MANTAN YANG TIDAK TERLUPAKAN

MANTAN YANG TIDAK TERLUPAKAN
PENYELIDIKAN PERTAMA ARJUNA


__ADS_3

Di tempat lain ada Reno dan Lisa yang sedang bahagia. Sedangkan di sini ada Al yang sedang berusaha move on. Dan mencari di mana ke beradaan istrinya.


Arjuna mulai berpikir dengan semua kejadian yang terjadi. Akhirnya Arjuna bisa menyimpulkan bahwa Lisa di culik, dan orang yang menculik Lisa adalah seseorang yang berpengaruh.Tapi siapa?.


Akhirnya Arjuna berkesimpulan untuk mencari 2 teman Lisa, yang membawanya ke rumah sakit. Arjuna mendatangi rumah pak Ismail bersama temannya dari ke polisian. Namanya Tedi tugasnya menggambar wajah seseorang. Al mengikuti mereka dari belakang. Di ketuknya pintu rumah pak Ismail.


"Assalamualaikum".


Terdengar suara perempuan membalas salam dari Arjuna.


"Waalaikumsalam."


Pintu terbuka muka Bu Ismail langsung pucat. Melihat Arjuna dan Tedi memakai seragam ke polisian. Suara Bu Ismail terdengar pelan dan gemetar.


"Oh,....pak maaf kakaknya neng Lisa. Ada apa ya pak?."


"Pak Ismailnya ada?."


"A....ada pak ,silakan masuk."


Mereka bertiga masuk ke dalam rumah.Dan Bu Ismail mempersilakan mereka duduk.


"Silakan duduk Pak, saya panggil suami saya dulu."


Arjuna mengaggukkan kepalanya. Bu Ismail masuk ke dalam kamarnya. Dengan badan yang gemetar dan muka pucat. Bu Ismail membangunkan Pak Ismail.


"Pak, bangun Pak ada polisi di luar cari Bapak!."


Mendengar kata polisi Pak Ismail langsung terperanjat. Mendadak kepalanya pusing dan badannya gemetar.


"Bu, ngapain polisi ke sini?."


"Ibu juga ngga tahu Pak, apa kita berterus terang saja. Soal pak Reno dan kawan - kawannya?."


"Jangan bu bisa - bisa nanti rame."


"Terus gimana pak, ibu takut bapak masuk penjara."


"Sudah,ibu diam saja biar saya yang menghadapinya."


Meksipun takut setengah mati. Pak Ismail mencoba tenang. Mereka keluar dari kamar Pak Ismail berkata.


"Maaf pak menunggu lama, saya baru bangun tidur. Saya kaget istri saya bilang ada polisi cari saya. Saya bingung ada apa, yaa?."


Arjuna berkata."Saya harap bapak masih ingat dengan wajah teman Lisa adik saya. Perkenalkan ini teman saya namanya Tedi, beliau sangat handal dalam membuat sketsa wajah. Bapa ingat - Ingat wajah teman Adik saya. Dan Pak Tedi akan menggambarkannya."


Hati pak Ismail sebenarnya sudah takut.Tapi Pak Ismail mencoba untuk tenang. Akhirnya pak Ismail menceritakan wajah dokter Siska dan Reza. Dengan teliti dan sabar Tedi menuangkan ciri - ciri teman Lisa. Melalui sketsa dan gambar wajah selesai di buat oleh sarsan Tedi. Setelah itu menyerahkan pada Arjuna, lalu Arjuna memberikannya pada Pak Ismail. Alangkah kagetnya pak Ismail ternyata gambarnya sama dengan wajah Reza dan dokter Siska.


"Iya, pak ini orangnya yang menolong neng Lisa."


"Kalau gitu makasih pak atas kerja samanya."


Mereka bertiga pergi meninggalkan Pak Ismail yang berkeringat dingin. Ibu Ismail yang dari tadi menunggu di belakang pintu ruang makan, akhirnya keluar juga. Dengan suara panik istrinya menghampiri pak Ismail yang masih terdiam di depan pintu ruang tamu.


"Pak,....pak gimana ?.Saya takut."


Pak Ismail memandang bu Ismail dengan tatapan cemas. "Bapak juga takut bu."


"Ayo pak kita bicara di dalam. Saya takut ada orang yang


mendengarkan percakapan kita." Bapak dan istrinya masuk ke dalam rumah. Istrinya dengan cepat menutup pintu ruang tamu. Sekarang mereka duduk berhadapan. Saling menatap dengan perasaan cemas, Pak Ismail akhirnya menelepon Reza.


