MARRIAGE SCANDAL

MARRIAGE SCANDAL
3. MARRIAGE SCANDAL


__ADS_3

Pesta pernikahan selesai, delvin dan felisha kini telah berada di apartemen baru milik mereka. Apartemen yang kini mereka tempati adalah apartemen pemberian dari orang tua felisha, keduanya sepakat untuk tinggal berpisah dari orang tua mereka masing-masing.


Delvin menatap pantulan dirinya di cermin, ia merasa miris dengan hidupnya sendiri. 30 menit delvin habiskan untuk diam di kamar mandi, ia berharap saat keluar dari kamar mandi istrinya akan tertidur. Bagi setiap pasangan pengantin baru malam pertama mungkin moment yang sangat di dambakan, tapi hal itu berbeda dengan delvin. Tak ada sedikitpun minatnya untuk menyentuh Felisha, atau lebih tepatnya delvin tak bergairah pada perempuan.


Lama berdiam diri akhir nya delvin memutuskan untuk keluar dari kamar mandi, delvin terkejut karena felisha ternyata belum kunjung tidur. Istrinya itu malah duduk di atas ranjang sambil menyandarkan punggungnya.


Felisha tersenyum manis, "Aku baru tau ada lelaki yang mandi nya lama banget." Kata felisha dengan nada gurauan.


Felisha menjadi begitu canggung karena delvin tak merespon perkataan nya barusan, delvin sendiri malah memilih untuk membaringkan tubuhnya di sebelah felisha dengan posisi membelakangi.


Hati wanita mana yang tak sakit jika berada di posisi felisha, namun dengan sabarnya felisha tetap tak marah pada sikap delvin. Ia terus menguatkan hatinya, ia yakin bahwa sikap delvin akan berubah.


Felisha menarik selimut dan menutupi tubuh delvin, "Selamat malam." Gumam felisha pelan.


Delvin sebenarnya belum tertidur, ia memejamkan matanya begitu erat. Ia berharap bahwa malam ini akan berlalu dengan cepat, sikap baik felisha malah semakin membuat delvin tak nyaman.


Tidak ada malam yang panjang bagi mereka, keduanya tidur dengan posisi saling membelakangi.


                              °°°


_Dirumah sakit_


Setelah semalaman tak sadarkan diri kini chirs mulai membuka kelopak matanya, indra penciuman nya menangkap bau obat-obatan.


Saat mata chirs terbuka seutuhnya, ia mulai menyadari bahwa kini dirinya sedang berada di ruangan rumah sakit.


Perlahan chirs mulai bangkit dari posisi nya, tubuhnya terasa begitu lemas. Sekelebat ingatan mulai bermunculan, ingatan dimana ia datang ke pernikahan delvin dan pingsan di depan gedung. Karena ingatan tersebut kepala chirs kembali terasa pening, ia memegangi kapalnya berusaha untuk meredakan rasa sakitnya.


Tiba-tiba suara pintu terbuka membuat chirs mendongak, kini di hadapannya telah hadir  Heru asistennya.


"Bos sudah sadarkan diri ternyata, makan lah ini dan minum obatnya." Kata Heru seraya menunjukkan makanan dan beberapa obat yang ada di atas meja.


Heru mungkin lebih tua dari chirs tapi ia selalu memanggil chirs dengan sebutan bos, chirs padahal sudah memperingati nya agar memanggil namanya saja ketika mereka berada di luar kantor tapi Heru sudah terbiasa dengan ini.


"Aku harus segera ke kantor tolong siapkan pakaian ku." Kata chirs, belum sempat ia melepas selang infusnya tiba-tiba lengan Heru menghentikan kegiatan chirs.


"Sebaiknya bos istirahat dulu, ini perintah dokter." Kata Heru

__ADS_1


Chirs tersenyum, ia menganggap bahwa sikap Heru sangat kekanak-kanakan. Chirs hanya merasa pusing jadi kenapa ia harus berlama-lama dirumah sakit begitulah pikir chirs.


Chirs dengan cepat menepis lengan Heru, ia melepas selang infus nya dengan paksa. "Kalau aku tak hadir di kantor, Ansell dan ayahnya pasti akan merasa sangat leluasa untuk mencari kesalahan ku" Kata chirs penuh penekanan.


Heru menghembuskan nafas pasrah, ia tau bahwa bos nya adalah orang yang keras kepala dan tak mudah tergoyahkan. "Baiklah, tapi anda tetap harus meminum obat yang dokter berikan"


Chirs perlahan turun dari ranjang, ia ingin cepat-cepat keluar dari rumah sakit itu. Suasana hatinya semakin buruk jika ia berlama-lama disana, dengan cekatan Heru mengambil beberapa barang milik chirs.


Saat keluar dari rumah sakit, mobil milik chirs sudah terparkir. Tadi pagi Heru langsung mengambil mobil chirs yang tertinggal karena saat pingsan chirs di bawa oleh ambulans.


Kali ini Heru yang menyetir, ia takan membiarkan chirs mengemudi di saat kondisinya seperti ini.


Chirs melirik kearah Heru yang sedang fokus mengemudi,"Semalam sebelum aku pingsan, aku melihat seorang gadis membantuku."


Heru kembali teringat pada gadis yang menolong chirs semalam, ia belum sempat menceritakan nya pada chirs. "Ah gadis itu juga menemani anda semalam di rumah sakit," Balas Heru dengan santai.


Kening chirs mengkerut, "Apa kau sudah memberinya imbalan?" Tanya chirs pada Heru. Chirs tak terbiasa dengan bantuan orang lain, ia tak suka yang namanya hutang budi.


"Saya tidak tau siapa dia, tapi saya sudah memberikan kartu nama saya. Saya yakin dia pasti akan menghubungi."


