
...πππ...
Andreas masuk ke dalam ruangan rawat istrinya. Namun langkahnya tiba-tiba saja terhenti ketika dia melihat Wira ada di dalam. Dia nampak menggendong Arsy dan bermain bersama gadis kecil tersebut dengan menutup wajahnya dengan sebelah tangannya sambil berkata (Cilupba) berulang kali dia melakukan hal yang sama, Arsy masih saja tertawa lepas layaknya anak umur empat bulan yang sangat senang tertawa.
Andreas sedikit melukis senyum. Benar dia cemburu jika Wira mendekati istrinya. Dia juga merasa sangat marah jika Wira mencoba mengambil Anna darinya. Namun di balik itu. Dia bersyukur jika Anna memiliki orang baik seperti Wira. Walaupun pria itu mencintai istrinya, Wira selalu menjaga batasannya dan tidak sekalipun dia mencoba menyentuh Anna tanpa ijin atau mencoba melawan Andreas.
Hanya saja, jika Andreas menyakiti Anna, Wira adalah orang pertama yang akan datang menguatkan Anna.
"Anna!" Andreas menyeru setelah melihat Anna terbangun.
Dia segera menghampiri Anna. Sementara, Wira dan keluarga Andreas yang lain nampak terdiam dan menoleh ke sisi Anna. Mereka langsung berdiri dan melangkahkan kakinya mendekat ketika menyadari Anna telah sadar.
"Anna. Jangan bangun, tetaplah seperti ini. Kami ada bersama mu. Berbaringlah!" Ujar Andreas lembut.
Walaupun Anna nampak menatapnya dengan wajah heran, namun dia tetap menurut. Semua orang tersenyum kepadanya, dia tidak tahu harus menanggapi senyuman itu seperti apa. Karena sejatinya dia masih tidak ingat apa-apa saat ini. Hanya saja dia terlihat lebih tenang dari sebelumnya.
"Anna ini anakmu!" Wira memberikan Arsy ke pangkuan Anna.
Anna tidak menolaknya, dia memegang Arsy di dalam dekapannya. Sesekali dia nampak menatap semua orang, namun dia tersenyum ketika melihat Arsy tersenyum ke arahnya.
Hatinya mendadak menjadi tenang dan bahagia ketika melihat wajah Arsy. Entah perasaan seperti apa ini? Anna merasa berbeda ketika memeluk Arsy, seolah dia sangat merindukan gadis kecil tersebut.
Andreas dan yang lainnya ikut tersenyum melihat ini. Setidaknya mereka merasa tenang jika Anna bisa menerima Arsy sebagai anaknya saat ini dan tidak bereaksi seperti tadi ketika dia pertama kali bangun dari pengaruh obat yang diberikan kepadanya.
__ADS_1
Semakin hari. Keadaan Anna semakin membaik. Dia sudah bisa menerima Arsy sebagai anaknya. Hanya saja, dia masih merasa canggung berada di dekat Andreas. Seringkali dia begitu kaku berada di dekat Andreas.
"Ayo!" Andreas mengulurkan tangannya menyambut kedatangan Anna yang kini tengah menuruni mobil.
Mereka sudah sampai di rumah setelah diberikan ijin oleh Dokter untuk kembali ke rumah. Anna nampak merasa tidak asing dengan rumah ini. Dia memindai setiap sudut ruangan yang dia lewati. Semuanya begitu dekat di dalam hatinya.
Beberapa pelayan pun nampak menyapa Andreas dan Anna. Mereka sangat bahagia melihat Anna sudah kembali. Selain baik, Anna juga tidak pernah memperlakukan mereka dengan kasar, sebab itulah mereka sangat senang melihat majikan mereka sudah kembali saat ini.
"Tuan! Selamat datang Nona!" Seru mereka serempak sambil menunduk memberikan hormat.
Anna hanya membalasnya dengan senyuman tipis, menutupi kecanggungan di hatinya. Ini masih terlihat baru di matanya. Namun hatinya merasa begitu dekat kepada semua ini. Rumah ini, taman ini, dapur ini, dan semua orang yang kini mengelilinginya. Dia merasa sangat dekat bersama mereka, tapi Anna bingung kenapa perasaan itu ada Sementara dia tidak bisa mengingat siapapun.
Anna tersentak. Lalu menganggukkan kepalanya setelahnya.
Seorang pelayan pun dengan sigap pergi ke dapur untuk mengambil minum. Lalu menyerahkannya kepada Andreas.
"Ini minumlah!" Andreas membantu Anna untuk minum. Tidak banyak yang Anna katakan. Hanya nampak kebingungan di wajahnya. Dan semua orang memaklumi karena mereka juga tahu kondisi Anna saat ini.
Kringgggggg!
__ADS_1
Kringggggg!
Andreas nampak merogoh saku celananya ketika mendengar suara dering teleponnya. Dia melihat layar handphone nya.
"Sebentar ya. Ada telepon! Berbicara lah bersama semua orang!"
Setelah mengatakan itu kepada Anna. Andreas pun beranjak dari duduk dan berjalan menuju teras taman.
"Hallo Ken?"
"Hallo tuan. Saya sudah memeriksa kantor cabang. Ternyata, tuan Abi yang melakukan penggelapan uang dan membuat Omset perusahaan menurun drastis. Saya juga sudah memeriksa rumahnya, tidak ada siapapun disana selain nona Rayana. Dia terluka dan kini ada di rumah sakit!"
Andreas terkejut. Bagaimana bisa Abi menghianatinya seperti ini? Lalu, apa hubungannya bersama Rayana? Kenapa Rayana ada di rumahnya dalam keadaan terluka? Banyak pertanyaan yang bersemayam di benak Andreas. Terlebih lagi, dia merasa sesuatu yang aneh terjadi ketika Rayana ada di rumah Abi.
"Baik. Aku akan kesana!" Setelah mengatakan itu, Andreas nampak mematung dengan kedua matanya menatap Anna yang sedang tertawa bersama para pelayan dan kedua orang tuanya.
Di balik rasa cemas dan kecewa yang dia rasakan, ada Anna yang membuat senyum itu tidak memudar sedikit pun. Dia pun beranjak pergi begitu saja tanpa memberitahu siapapun. Kini adalah tugasnya untuk menyelesaikan masalah yang terjadi.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.
Jangan lupa untuk memberikan like dan komen ya βΊοΈ