"Hallo,pak bisa kita bertemu?."


"Bisa, kita bertemu di warung tegal yang dekat pasar."


"Iya, pak saya tunggu di sana."


Reza matikan ponselnya. Dari nada suara pak Ismail yang pelan dan gemetar. Reza merasakan ada sesuatu yang terjadi dengan pak Ismail. Reza mulai menghubungi bawahannya.


"Hallo, Darwis hari ini saya akan bertemu dengan Pak Ismail. Di warung tegal dekat pasar. Kamu perhatikan Arjuna dan Al dengan seksama."


"Siap bos"


Sambil berjalan menuju lift Reza mematikan ponselnya. Reza merasakan situasi mulai panas. Kalau saja kakaknya Lisa tidak terlibat, masalah ini sudah tertutup rapih.


Reza menuju apartemennya untuk berganti baju. Setelah sampai di kamar apartemen. Reza mulai memilih baju yang akan di pakainya, dengan stelan kasual Reza menganti jasnya.

__ADS_1


Setelah itu Reza menambahkan tompel hitam di bawah matanya, dan memberi kumis palsu di atas bibirnya yang tipis.


Reza tersenyum, sempurna sudah penyamarannya.


Reza keluar apartemen dengan bergegas. Hanya dengan 15 menit perjalanan Reza sudah sampai di pinggir pasar. Reza dengan sengaja parkir mobilnya jauh dari warteg, Reza berjalan dengan santai.


Di dalam warteg pak Ismail mulai resah.Sudah 4 puntung rokok menjadi saksi kegelisahannya. Ketika seseorang menepuk punggungnya pak Ismail dengan reflek membalikkan kepalanya.


"Biasa saja pak. Ini saya Reza."


Pak Ismail mengaggukkan kepalanya. Reza duduk di samping pak Ismail. Dan memesan makan siangnya, Pak Ismail hanya bisa terpaku.


"Bu, saya pesan nasi sayur cap cay rempeyek udang dan sambel."


Setelah itu Reza mulai memakan pesananya.Sambil ngobrol dengan Pak Ismail.


"Ada masalah besar hingga bapak menghubungi saya?".


Pak Ismail mengaggukkan kepalanya dan menceritakan semua kejadian hari ini pada Reza dengan detil.


"Silakan bapak pesan makanannya. Saya sudah kenyang. Bapak tenang saja semua pasti baik - baik saja, asal bapak tetap tutup mulut dan jangan gugup. Saya pulang dulu."


Reza mengeluarkan beberapa uang merah dan memberikannya pada pak Ismail. Sebelum pergi Reza berkata pada mbak warteg.


"Mbak, bapak ini yang akan membayar makanan saya."


"Iya mas.Terima kasih sering mampir ke sini yaa." Reza hanya membalas dengan senyuman.


Reza keluar dari warteg dengan santai, tapi otaknya terus berpikir. Untuk sesaat dokter siska aman, karena dokter siska menyamar ketika mendatangi rumah Al. Tapi dirinya harus mulai waspada.Kapanpun  di manapun dia berada, pasti  polisi akan mencarinya.


Reza tersenyum kecil semua masih aman dan terkendali. Di bukanya pintu mobil, dan Reza mulai menyelusuri jalan yang beraspal dengan tenang.


Senja mulai datang ke macetan menjadi rutinitas yang tidak bisa di elak kan. Di temani lagu Dewa 19 yang berjudul kangen. Membuat Reza bersenandung dan tersenyum tipis.


Apapun akan dilakukan oleh Reza untuk menutupi Reno. Hutang budi yang harus di bayar dengan nyawanya. Akan Reza berikan karena menjadi anak yang terlahir tanpa status. Sangat menyakitkan, beruntungnya Reza di temukan oleh ayah Reno. Karena ibu dan bapak kandungnya lebih senang membuangnya begitu saja. Bersama tumpukkan sampah di depan masjid.


Sedikitpun tidak ada keinginan baginya untuk mencari siapa orang tuanya. Baginya sudah cukup hanya mengetahui ibu panti asuhan dan ayah Reno yang selalu memberikan semua ke butuhannya. Itu semua sudah lebih dari cukup.


