatapannya menuju ruang IGD, senyuman manisnya melukis indah. Lalu detik berikutnya, dia pun melanjutkan mobilnya meninggalkan tempat.
Sementara itu. Di dalam ruang IGD. Anna sudah memeluk suaminya dengan suara isakkan tangisnya. Dia sangat sedih melihat putrinya sakit dan lemah seperti ini. Dia tidak tahu kenapa, mendadak anaknya mengalami demam tinggi dan muntah-muntah seperti ini. Rasanya hatinya sangat hancur dan sakit. Melihat putri sendiri yang sakit, rasanya tubuh Anna pun juga ikut sakit.
"Mas! Anak kita Mas!" Ucap Anna sedih.
"Tenanglah! Dokter akan melakukan yang terbaik." Jawab Andreas memenangkan Anna.
Jujur. Didalam hatinya juga merasakan kekhwatiran yang sama. Namun melihat Anna seperti ini, dia pun juga ikut tak berdaya. Jika bukan dia yang menenangkan istrinya, siapa lagi?.
Tidak lama, Dokter pun keluar. Andreas dan Anna dengan sigap menghampiri Dokter tersebut.
"Bagaimana keadaan anak kami Dokter?" Tanya Andreas.
"Anak anda sudah melewati masa kritisnya. Untung istri anda membawanya tepat waktu, jika tidak, akibatnya akan sangat fatal" jawab Dokter.
__ADS_1
"Oh ya pak. Anak anda juga kekurangan Zat Besi. Kemungkinan, akan dilakukan transfusi darah. Jika ada keluarga yang ingin mendonorkan darah,.silahkan ikuti saya untuk melakukan administrasi dan pemeriksaan lebih lanjut" lanjut Dokter.
"Saya pak. Saya ayahnya, saya yang akan mendonorkan darahnya!" Jawab Andreas cepat.
"Sayang, kamu tunggu disini, aku akan kembali!" Andreas pun pergi setelah berpamitan kepada Anna.
Di dalam sebuah ruangan, Andreas menyelesaikan administrasi anaknya dan dirinya, setelah itu dilakukan tes darah sebelum akhirnya mengambil darah pendonor.
"Pak! Silahkan menunggu diluar. Tunggu 5 menit lagi, hasilnya akan keluar!" Ujar asisten perawat.
Andreas hanya mengangguk, lalu dia keluar dari ruangan tersebut. Sesampainya diluar, ternyata Anna menunggunya. Andreas sampai menatap Anna dengan wajah heran.
"Kenapa menyusul?" Tanya Andreas heran.
"Aku ingin menemanimu mas!" Jawab Anna.
Andreas pun hanya bisa menghela nafas, lalu membawa Anna untuk duduk di kursi.
"Bagaimana keadaan anak kita? Kamu sudah melihatnya?" Tanya Andreas.
"Belum. Kata perawat belum bisa di jenguk sebelum di pindahkan ke ruang rawat." Jawab Anna.
Andreas membawa Anna kedalam pelukannya, "Tenanglah, anak kita akan baik-baik saja!" Ujar Andreas.
"Permisi pak! Hasilnya sudah keluar. Golongan Darah anda tidak cocok dengan golongan darah putri anda! Ini hasilnya!"
Andreas terkejut bukan main, bagaimana bisa golongan darahnya tidak cocok dengan putrinya? Tatapannya mengarah kepada Anna yang juga nampak sangat terkejut mendengar perkataan perawat tersebut.
.
.
.
Bersambung.
Jangan lupa untuk memberikan like dan komen ya ☺️
__ADS_1