
Hey, bangun! ucap angel dan menepuk pelan pipi Nala.
Nala akhirnya sadar, dan membuka matanya.
Namun justru ia berteriak semakin keras,karena mendapati lelaki dalam mimpinya ada di hadapannya.
"Aaaaaaaaaa,"
"Pergi bedebah,"
"Pergi,"
"Pergi," teriak Nala.
"kau kenapa," tanya angel yang masih belum mengerti.
"aku bilang pergi! hiks hiks hiks," teriak Nala sembari melempari angel dengan bantal.
tangisan Nala membuat angel paham, jika ada kaitannya dengan kesalahan angel dalam mimpi Nala.dengan perasaan heran dan bersalah pun angel meninggalkan kamar itu.
Sedangkan nala kini tengah duduk dan memeluk kedua lututnya.
Punggungnya bergetar sebagai tanda bahwa ia tengah menangis saat ini.
Nala bermimpi dimana angel tengah menaik turunkan tubuhnya di atas Nala sembari mencumbu nya.
Meskipun dalam mimpi itu Nala terlihat menikmatinya, namun berbeda dengan realita tubuhnya yang menolak.
Dengan sedikit kesadaran pada kejadian itu ia agak mengingat setiap kejadian walau tidak sepenuhnya.
"Hiks... Hiks... Hiks...."
"Kenapa mimpi itu hadir lagi," gumam Nala.
Benar, beberapa hari yang lalu mimpi itu juga datang menghampiri Nala. namun lebih parahnya lagi, lelaki dalam mimpinya hadir di alam nyatanya.tentu Itu yang membuat Nala semakin terpuruk.
"Hiks... Hiks.... Aku benci dia,"
"Aku jijik melihatnya,"
"Aku benci. aku benci," teriak Nala sembari melempar semua bantal di atas ranjangnya ke sembarang arah.
Lain lagi angel, kini berbaring di atas sebuah sofa di ruang TV.mau tidak mau dia harus tidur di atas sofa.
...----------------...
Malam beralih menjadi pagi, pagi yang indah menghiasi suasana Kota surabaya.
Hangatnya sinar sang surya, menandakan bahwa cuaca cerah hari ini.
Angel yang sudah bangun sejak subuh tadi, dan kembali ke kamar Nala untuk bersih-bersih, dan berganti pakaian guna bersiap pergi kuliah.
Saat angel keluar dari kamar mandi di dalam kamar Nala, ia sedikit terkejut karena mendapati Nala yang tadinya masih tidur, kini sudah beralih duduk di tepi ranjang.
Angel berjalan tanpa menghiraukan Nala di depannya.ada sedikit rasa kecewa dalam hati Nala mendapati wajah datar angel.
Apa dia marah? sehingga dia hanya melewati ku? Batin Nala.
"Angel," sapa Nala.
Angel yang kini sedang duduk di sofa panjang tengah memakai sepatunya pun menghentikan aktivitasnya sejenak, dan menatap dingin Nala.
"Em... Maafkan aku, atas semalam," Ucap Nala.
__ADS_1
Angel hanya menganggukkan pelan kepalanya.
"angel, sebaiknya kita pindah ke apartemen ku saja. ini demi kenyamanan kita berdua," ucap Nala penuh harap.
angel sejenak berpikir.
benar juga, ini demi kenyamanannya.
jika kita terus tidur bersama dalam satu ruangan, itu akan membuatnya semakin tertekan.batin angel.
"aku menurut saja," ucap angel sembari melenggang pergi.
"terimakasih.kau, mau mengerti," ucap Nala.
Sebenarnya angel tidak marah sama sekali dengan kejadian semalam.namun ia enggan mau perbanyak kata.
...----------------...
Sarapan pagi tengah dijalani oleh keluarga dewa sasongko.
Saat ini renita tengah sibuk mempersiapkan hidangan sarapan pagi untuk keluarganya.
Angel yang sedang berbincang dengan Hans, dan juga dewa sasongko.
"Kau pergi kuliah nak," Tanya dewa.
Angel hanya menganggukkan kepalanya.
"Angel, kau bisa memilih salah satu mobil di garasi," kuncinya ada pada satpam. ucap Hans.
"mengenai pekerjaan, kau bisa memilih di bagian mana yang kau sukai. tentu dengan jabatan yang lebih tinggi,dari pada menjadi bartender," ucap Hans lagi.
"Terimakasih tuan muda.tapi semalam, seseorang sudah mengantar motor trail ku. aku lebih nyaman menggunakan motor. soal pekerjaan,aku lebih nyaman dengan profesi ku yang sekarang. aku tidak menginginkan jabatan, karena itu akan membuat ku besar kepala," jelas angel.
"terserah kau saja! aku sudah menawarkan mu, " decak kesal Hans.
