
Setelah hatinya tenang Lisa beranjak ke kamarnya. Al sedang sibuk memasukkan baju Lisa ke dalam koper. Lisa sering tidak mengerti dengan cara pikir Al. Apa karena perkenalan mereka yang singkat ?.
" Jangan bengong aja. Bantu saya berkemas."
Al menatap Lisa yang terpaku di pintu kamar.
" iya." Lisa menjawab dengan singkat. Lisa mulai memasukkan peralatan kosmetiknya ke dalam tas. Ketika akan membawa sepatu dan sandal. Al memberi saran pada Lisa.
" sepatu dan sandal ambil persatu pasang saja." Lisa menyimpan kembali beberapa sepatu dan sandal yang sudah di masukkan ke dalam tasnya. Lisa duduk di pinggir ranjang. Al sudah beres berkemas, dan duduk di samping Lisa.
" Kamu masih mual dan pusing ? ". Tanya Al sambil memperhatikan wajah Lisa. Lisa memandang Al ,sering ngambek, irit bicara, jarang ngasih pujian dan banyak salah paham.
" Kenapa kamu diam?." Tanya Al. Lisa menangis, lama - lama hatinya bisa remuk kalau hidup dengan Al seperti ini.
" Emang saya nyakitin kamu?." Al mulai cemas karena Lisa memandangnya sambil menangis.
Dalam pikirannya Lisa hanya bisa berkata
" ternyata capek hidup sama kamu."
Al terus memandang Lisa. Al lihat di mata Lisa ada kebencian. Al ingin mengatakan maaf tapi mulutnya seperti terkunci. Yang keluar dari mulut Al perkataan yang semakin menyakiti Lisa.
" Terserah kamu ." Al meninggalkan Lisa di kamarnya. Lisa beristighfar, di hapus nya air mata Lisa dengan kedua tangannya. Hp Lisa berbunyi di layar tertera nama Reno. Lisa hanya bisa memandang hpnya. Perasaannya campur aduk. Betapa kagetnya Lisa mendengar teriakkan Al. Di belakang badannya. " Angkat hpnya berisik."
Hampir saja jantungnya copot. Lisa akhirnya mengangkat hpnya. Dan Al di hadapannya.
" Assalamualaikum." Suara Lisa sedikit gemetar
" Waalaikumsalam, kamu sakit?." Tanya Reno.
" Oh kamu Reno, saya sepertinya tidak bisa ikut reuni. Sore ini saya ada keperluan mendadak dengan suami saya." Lisa berharap Reno mengerti maksudnya. Al yang curiga, akhirnya merebahkan badannya di ranjang.
"Kamu mau pergi ke mana ? Cepat katakan."
Reno mulai panik.
"Saya ada keperluan keluarga pergi ke Jakarta." Jawab Lisa dengan hati yang berdebar.
" Kapan ?. " Tanya Reno tidak sabar menunggu jawaban dari Lisa.
__ADS_1
" Dengan pemberangkatan kereta sore. Lain kali saya ikut reuninya." Lisa mematikan hpnya.
Disisi lain Reno langsung memanggil seketarisnya untuk memesankan tiket kereta. Tidak akan terulang lagi untuk kesekian kalinya. 8 tahun bukan waktu yang sebentar untuk menemukan Lisa lagi. Reno berpikir bagaimana caranya supaya Lisa kembali padanya.
Ketika Lisa akan meninggalkan kamar. Al memanggilnya. " Kamu mau kemana?."
Dengan berat hati Lisa menjawab.
" keluar sebentar." Al bangun dari tidurnya dan memeluk Lisa.
"Lebih baik kamu istirahat dulu. Kasian baby nya kecapean." Entah kenapa ketika Al memeluknya. Lisa merasakan kerinduan di diri Al. Lisa terbuai oleh kecupan Al di keningnya. Seperti terhipnotis Lisa akhirnya tidur bersama Al.
Suara Adzan duhur membangunkan mereka.
"Lapar ." Kata Lisa sambil memandang Al, yang masih malas membuka matanya.
" Mau makan apa?." Tanya Al dengan membuka matanya. Al baru sadar mata Lisa bengkak.
" Kenapa kamu lihat saya kaya gitu?." Tanya Lisa pada Al penasaran.
" Jangan sering nangis. Wajah kamu kelihatan jelek." Kata Al tertawa. Lisa langsung membalikkan badannya. Al memeluk Lisa dari belakang.
" ya sudah terserah kamu." Al melepaskan pelukkannya , dan pergi meninggalkan Lisa yang masih kesal.
