
Di Toko Buku
"Udah dapat buku nya?" tanya Sean
"Belum.."
"Emang nya kamu cari buku apa?"
"Aku cari novel biasa, mungkin ada yang baru. Itu sebabnya aku kesini."
"Novel Romantis?"
"Bukan.."
"Terus apa?"
"Thriller.."
"Apa? kamu suka baca novel yang kaya gitu?"
"Kalo suka sih gak. Tapi aku penasaran sama lanjutan ceritanya."
"Emang nya kamu pernah baca?"
"Iya, aku pernah baca. Tapi gak sampai tamat cerita nya."
"Judul buku nya apa?"
"Judul nya The Dead."
"Ohhh, kalo gitu aku bantu cari di sebelah sana."
"Iya.."
Sean dan Lina terus mencari buku tersebut dari sisi rak ke rak lain nya. Namun mereka sama sekali tidak bisa menemukan buku yang dicari.
"Bagaimanana, udah ketemu?" tanya Lina menhampiri Sean.
"Belum, kaya nya gak ada disini deh. Soalnya dari tadi gak ketemu buku nya."
"Hemm ya udah deh."
"Gimana kalo kita tanya ke penjual buku nya dulu. Kali aja dia tau."
"Iya.."
Mereka mendekati si penjual buku tersebut dan bertanya apakah buku yang dimaksud ada di toko tersebut. Namun si penjual buku tersebut mengatakan kalo buku itu tidak ada di dalam toko dan dia bahkan tidak pernah mendengar judul buku itu.
Sean dan Lina pun memutuskan keluar dari toko tersbut.
"Gimana nih buku yang kamu cari gak ada disini. Bahkan penjual nya gak pernah dengar tentang buku itu."
"Lebih baik kita pulang. Udah siang ini, makin panas hari nya."
"Jangan pulang dulu. Mending kita cari makan dulu."
"Tapi aku mau pulang. Lagian kan kita gak dekat. Nanti kalo ada yang lihat kita gimana?"
"Kamu kan sudah jadi teman aku. Kalo ada yang lihat emang nya kenapa?"
"Nanti malah ribet urusan nya. Apalagi kalo para penggemar kamu yang lihat kita. Bisa habis nasib aku."
__ADS_1
"Kamu tenang aja. Gak bakalan ada yang lihat kok. Udah ayo." ajak Sean tanpa sengaja menggandeng tangan Lina. Lina yang merasakan tangannya di gandeng oleh Sean meminta untuk dilepaskan.
"Sean, lepas."
"Hah, Apa?" tanya Sean bingung.
"Itu tangan kamu." ucap Lina yang menunjuk tangan nya yang sedang di pegang oleh Sean.
"Ohh ini. Maaf aku gak sengaja." ucap Sean malu karena tanpa sengaja dia justru menggandeng tangan Lina.
"Emm..Kita duduk disebelah sana aja ya." ucap Sean
Lina yang mendengar itu hanya menganggukan kepala nya setuju dengan apa yang Sean maksud.
"Kamu mau pesan apa? Biar aku yang traktir."
"Gak usah. Aku bisa bayar sendiri."
"Gak boleh, pokok nya aku yang harus bayar. Soalnya kan yang ngajak makan aku bukan kamu. Jadi biar aku aja yang bayar. Gak boleh ada penolakan."
"Hemm iya.."
"Ya udah, kamu mau pesan apa?"
"Aku terserah kamu aja."
"Beneran terserah aku?"
"Iya terserah kamu aja."
Sean pun memanggil pelayan yang ada di kafe tersebut dan pelayan itu mencatat pesanan apa saja yang dipesan oleh Sean. Setelah itu pelayan tersebut pun pergi untuk menyiapkan pesanan.
"Lin.." panggil Sean yang melihat Lina sedang bermain dengan ponsel nya.
"Kalau lain kali aku ajak jalan kamu mau gak?"
"Aku gak tau Sean."
"Kenapa? Apa kamu gak suka kalo dekat sama aku?"
"Bukan nya gitu. Tapi lihat aja nanti apa aku bisa atau gak. Lagian kan sebentar lagi ujian kelulusan. Jadi aku harus bisa membagi waktu untuk jalan sama belajar."
"Terus kalo misal nya Rio yang ngajak kamu jalan kamu nya mau gak?"
"Kan aku sudah bilang kalo aku harus membagi waktu ku."
