Majikan Kejam Itu, Suamiku!

Majikan Kejam Itu, Suamiku!
Bab 39


__ADS_3

...🌿🌿🌿...


"Kita ke kota Ken. Cari rumah sakit terbaik untuk istriku!" Perintah Andreas.


"Baik tuan!" Jawab Ken yang kini sudah berada di dalam mobil yang sama dan duduk di kursi pengemudi.


Sementara, Bik Susi terlihat cemas yang kini duduk di samping Ken di kursi depan.


"Nona. Semoga Nona selamat dan tidak terjadi hal buruk apapun kepada Nona!" Doa Bik Susi di dalam hatinya seraya melirik kebelakang mobil dengan wajah sedihnya dan menatap wajah Anna yang sudah tidak sadarkan diri.




Wajah cemas serta khawatir nampak terlihat jelas di wajah masing-masing.


Buk Santi dan Pak Edward terlihat datang dengan setengah berlari. Setelah mendapatkan kabar bahwa Anna ditemukan dan masuk rumah sakit, mereka langsung pergi ke rumah sakit.


Sementara, Andreas duduk di kursi samping pintu ruang UGD sembari menunduk menatap wajah anaknya yang kini ada di pangkuannya. Sedangkan Wira membantu Dokter lainnya menyelamatkan Anna di ruang UGD.


Bayi umur empat bulannya ini adalah buah cintanya. Rasanya Andreas sungguh menyesal pernah menyia-nyiakan anaknya dahulu. Rasa bersalah menghampiri perasaannya, memikirkan bagaimana menderitanya Anna dahulu karena ulahnya, sungguh membuat penyesalan sangat ia rasakan. Tak dipungkiri, hatinya sungguh sedih dan takut jika Anna akan benar-benar melupakan dia nantinya.


"Nak!" Seru Buk Santi ketika sampai di dekat Andreas.

__ADS_1


Andreas yang sejak tadi menunduk sedih, tidak menyadari kedatangan sang ibu. Dan kini menoleh dengan tatapan sendu penuh kekosongan.


"Mama!" Gumam Andreas, Lalu berdiri.


Buk Santi menatap sang anak dengan mata berkaca-kaca, sebelah tangannya membelai pipi Andreas, "Sabar ya Andreas. Tidak akan terjadi apapun kepada Anna. Mama yakin, dia adalah wanita yang kuat." Ucapnya. Sementara Andreas hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.


Kini mata buk Santi beralih kepada cucunya, dan dia langsung mengambil alih dan membawa Arsy ke dalam gendongannya.


"Cucuku. Oma sangat merindukan mu sayang!" Ujar Buk Santi sedih bercampur haru. Dia sangat mengkhawatirkan cucunya tersebut dan sangat merindukannya. Rasanya, dia tidak bisa membendung air matanya untuk tidak menangis. Wajah cucunya kini sudah penuh dengan ciuman sayang dan kerinduan oleh kakek dan neneknya.


Andreas hanya bisa tersenyum bahagia melihat kedua orang tuanya yang kini terlihat sangat bahagia dengan kehadiran Arsy di sisi mereka. Begitupun dengan dia. Dirinya tidak akan sanggup berada jauh dari Anna dan Arsy.


Tidak lama, seorang Dokter pun keluar. Andreas segera berdiri dari duduknya dan langsung menghampiri Dokter itu.


Dokter itu menarik nafas, lalu menghembuskan nafasnya perlahan, "Obat sudah masuk ke syarat otaknya dan menyebar dengan cepat. Kami memang sudah menyelamatkan Nona Anna tuan, tapi kami tidak bisa menyelamatkan nona Anna dari dampak obat ini. Nona Anna kemungkinan akan mengalami hilang ingatan secara permanen!" Jelas Dokter.


Kedua mata Andreas membulat dengan air mata yang mulai meluruh sedih. Syok. Itulah yang dia rasakan.


"Itu artinya dia akan melupakan aku! Melupakan segalanya tentang ku dan anaknya!" Gumam Andreas syok. Tubuhnya ambruk kelantai dengan perasaan hancur. Dia menangis sensegukan merasakan betapa tidak sanggupnya dia menerima kenyataan ini. Bagaimana mungkin Anna melupakan dia?


Buk Santi menyerahkan Arsy ke pangkuan suaminya, lalu beranjak dan membantu Andreas untuk bangun.


"Nak! Tenanglah sayang. Mama tahu ini sangat berat. Tapi Anna ada disini bersama mu dan Arsy. Mama yakin dia akan mengingat kalian kembali. Mama yakin itu. Bangunlah Nak. Kita harus menemui Anna di dalam, usap air matamu nak, Anna tidak akan senang melihatmu seperti ini. Ayo ...Anakmu adalah kekuatan cinta kalian. Anna sangat mencintai kamu dan anaknya, perasaan seorang istri dan seorang ibu tidak akan hilang dari perasaannya walaupun dia tidak bisa mengingat kalian berdua. Percayalah, Anna tidak akan melupakan mu di dalam hidupnya!" Ujar Buk Santi panjang lebar meyakinkan serta menguatkan Andreas. Tak du pungkiri, hatinya juga merasakan kesedihan atas musibah ini. Namun, dia harus kuat, jika tidak bagaimana Andreas akan menjalani hidup jika tidak ada dukungan dari orang tuanya.

__ADS_1


Sementara itu, Bik Susi hanya bisa menangis sensegukan di ujung sana menyaksikan betapa menderitanya Andreas. Semua orang mengerti, suami manapun tidak akan ingin istrinya mengalami hilang ingatan, apalagi sampai melupakan keluarganya sendiri. Terutama Arsy. Dia masihlah kecil dan membutuhkan kasih sayang seorang ibu.


"Dok. Boleh kami masuk?" Tanya Buk Santi kepada Dokter yang senantiasa masih berdiri di ambang pintu.


"Bisa Buk. Tapi, tunggulah Nona Anna di pindahkan ke ruang rawat sebentar lagi. Mohon untuk menunggu dulu sebentar!"


Buk Santi hanya mengangguk, lalu membawa anaknya ke untuk duduk kembali sembari menunggu Anna di pindahkan.


Tidak lama setelah itu Dokter Wira pun keluar dari ruangan. Dia sejenak menghentikan langkahnya, menatap Andreas yang nampak masih menangis sedih. Dia hanya bisa menghela nafas berat, lalu melangkah pergi menuju ruang kerjanya.


Sementara itu. Ditempat lain. Abi sangat marah dan melayangkan tamparan ke wajah Rayana.


Plakkkkkkkkk Plakkkkkkkkk.


Rayana terkejut dan memegang pipinya yang terasa panas akibat tamparan Abi.


.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


Jangan lupa untuk memberikan like dan komen ya ☺️


__ADS_2