Meluluhkan Hatimu

Meluluhkan Hatimu
BAB 10


__ADS_3

"Kamu bilang apa tadi?" tanya Lina memastikan apa yang baru saja di ucapkan oleh Sean.


"Aduh ini mulut kenapa sih gak bisa di jaga." batin Sean merutuki dirianya


"Kamu tadi bilang apa?" tanya nya lagi


"Gak ada, gue gak ngomong apa-apa." sangkal Sean


"Tadi aku dengar kaya nya kamu ongomong sesuatu. Mungkin, aku salah dengar aja kali ya."


"Kamu cantik kok."


"Hah?"


"Tapi mereka nya aja yang gak bisa liat kamu dengan jelas." ucap Sean sambil mengesampingkan rambut Lina yang hampir menutupi wajah nya.


"Tunggu dulu, kamu ngapain?" ucap Lina spontan berdiri dari duduk nya apa yang telah di lakukan Sean tadi.


"Maaf, aku gak sengaja." balas Sean yang tidak kalah terkejut apa yang baru saja dia lakukan tadi


"A-aku mau pulang." ucap Lina gugup ingin meninggalkan tapi lebih dulu tangannya di pegang oleh Sean


"Tunggu, jangan pulang dulu. Disini aja dulu."


"Ta-tapi aku-"


"Please.."


Lina yang melihat Sean memohon seperti itu tidak sanggup untuk meninggalkannya.


"Aku butuh seseorang yang bisa mendengarkan isi hati ku saat ini."


"Memang nya kamu kenapa?" tanya Lina yang kembali duduk di samping Sean


"Entahlah, aku hanya merasa seakan akan gak ada yang peduli terhadap ku."


"Kenapa kamu jadi berpikir seperti itu?"


"Karna bukti nya sudah jelas. Mereka lebih sibuk dengan urusan mereka sendiri daripada peduli ke aku. Aku merasa seakan akan aku gak pernah dianggap oleh mereka."

__ADS_1


"Sean, maksud kamu orang tua kamu?"


"Iya, mereka orang tua aku. Tapi mereka gak pernah sedikit pun peduli terhadap ku. Mereka selalu sibuk Lin, mereka bisa nya hanya merintah aku supaya aku gak bikin malu keluarga. Apa aku gak berharga di hati mereka." lirih Sean


"Sean, dengarkan aku. Kamu itu dicintai oleh orang tua kamu. Jadi kamu jangan berpikir bahwa orang tua kamu gak sayang sama kamu."


"Kalo mereka sayang sama aku. Tapi kenapa mereka terus saja pergi dari aku. Mereka lebih mementingkan urusan mereka sendiri. Aku benci mereka Lin.


" Mereka sibuk untuk mencari uang agar mereka bisa memenuhi kebutuhan yang kamu perlukan setiap saat. Mereka ingin semua keperluan kamu terpenuhi, itu sebab nya mereka sibuk mencari uang untuk kamu. Kamu harus ngerti itu Sean."


"Aku gak perlu semua itu. Yang aku inginkan hanya kebersamaan mereka, aku ingin dicintai seperti dulu. Kamu gak bakal ngerti gimana perasaan aku Lin. Karna kamu gak pernah megalami apa yang aku rasa."


"Aku pernah Sean. Aku pernah ngalamin itu semua. Tapi aku gak seperti kamu yang gak ngerti gimana posisi mereka saat ini. Kamu harus tau juga apa yang mereka rasakan dan kenapa mereka harus melakukan itu semua. Ayah ku adalah seorang Dokter, sedangkan mama ku hanya seorang ibu rumah tangga. Terkadang karena kesibukan Ayah ku sebagai dokter, mengharuskan nya pulang larut malam bahkan gak bisa pulang kerumah karena kesibukan nya. Aku terkadang juga benci dengan kesibukan Ayah ku, tapi aku tau bahwa Ayah ku sibuk bekerja karena dia harus menyelamatkan berjuta-juta orang. Karena profesi nya adalah seorang dokter, dia punya tanggung jawab bahkan bila harus meninggalkan anak dan istri nya dirumah. Aku gak bisa egois Sean. Karena aku harus ngerti kesibukan Ayah aku sendiri. Kamu juga harus ngerti kesibukan orang tua kamu."