"Tapi kalo kamu gak sibuk nanti bisa aja kan kita jalan-jalan."
"Lihat dulu nanti."
"Ohh iya, aku boleh minta nomor ponsel mu gak?"
"Bentar.."
Lina membuka ponsel nya dan Sean mulai mengetik nomor yang Lina sebut tadi. Tidak beberapa lama seorang pelayan datang mambawa makanan dan minuman yang di pesan oleh Sean tadi.
Mereka pun menikmati makanan tersebut dengan hening tanpa berbicara. Setelah selesai makan Sean pun memanggil pelayan tadi dan membayar harga makanan dan minuman yang dia pesan tadi.
Setelah itu mereka pun keluar dari kafe itu.
"Maaf Sean. Sekarang aku harus pulang ke rumah." ucap Lina kepada Sean
__ADS_1
"Iya, aku minta maaf kalo aku sudah memaksa kamu untuk mau menemani aku tadi."
"Iya gak apa-apa. Kalo gitu aku pulang dulu." pamit Lina kepada Sean.
"Mau aku antar."
"Gak usah.." tolak Lina melangkah pergi meninggalkan Sean.
Sean masih diam berdiri melihat kepergian Lina dengan senyum di bibir nya.
"Makasih Lin. Kamu sudah mau menemani aku hari ini." ucap Sean tersenyum
Sean pun melangkah pergi dari tempat nya untuk kembali kerumah.
Setibanya dirumah Sean melihat Marry pembantunya sedang menyiram tanaman.
"Bi.." tegur Sean
Marry yang mendengar teguran tersebut langsung menoleh menghadap Sean.
"Tuan Muda." ucap nya sambil menunduk.
"Bi, mulai sekarang jangan panggil aku Tuan Muda. Tapi panggil lah nama aku Bi."
"Tapi Tuan-"
"Tidak ada bantahan Bi. Sean minta maaf karena selama ini Sean sudah berprilaku buruk terhadap Bibi. Sean menyesal. Sean akan berubah Bi, Sean janji." ucap Sean Lirih
Marry yang mendengar ucapan Sean menjadi terharu. Karena dia tidak menyangka bahwa anak yang sudah dirawat nya sejak kecil selain orang tua Sean, justru meminta maaf kepada nya dan bahkan akan berubah menjadi yang lebih baik lagi.
"Sean.." ucap Marry lirih dan memeluk Sean erat. Sean yang mendapat pelukan tersebut pun membalas nya dengan lebih erat pula.
"Bibi gak benci kan kepada Sean?"
"Bibi gak pernah benci sama Sean. Justru Bibi sangat sayang kepada Sean. Bibi sedih ketika Sean marah-marah, dan bibi juga sedih ketika melihat Sean bersedih karena ditinggal Mama dan Papa Sean."
"Terimakasih Bi..Bibi sudah sangat menyayangi Sean sampai sekarang. Sean juga sayang Bibi. Mulai sekarang Sean bakal lebih terbuka lagi ke Bibi. Karena bibi juga merupakan keluarga Sean."
"Iya, jadi Sean gak perlu menyimpan masalah sendiri. Sean bisa bercerita ke Bibi apa masalas yang Sean hadapi. Karena Sean gak sendiri, Sean punya bibi. Bibi pasti akan mendengarkan apa saja masalah yang Sean ceritakan." ucap Marry terisak
"Iya Bi. Sekali lagi Sean minta maaf karena gak pernah sedikit pun Sean menghormati Bibi."
"Sudah, Sean masuk kedalam sana. Kan Sean belum makan. Jadi makan dulu nanti bibi siapkan, jadi Sean duduk aja di meja makan."
"Gak usah Bi. Sean baru saja makan tadi sama teman."
"Sama Alvin?"
"Gak, tadi Sean makan nya sama Lina. Dia perempuan yang baik Bi."
"Benarkah?"
"Iya Bi.."
"Ya udah, kalo gitu Sean masuk aja kerumah untuk mandi."
"Iya Bi, kalo gitu Sean tinggal ya Bi."
Marry hanya menganggukkan kepalanya. Sean pun memasuki rumah dan menaiki tangga menuju kamar nya untuk mandi.
Marry merasa sangat bahagia karena Sean sudah bisa menerima dirinya. Dia bersyukur karena Sean berjanji akan berubah menjadi yang lebih baik lagi.
__ADS_1
...