
Happy holiday, ingat ya dirumah aja 🤭 aku kembali, semoga suka.
_____
Setelah kejadian beberapa hari yang lalu felisha pikir hubungan nya dengan delvin akan membaik, namun tetap saja delvin seolah masih menjaga jarak dengan felisha. Hal yang membuat felisha bingung adalah sikap delvin yang tetap tidak mau bersentuhan dengan felisha, padahal malam itu saat delvin mencium nya. Felisha pikir delvin akan melakukan hal yang lebih, memalukan memang namun felisha mengharapkan lebih dari delvin.
Pagi ini felisha sengaja terlihat berbeda, pakain yang ia kenakan begitu tipis sehingga menampakkan tubuh indah felisha.
Felisha berusaha menarik perhatian suaminya, bukan hanya gaya busana nya saja yang berubah. Namun sikap felisha yang semakin perhatian pada delvin, ia bertekad mendapatkan hati delvin.
Delvin merasakan perubahan sikap felisha, ia tahu betul apa yang felisha inginkan. Jujur sebenarnya delvin merasa sangat kasihan pada felisha, ia berpikir bahwa felisha gadis yang tidak beruntung karena harus menikah dengan delvin.
"Apa hari ini aku boleh ikut ke galeri?" Tanya felisha pada delvin.
Delvin terdiam sejenak, jujur ia bingung mau menjawab apa. Selama ini ia belum pernah mengajak orang yang ia kenal masuk kedalam galeri nya, bahkan chirs sekalipun.
"Boleh, tapi jangan merengek minta pulang ya" Kata delvin memperingati felisha.
Felisha memanyunkan bibirnya, imut sekali menurut delvin.
"Siap pak bos" Jawab felisha dengan santai nya.
Setelah itu delvin dan felisha pergi bersama-sama ke galeri seni milik delvin.
Sesampai nya di galeri, felisha di buat salut melihat semua karya hasil delvin. Setiap lukisan yang di buat delvin seolah menarik perhatian felisha, indah dan penuh arti.
"Keren banget sih, aku gak nyangka ini semua kamu yang buat." Puji felisha yang tak percaya dengan hasil karya delvin.
"Aku memang keren dari dulu" Jawab delvin penuh percaya diri.
Felisha tertawa kecil, "Boleh lah tunjukkan aku cara melukis semua ini, aku pengen liat kamu melukis di depan aku."
"Baiklah, kalau begitu kemari aku tunjukkan ruang kerja ku."
Dengan girang nya felisha mengikuti langkah delvin, beruntung sekali felisha kali ini.
Setelah masuk kedalam ruang kerja delvin, mata felisha memperhatikan seluruh ruangan. Felisha pikir ruangan nya tidak akan serapih ini tapi setelah masuk semua pikiran tersebut hilang.
Ruangan nya sangat rapih, bersih dan nyaman. Pantas saja delvin sering memilih berlama-lama di galeri.
Delvin duduk di salah satu bangku sambil melukis, tanpa berkedip felisha memperhatikan apa yang di lakukan oleh suaminya tersebut.
Karena terlalu fokus memperhatikan delvin sampai-sampai felisha tak sengaja menyenggol sebuah lukisan yang tadinya tertumpuk dengan barang-barang lain.
__ADS_1
Felisha terkejut melihat lukisan yang ia tak sengaja terjatuh oleh nya, lukisan yang menggambarkan sosok dirinya dengan senyum yang indah.
Seolah tak percaya felisha mengambil lukisan tersebut, "Ini aku?" Tanya felisha.
Delvin membulatkan matanya tak percaya lukisan tersebut ada di tangan felisha, dengan cepat delvin merebut lukisan tersebut dari tangan felisha.
"Jangan salah paham, aku membuatnya karena bingung harus melukis apa." Kata delvin berbohong.
Felisha tetap tak mengerti dengan sikap delvin, "Sebenarnya aku sangat senang kamu melukis aku, itu sangat indah." Ujar felisha.
"Tapi aku memang menggambar ini karena aku tidak punya ide lain." Elak delvin.
"Cukup! Tolong akui saja kalau kamu juga menyukai aku. Aku bahkan sangat mencintai kamu, berhenti bersikap seperti ini dan coba Terima aku."
"Aku tidak bisa." Jawab delvin singkat lalu berbalik berniat meninggalkan felisha.
Namun felisha menghentikan delvin dengan menarik pergelangan tangannya, "Kenapa? Kenapa kamu tidak bisa mencintai aku? Apa karena aku tidak pantas untukmu, atau ada wanita lain?"
"Bukan itu masalah nya!" Jawab delvin frustasi dengan pertanyaan - pertanyaan yang di ajukan oleh felisha.
"Lalu apa! Tolong katakan!"
"Ya karena aku bukan lelaki normal, aku tidak pantas untuk mu!" Tanpa sadar delvin mengakui dirinya seorang gay pada felisha.
"Maaf, maaf karena aku tidak pernah menceritakan yang sesungguhnya. Tapi aku benar-benar merasa bersalah, aku tau kamu bisa mendapatkan lelaki yang lebih baik dari aku. Aku pasrah jika kamu memilih untuk meninggalkan aku, aku Terima itu semua." Ujar delvin dengan rasa bersalah.