Chirs memutar bola matanya bosan, ia tak suka dengan jawaban yang diberikan Heru. "Cari tau siapa dia! Kau tau kan aku tak suka berhutang budi dalam hal apapun." Kata chirs dengan tegas.


Sesampainya mereka di kantor, chirs jadi pusat perhatian para pegawai. Karena ini kali pertama chirs nampak berantakan dengan mengenakan pakaian tidur dengan tambahan jaket panjang.


Chirs belum sempat pulang ke apartemennya dan langsung  memilih untuk datang ke kantor, walau begitu chirs tetap percaya diri dan tak menghiraukan pendapat orang lain.


"Pakaian Anda sudah siap, panggil saya jika ada lagi yang anda butuhkan." Kata Heru lalu meninggalkan chirs sendiri di ruangannya.


Sesegera mungkin chirs memakai pakaian yang sudah di siapkan oleh asistennya, setelah chirs berganti pakaian ketampanan chirs semakin terlihat.


Kini ia mulai membaca berkas-berkas yang menumpuk di meja kerjanya, chirs tak bisa membayangkan jika ia sampai tak masuk kantor sehari saja pasti banyak kerjaan yang akan terbengkalai. Ia tak akan membiarkan hal itu terjadi, pekerjaan selalu menjadi nomor satu bagi chirs.


Ada beberapa pekerjaan yang menguras waktu dan tenaga chirs akhir-akhir ini, ditambah lagi masalah pribadinya, itu sebabnya tubuh chirs langsung drop semalam.


Tok tok


Chirs menghentikan kegiatan nya, dan menoleh kearah pintu. Ternyata orang yang masuk keruangan nya adalah heru, chirs penasaran apa yang membuat asistennya datang.

__ADS_1


Heru memberikan sebuah foto dan kertas pada chirs, "Ini gadis yang semalam membantu Anda, namanya nayara dia tinggal di pinggiran kota. Dia pernah bekerja di sebuah restauran Jepang, dan baru-baru ini ia mengundurkan diri. Ayah nya sudah meninggal dan ia tinggal berdua dengan ibunya." Kata Heru dengan jelas, ia bahkan mencari tahu semua tentang nayara.


Chirs memperhatikan foto nayara yang di berikan oleh asistennya, "Kerja bagus." Hanya kata itu yang keluar dari mulut chirs, mungkin terdengar sangat singkat tapi begitu lah cara chirs memuji asistennya.


"Sebaiknya saya saja yang menemui gadis itu, " Kata heru yang merasa tak nyaman atas kesalahan nya semalam tidak langsung memberikan imbalan pada nayara.


Chirs menggeleng pelan, "Biar aku saja, aku akan keluar menemui nya sekarang." Kata chirs membantah perkataan Heru.


Tanpa berpikir panjang chirs langsung berdiri dan keluar dari ruangannya, di loby ia tak sengaja berpapasan dengan ansell. Dengan santainya chirs berjalan melewati ansell seperti tak menganggap keberadaan nya, ansell sendiri hanya menanggapi dengan senyuman kecut atas sikap dingin chirs.


Butuh sekitar 40 menit untuk sampai ke alamat yang di berikan oleh asistennya itu, chirs tak meminta bantuan supir atau apapun. Ia memilih untuk mengemudi sendiri, lagipula ini adalah kegiatan pribadinya.


Setelah perjalanan cukup panjang sampai lah chirs di sebuah rumah, ia memperhatikan rumah itu dari dalam mobil. Belum sempat ia keluar dari mobil tiba-tiba seorang gadis keluar dari dalam rumah, gadis yang chirs yakini sama seperti gadis yang ada di dalam foto. Chirs membuka pintu mobilnya, ia keluar dari mobil dan berjalan menuju nayara.


Nayara sendiri hanya diam di tempat dengan ekspresi penuh tanda tanya karena kedatangan chirs, ia baru tersadar bahwa chirs adalah laki-laki yang semalam ia tolong ketika chirs sudah berada tepat di depannya.


"Apa kamu ingat saya?" Tanya chirs berusaha memastikan.


Nayara tentu ingat dengan jelas, "Kamu orang yang semalam, apa kamu sudah sembuh? Bukankah dokter menyuruh mu untuk istirahat." Jawab nayara.


Chirs mengeluarkan amplop dari saku celananya, dan memberikan amplop tersebut pada nayara. "Ini untuk mu ambilah."


Nayara mengambil amplop yang di berikan oleh chirs, kemudian ia membuka amplop tersebut. Mata nayara membulat sempurna saat mengetahui isi amplop itu, "Uang, ini untuk apa?" Tanya nayara kebingungan.


"Anggap saja itu imbalan untuk kamu karena telah membantu saya." Kata chirs dengan santai.


"Oh begitu, seperti nya kamu memang orang kaya. Kalau begitu saya ambil uang ini. " Balas nayara lalu memasukan uang tersebut kedalam tasnya.


Awalnya chirs berpikir bahwa nayara akan menolak uang yang ia berikan, tapi ternyata itu sebaliknya.


Chirs menatap nayara dengan tatapan yang sulit di artikan, "Apa kamu sangat membutuhkan uang?"


Nayara tersenyum, "Siapa manusia di dunia ini yang tak membutuhkan, sayang sekali jika aku menolak uang ini. Hal yang paling aku suka adalah uang." Kata nayara dengan sangat jujur.


Ini pertama kali nya chirs bertemu dengan gadis seperti nayara, "Lain kali bisakah kita pergi minum?"


Nayara menaikan sebelah halisnya. "Tentu saja, " Jawab nayara. Tentu nayara tidak akan menolak kesempatan seperti ini.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2