Lisa ingin berteriak karena kesal. Di gigitnya bantal untuk meredam marahnya. Sabar itu ada batasnya. Lisa bertekad dalam hatinya. Ketika anaknya lahir dia akan meninggalkan Al, dan kembali pada Reno.
Pernikahan yang hambar dan selalu salah paham membuatnya muak. Di tambah Al yang cepat ngambek membuat Lisa selalu memendam amarah. Al seperti tidak bisa berkata manis.Yang keluar dari mulutnya perkataan yang pedas.
" Di depan ada yang jualan bakso. kamu mau ?." Tanya Al di pintu kamarnya. Sebenarnya napsu makannya sudah hilang. Tapi Lisa tidak mau baby nya kelaparan. Dengan berat hati Lisa mengaggukkan kepalanya. Al menghilang dari pintu kamarnya. Lisa pergi ke kamar mandi untuk berwudhu.
Al membawa mangkok berisi baso ke kamar. Di lihatnya Lisa sedang bermunajat. Sayang Al tidak tahu isi permintaan istrinya. Yang terdengar hanya isak tangsinya. Al menunggu Lisa di meja makan. Berpikir sejenak kenapa istrinya sering menagis dan marah.
"Yang mana baso untukku?." Tanya Lisa pada Al.
"Yang ini." Kata Al dengan sambil menunjukkan mangkok baso yang isinya lebih banyak.
" Al ,ini kebanyakkan." Suara Lisa yang sedikit keras membuat Al kaget.
" Katanya ibu hamil makannya harus banyak. Saya pesan baksonya di tambah." Kata Al dengan expresi muka tanpa dosa.
__ADS_1
Lisa tertawa melihat expresi muka Al. Al menatap Lisa dengan gemas.
" Kamu, harusnya banyak tersenyum dan tertawa. Bukan menagis dan marah." Kata Al sambil memegang tangan Lisa.
" Kalau saya bicara yang sejujurnya. Pasti kamu marah. Dan saya pasti makin benci sama kamu." Lisa menatap Al dengan tatapan marah. Al terdiam mengulang kembali perkataan istrinya didalam otaknya.
" Saya tidak akan marah.sekarang kamu harus jujur apa salah saya?." Mata Al menatap Lisa .
Lisa menarik napasnya dengan berat hati.
" Kamu , kalau bicara banyak nyakiti hatiku. Sering ngambeknya, irit bicara, jarang ngasih pujian, salah paham terus." Al termenung.
" Dari dulu saya sudah pernah bilang sama kamu.Saya tidak bisa bucin dan sebangsanya. Yang harus kamu paham saya akan selalu melindungi kamu." Lisa memakan baksonya dengan muka cemerut.
" Kamu cinta sama aku?." Tanya Lisa sambil memandang Al serius.
" Kalau ngga cinta kenapa ada baby di perut kamu". Al tersenyum manis.
" Bilang l love you gitu. Saya pengen denger." Kata Lisa dengan suara manja dan memohon.
Al memandang Lisa. Secepat kilat Al mencium bibir Lisa. Dan pergi membawa mangkok baso yang kosong. Lisa hanya bisa bengong sesudah itu tertawa bahagia. Dalam hati Lisa berkata,
" Al apa susahnya bilang I Love you."
Akhirnya Lisa dan Al pergi ke Jakarta. Di dalam kereta Lisa kaget luar biasa. Reno bisa satu gerbong kereta dengannya, dan kursi Reno di belakang kursinya. Wangi parfum Reno membuatnya teringat kembali akan masa lalunya. Lisa lihat Al memejamkan matanya sambil mendengarkan Lagu dengan headphone nya. Hp Lisa berbunyi ternyata tebakkan nya benar, Reno dan Reno lagi. Lisa membaca pesan dari Reno.
" Alamat rumah kamu di mana?." Lisa bingung, karena belum pernah ke kontrakan rumah Al yang di Jakarta.
" Bukan urusan kamu. Please lupain saya."
Di belakang kursinya Lisa mendengar suara Reno. Berbicara dengan seseorang.
" Cari alamatnya sampai ketemu. Sekalian cari juga di hotel mana suaminya berkerja."
Suara Reno yang lantang membuat Lisa merinding mendengarnya. Lisa baru sadar Reno seorang Anak pengusaha yang terkenal Se Asia Tenggara. Relasinya ada di mana - mana. Reno memang bukan tandingannya.
Selanjutnya Apa yang akan terjadi?.
Apa Lisa bisa bertahan dengan Al yang dingin?. Atau kembali pada Reno yang bucin?
__ADS_1