Felisha seperti kehabisan kata-kata, hatinya sangat mencintai delvin. Tapi ia harus bagaimana jika keadaan nya seperti ini.
Dengan langkah gontai felisha tidak menjawab permintaan maaf delvin, ia malah berbalik meninggalkan delvin.
"Aku mohon maafkan aku" Kata delvin menghentikan langkah felisha.
Felisha seolah menghindari delvin yang hendak menyentuh lengannya, "Aku butuh waktu, tolong biarkan aku sendiri." Kata felisha lalu pergi.
•••
1 minggu setelah pertengkaran delvin dan felisha, dengan terang-terangan felisha selalu menghindari delvin. Bahkan ia jadi sering pulang kerumah orang tua nya, tidak pernah menyiapkan sarapan pagi ataupun menunggu kedatangan delvin.
Delvin kadang berusaha mengajak felisha bicara, tapi sayang felisha tidak pernah merespon nya.
Felisha seperti nya benar-benar tidak mau di ganggu, ia butuh waktu untuk menerima semua permasalahan yang ada di hidupnya.
Hari ini felisha mendapat telpon dari ibu mertuanya, ia di undang untuk makan malam dengan keluarga delvin.
Sebenarnya felisha ingin menolak tapi ia sadar bahwa keluarga mereka tidak boleh tahu akan kekacauan rumah tangga mereka, jadi dengan sangat terpaksa felisha mengiyakan ajakan makan malam dirumah delvin.
__ADS_1
Felisha pergi bersama dengan delvin, saat perjalanan delvin berulang kali bertanya pada felisha namun felisha tidak menjawab. Ia memilih untuk diam sambil melihat kearah samping.
Sesampainya dirumah delvin, keduanya di sambut oleh beberapa pelayan. Rumah mewah tersebut memiliki banyak asisten rumah tangga, dan mereka semua mempunyai tugas nya masing-masing.
Delvin sendiri merasakan ada yang aneh dengan di undang nya dia ke acara makan malam orang tuanya.
Sampai akhirnya mereka sekarang sedang menikmati makan malam yang telah di siapkan oleh orang tua delvin.
"Felisha? Ini kan sudah 3 bulan setelah pernikahan kalian apa tidak ada tanda-tanda dirimu sedang mengandung?" Tanya mamah delvin pada felisha.
Felisha hampir saja tersedak mendengar pertanyaan mamah nya delvin, "Be-belum mah." Jawab felisha terbata.
"Kalian tahu kan maksud dari pernikahan kalian, ingat dua keluarga kita butuh penerus. Kalau sampai felisha belum hamil juga dalam waktu 3 bulan kedepan maka segera lah berpisah, ini sudah kesepakatan awal yang kita buat dengan orang tua felisha." Ujar mamah nya delvin
Delvin dan felisha nampak tak percaya dengan apa yang di katakan orang tua delvin, bahkan felisha hampir menangis mendengar itu semua.
"Mamah ini apa-apaan sih, dulu kalian memaksa kita untuk menikah. Sekarang kalian juga yang menyepakati perpisahan untuk kita, ini rumah tangga aku dan felisha. Mamah ataupun keluarga felisha tidak bisa seenak nya mencampuri hubungan kita!" Bentak delvin emosi.
"Berhenti bersikap egois delvin! Ingat ini semua demi kelangsungan bisnis kita semua." Tegas ayah delvin ikut bicara.
Delvin tersenyum pahit, ia merasa bahwa dirinya seperti boneka harus selalu mengikuti kemauan orang tuanya.
"Sudah cukup aku pergi." Jawab delvin lalu menarik lengan felisha untuk membawa nya pergi bersama.
"Delvin! Berhenti mamah dan ayah belum selesai bicara!"
Delvin tak mendengar panggilan dari orang tuanya ia memilih pergi dari rumah tersebut.
Diperjalanan felisha berusaha untuk tegar, ia seperti nya sudah lelah dengan apa yang terjadi.
"Mustahil aku hamil dalam 3 bulan, bahkan berhubungan badan saja tidak pernah." Kata felisha dengan nada pasrah.
"Aku akan berusaha jadi lelaki normal aku mohon tolong beri aku kesempatan. " Ujar delvin.
"Sudahlah, kita akhiri saja seperti yang orang tua kita inginkan."
Delvin menggengam lengan felisha, "Kenapa kamu menyerah seperti ini, tolong beri aku kesempatan sekali saja"
"Bukan aku yang menyerah tetapi kamu yang tidak pernah berjuang, selama ini kamu yang tidak jujur dan kamu pula yang tidak pernah memberi aku kesempatan. Lalu apa sekarang? Kamu ingin aku beri kamu kesempatan? Jangan harap!"
Felisha memalingkan wajah, berusaha menghindari kontak mata dengan delvin.
Ia mulai menangis tanpa suara, sudah sedari tadi ia menahan diri untuk tidak terlihat menyedihkan di hadapan delvin maupun mertuanya.
Bersambung...
__ADS_1