Adzan magrib membawanya untuk menghampiri masjid, yang berada di pinggir jalan raya. Semua atribut penyamarannya Reza masukkan ke dalam plastik hitam, semua Reza buang di keranjang sampah depan masjid.


Reza berwudhu dan melakukan sholat jamaah. Setelah selesai sholat magrib Reza meneruskan perjalanan ke apartemen. 45 menit telah berlalu ketika Reza keluar dari mobilnya. 4 orang pria menghampirinya.


"Iya, saya sendiri."


"Kami dari ke polisian meminta waktu dan kerja samanya. Karena ada yang ingin kami tanyakan."


"Okey. Tapi sebelumnya saya harus menghubungi pengacara saya."


"Silakan pak."


Reza menghubungi Restu.


"Hallo,sekarang saya akan ke kantor polisi. Siapkan pengacara untuk saya."


"Okey, hati - hati. Saya akan hubungi pak Oskar untuk menemani kamu."


"Okey."


Reza dan ke 4 orang polisi masuk ke dalam mobil jeef keluaran terbaru. Tidak ada ke takutan atau penyesalan yang terlihat di raut muka Reza. Semua terdiam sampai akhirnya mobil berhenti di kantor kepolisian. Tangan Reza tidak di borgol, karena status Reza hanya sebagai saksi.


Reza masuk ke ruangan intrograsi. Reza hanya akan berbicara ketika pengacaranya datang.15 menit kemudian pengacara Oskar datang, dan intrograsi di mulai.


" Selamat siang perkenalkan saya Arjuna."


Mereka berjabat tangan, dan Arjuna duduk saling berhadapan dengan Reza dan pengacara Oskar.


"Saya adalah kakak dari Lisa.Teman bapak Reza. Maksud saya memanggil bapak ke sini, untuk meminta kerja samanya.Karena adik saya telah menghilang beberapa bulan belakang ini.Terakhir yang saya dapatkan informasi bahwa bapak dan teman dekat bapak yang membawa adik saya ke rumah sakit?."


"Betul, pak saya dan teman dekat saya mengunjungi Lisa untuk bersilahturahmi. Karena kami teman di SMU, dan Lisa baru pindah dari Bandung ke Jakarta. Kami akan mengadakan reuni di Bandung."


Reza dengan tenang menceritakan kronologis saat bertemu Lisa. Semua ceritanya sama dengan cerita pak Ismail. Arjuna melihat tidak ada tanda - tanda yang mencurigakan. Setelah selesai memberi informasi. Arjuna mengucapkan terima kasih dan meminta nomer telfonnya Reza. Reza dengan santun memberikannya. Mereka berjabat tangan. Reza dan pengacara Oskar keluar dari kantor polisi dengan tenang. Tapi Arjuna tetep menyuruh bawahannya untuk mengawasi gerak gerik Reza.


Di dalam mobil pengacara Oskar. Reza menekan nomer Restu.


Reza:


Untuk sekarang semua aman.Tapi kita harus tetap hati - hati.

__ADS_1


^^^Restu:^^^


^^^*O**key, hati - hati*.^^^


Mereka menutup ponsel bersamaan.


Reza buka  setengah jendela mobil. Malam semakin pekat dan ketika melewati banyak pedagang di pinggiran jalan. Perutnya meminta untuk di isi. Pengacara Oskar tertawa terbahak - bahak, ketika suara di perut Reza mulai ramai bernyanyi. Reza hanya tersenyum. Reza memutuskan untuk berhenti di depan pedagang nasi goreng sea food.


Mereka keluar dari mobil dengan bergegas, dan masuk ke dalam tenda. Setelah itu memesan nasi goreng. Sambil menunggu pesanan mereka memakan kerupuk dan memesan teh manis dingin.


Tidak ada percakapan mereka sibuk dengan pikirannya masing - masing. Nasi goreng pesanan telah datang. Mereka dengan lahapnya memakannya.


Seorang anak laki -laki menghampirinya. Ketika penjual nasi goreng mengusirnya. Reza dengan sopan meminta penjual nasi goreng membuatkan 1 pesanan nasi goreng untuk anak tersebut. Anak itu tersenyum bahagia dan langsung duduk di dekat Reza.


" Terima kasih om."


Reza hanya mengaggukkan kepala.Bau keringat anak laki - laki didekatnya, tidak membuat Reza terganggu.Tapi buat Oskar sangat terganggu, Oskar pun pindah tempat.