"Tapi setidak nya kamu masih ada mama kamu yang bisa kamu ajak berbicara. Sedangkan aku gak ada siapapun Lin."


"Itu benar kalo setidak nya aku masih punya mama ku yang bisa ku ajak berbicara bersama. Tapi kamu gak sendirian Sean. Kamu punya teman-teman dan kamu juga punya banyak penggemar disekolah. Jadi kamu gak sendirian, kamu masih punya mereka yang bisa menghibur mu saat kamu mersa terpuruk."


"Mereka sibuk sendiri Lin. Alvin dan Kevin terkadang gak tau apa yang kurasakan. Dan para penggemar aku bahkan gak tau seperti apa kehidupan aku. Jadi mana bisa mereka mengerti tentang aku."


"Kalo mereka gak ngerti. Setidak nya aku mengerti bagaimana perasaan kamu saat ini. Ingat Sean, kamu gak pernah sendirian. Hanya saja kamu berpikir seolah olah gak ada yang pernah mengerti perasaan kamu. Kamu punya pembantu kan dirumah mu?"


"Kamu harus lebih terbuka kepada para pembantu kamu. Setidak nya mereka yang ada dirumah kamu. Mereka pasti tau apa yang kamu rasakan. Buka lah hatimu untun mereka Sean."


Sean berpikir apa yang baru saja dikatakan oleh Lina ada benar nya. Dia harus bisa membagi kesediahan nya dengan mengungkapkan isi hati nya. Karena dengan begitu mereka akan bisa mengerti apa yang dirasakan nya selama ini. Sean merasa sangat jahat karena dia sama sekali tidak pernah menganggap mereka keluarga, padahal mereka sudah bekerja dirumah Sean sangat lama waktu Sean masih kecil.


"Makasih Lin, kamu udah mau jadi teman curhat aku. Aku sadar, mulai sekarang aku akan bersikap terbuka dan bersikap baik kepada mereka. Karna selama ini aku menganggap mereka hanya seorang pembantu, dan aku sama sekali gak mempedulikan mereka. Tapi kini aku tau apa yang harus ku lakukan.


Sekali lagi makasih Lin." ucap Sean tulus memandang Lina.


"Iya, sama-sama Sean. Baguslah kalo kamu sadar. Mulai sekarang kamu harus menganggap mereka keluarga kamu sendiri."


"Iya, aku ngerti."


"Ya udah, aku pergi dulu ya."


"Kamu mau kemana?"


"Aku mau ke Toko Buku. Ada buku yang ingin aku beli."

__ADS_1


"Kalo gitu aku ikut. Bolehkan?" tanya Sean beranjak berdiri dari duduk nya


"Kamu mau beli buku juga?"


"Gak sih, aku cuma mau lihat-lihat aja. Nanti kalo ada buku yang menarik baru aku beli."


"Ohh yaudah, ayoo."


"Ternyata kamu gak secuek yang aku dengar."


"Emang nya aku cuek ya?"


"Iya, kata teman-teman di sekolah sih kamu sangat cuek. Tapi ternyata gak secuek itu juga, malahan kamu orang nya sangat santai. Jadi kalo bicara sama kamu itu aku merasa enak aja gitu."


"Hemm.."


"Ohh iya, kamu sama Rio punya hubungan apa? Apa kalian pacaran?"


"Gak, aku sama Rio cuma sahabat biasa aja. Gak lebih.."


"Tapi kata mereka kalian berdua pacaran. Soalnya kan kalian kelihatan kaya orang pacaran."


"Aku sama Rio cuma Sahabat. Rio sahabat aku sejak dari kecil. Jadi wajar kalo misal nya kami berdua kelihatan sangat dekat."


"Hemm, apa kamu suka sama dia?"


"Iya, aku suka sama dia."


"Kenapa kamu gak pacaran aja kalo kamu suka sama dia?"


"Maksud aku, aku suka dia jadi sahabat. Bukan suka dia untuk jadikan dia pacar."


"Ohh..baguslah lah kalo gitu."


"Emang kenapa?"


"Gak ada apa-apa."


"Kenapa aku jadi merasa senang saat tau dia gak pacaran sama Rio ya."

__ADS_1


...


__ADS_2