"Angel,mulai sekarang berhentilah memanggil kami dengan sebutan formal itu. sekarang kau adalah menantu keluarga sasongko. jadi panggil aku papa, dan kau panggil Hans kakak. karena memang dia kakak dari istri mu," jelas dewa.
Angel merasa sungkan, karena mungkin belum bisa melakukannya untuk waktu dekat ini. dan dia, hanya menganggukkan kepalanya untuk menyudahi topik pembicaraan yang satu ini.
Dari atas tangga terlihat Nala yang sedang melangkah turun dari lantai dua.dengan dandanan rapi mengenakan kemeja biru laut, di padukan celana jeans panjang berwarna biru tua.sesampainya di bawah, ia lantas menyapa beberapa orang di meja makan.
"Pagi, pa,"
"pagi, kak," Sapa Nala.
Hans hanya melempar senyum.
"Pagi nak, ayo duduk," ucap dewa sembari menunjuk kursi disebelah angel duduk
lalu Nala meraih kursi dan menjatuhkan pantatnya.
Hans menatap adiknya penuh tanda tanya.karena penampilan Nala yang sudah rapi itu membuat Hans penasaran.
"Kau mau kemana? bukankah kau cuti hari ini," tanya Hans pada adiknya.
dari mana aku harus memulainya? batin Nala.
Nala menarik nafas dalam, dan menghembuskan pelan.
"Kak, pa, jadi begini.setelah aku pikir sebaiknya aku dan angel tinggal di apartemen ku saja. aku ingin belajar hidup mandiri," jelas Nala.
cih, aku harus berbohong, agar tidak tidur satu kamar dengan si grandong. batin Nala.
__ADS_1
Hans menatap heran pada adiknya.
"Apa kau serius? aku pikir rumah ini cukup besar, dan akan merasa hangat jika kau tetap disini," imbuh Hans.
"Yang dikatakan kakak mu ada benarnya Nala, lebih baik kau disini dulu. lidia, akan sangat kesepian jika kau pergi," tambah dewa.
aduh, si grandong kok diam saja sih. bantu ngomong atau apalah. batin Nala.
Nala memberikan kode dengan mengedipkan mata kepada angel.
"Apa yang dikatakan istri ku benar! jika kami ingin belajar mandiri," angel menyela.
"setidaknya suatu saat, kami bisa menghadapi situasi apapun dimasa depan jika kami belajar dari sekarang," ucap angel.
"pa, biarlah mereka melakukan apa yang mereka inginkan.mereka juga pengantin baru, mungkin mereka butuh ketenangan juga," jawab renita yang tiba-tiba datang dari dapur.
Dewa berpikir sejenak, dan mengurai kata-kata anak dan menantunya.
"Baiklah, asalkan itu bisa membuat kalian bahagia," ucap dewa dengan sedikit terpaksa.
Jelas ia merasa ragu jika angel benar-benar bisa dipercaya.namun dengan segenap hati, dia menepis rasa itu.
setelah sarapan selesai Angel berpamitan untuk berangkat kuliah.sedangkan Nala berjalan menuju mobil, untuk mengantarkan keponakannya terlebih dahulu, sebelum pergi menuju apartemennya.
Lidia adalah anak kecil berumur sepuluh tahun, putri Hans sasongko yang ditinggalkan mati oleh ibunya pasca melahirkan.
"Bibi, apa bibi dan paman akan pindah," Tanya gadis kecil itu.
"Iya, sayang. bibi akan pindah hari ini juga," jelas Nala.
"Terus siapa yang akan mengantarkan aku sekolah,"
"Siapa yang akan mengajariku mengerjakan PR, "
"Membaca dongeng alice,"
"Bercerita tentang noah," rengek gadis kecil itu.
Nala terkekeh mendengar penuturan-penuturan dari mulut Lidia. dia juga merasa tidak bisa jauh dari keponakannya itu, lantas ia berjongkok di depan Lidia.
"Kamu itu cerewet sekali. bibi jadi gemas," ucap Nala sembari mencubit kedua pipi Lidia.
"Bibi pergi tidak jauh kok, jadi kamu kalau Kangen bibi bisa berkunjung, yang mengantar mu sekolah kan ada pak supir," imbuh Nala.
"Hem... Baiklah. Coba kalau aku punya ibu.
mungkin dia yang akan melakukan semuanya," ucap gadis kecil itu dengan mata berkaca-kaca.
"Jangan sedih sayang. anak manis, nggak boleh sedih oke.! sini bibi peluk," ucap Nala sembari merentangkan kedua tangannya.
Lidia pun menghambur dalam pelukan Nala.
"Aku sayang bibi," ucap Lidia.
"Bibi juga sayang kamu,"
"Sudah-sudah. ayo kita berangkat! nanti kamu terlambat," Ucap Nala.
Betapa teriris hati Hans yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua dari dalam rumah.
"Maafkan papa nak. karena tidak becus menjaga ibumu," gumam Hans dengan pipi yang sudah basah.
Bersambung....
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...