Dengan sabar anak kumal di dekat Reza menunggu pesanannya. Reza menarik napas panjang, bersyukur bahwa hidupnya lebih baik dari anak kecil di sebelahnya.


Pesanan nasi goreng telah datang. Dengan lahap anak tersebut memakannya. Reza memanggil penjual nasi goreng.


"Mas, saya pesan teh manis dingin satu."


penjual nasi goreng mengaggukkan kepalanya. Reza mulai berbicara pada anak itu.


"Kamu mau pesan nasi goreng buat di bawa ke rumah?".


Anak tersebut menghentikan makannya. Lalu tersenyum bahagia, ada seberkas sinar ke gembiraan di bola matanya yang hitam.


"Mau,mau banget om kalau boleh saya minta 4 bungkus nasi goreng".


Reza tersenyum. Penjual nasi goreng menghampiri mereka, dan memberikan teh manis dingin kepada Reza.


"Ini pesanannya pak."


"Terima kasih, saya pesan 4 nasi goreng untuk di bawa pulang."


"Baik pak, segera saya buatkan nasi gorengnya."


Reza memandang anak kecil di sampingnya. Dia melanjutkan makannya dengan cepat. Setelah selesai menghabiskan nasi goreng. Anak kecil itu meminum teh manis dingin. Butiran keringat terlihat jelas di dahinya, anak kecil itu tersenyum.


"Terima kasih om, nasi gorengnya enak banget."


Reza hanya tersenyum. Mereka saling menatap. Reza melihat ketulusan di mata anak kecil ini. Sedangkan anak kecil ini melihat di mata Reza sinar ke hangatan dari seorang yang penyayang.


"Maaf pak, nasi gorengnya sudah selesai saya buat." Reza tersenyum.


"Semuanya jadi berapa?."


"Semuanya jadi 78.000 pak."


Reza mengeluarkan satu lembar uang merah. "Kembaliannya buat kamu saja"


"Terima kasih pak."


Reza memandang anak kecil itu. Di bukanya kembali dompetnya lalu diambilnya semua uang merah yang tersisa.


"Ini semua buat kamu, dan ini nasi gorengnya. Saya harus segera pulang."


Anak kecil itu memandang uang merah yang di berikan Reza. Reza berlalu di ikuti Oskar di belakangnya. Terdengar suara anak kecil itu memanggilnya.


"Om terima kasih. Semoga Alloh selalu menlindungi mu."


Reza membalikkan badannya melambaikan tangannya. Setelah itu masuk ke dalam mobil. Oskar masuk ke dalam mobil dengan muka dingin.


Di perjalannya mereka hanya membisu. Sesekali Oskar melirik ke arah Reza, tapi Reza tetap fokus menyetir mobilnya.


Malam semakin sunyi. Tiupan angin dingin menyentuh muka Reza yang putih, mobil berhenti di depan apartemen Reza.


"Thanks, tumpangannya saya hubungi kamu kalau ada panggilan lagi dari kepolisan."


Reza dan Oskar keluar dari pintu masing-masing. Oskar berlari kecil menghampiri Reza. Mereka berjabat tangan dan saling berpelukkan.


Oskar berkata, "Take care okey."


Reza tersenyum Oskar masuk ke dalam mobil sport hitam. Dan pergi meninggalkan Reza yang masih berdiri di garasi apartemennya. Dengan langkah tenang Reza masuk ke dalam apartemennya.

__ADS_1


Semua manusia punya jalan hidup yang berbeda.Begitu juga dengan ke beruntungan, dan semua itu menjadi rahasia pencipta. Kita hanya bisa menjalani hidup kita, dengan berdoa dan berusaha.Tidak bisa meminta apa yang menurut kita baik. Belum tentu Baik untuk sang Pencipta. Maka berprasangka baiklah pada sang Pencipta.


"Haiii, guys lama kita tidak bertemu. Seribu maaf semoga di maafkan atas begitu banyaknya waktu saya tidak menulis lagi. Mudah -mudahan ke depannya saya bisa menjaga pola hidup sehat. Supaya tidak cepat ambruk karena serangan virus di luar yang jahat. Hingga saya bisa melanjutkan kembali Novel "Mantan Yang Tidak Bisa Terlupakan" dengan selalu update tepat waktu.Terus kepo in novelku akan banyak kejutan dan cerita beda dari yang lain. 😍😘😘😘


__ADS_2