Meluluhkan Hatimu

Meluluhkan Hatimu
BAB 17


__ADS_3

Di Kelas 3C


Alvin dan Kevin sedang memperhatikan guru yang sedang menjelaskan di papan tulis.


"Sekarang kalian kerjakan kerjakan halaman 23 di buku tulis kalian. Saya pergi dulu karena ada urusan yang harus saya selesaikan." ucap guru


"Baik bu." ucap para murid


Guru itu pun berlalu meninggalkan kelas.


"Woi Lo tadi lihat Sean gak?" tanya Alvin yang sudah berada di atas meja Kevin


"Iya gue lihat."


"Tadi gue lihat dia keluar dari mobil bareng si cewek cupu itu."


"Terus kenapa?" tanya Kevin cuek


"Menurut gue dia pagi tadi berangkat bareng sama si cupu itu."


"Lo emang lupa atau benar-benar **** sih."


"Maksud Lo apa?" tanya Alvin bingung dengan ucapan Kevin kepada nya


"Lo kan tau sendiri, jangan pernah sebut dia cewek cupu. Kalo Sean sampai mendengar hal itu lagi. Bakal habis Lo."


"Iya gue lupa."


"Maka nya jangan asal ngomong tanpa pikir dulu."


"Iya iya bos ku."


Kevin fokus mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru itu.


"Tapi Sean mau aja ya berangkat sama dia. Padahal dia aja kan biasanya risih kalo di dekati sama cewek." ucap Alvin yang terus mengajak Kevin bicara


"Mungkin karena dia beda dengan cewek lain yang pernah dia kenal."


"Tapi aneh aja sih."


"Mending Lo kembali aja ke tempat duduk Lo. Gue mau ngerjakan tugas, jadi jangan ganggu gue."


"Ya elah, santai aja kali."


"Udah sana pergi." usir Kevin kepada Alvin


Sedangkan di kelas nya Lina, Laras terus meperhatikan Sean. Dia bahkan sama sekali tidak mendengarkan penjelasan guru di kelas nya. Dia masih saja kepikiran tentang kejadian yang dia lihat pagi tadi. Dia berjanji bahwa dia tidak akan membiarkan Sean menjadi milik orang lain selain dirinya.


Setelah tidak lama pembelajran berlangsung, bel istirahat pun berbunyi. Guru pengajar itu pun keluar dari kelas mareka.

__ADS_1


"Laras, kita ke kantin yuk." ajak Susi teman Laras


"Iya, ayo ke kantin." timpal Putri


Laras melirik ke arah Sean. Sean yang melihat Laras menatap nya pun langsung membalikan kepalanya ke arah jendela.


Laras merasa sangat kecewa dengan sikap Sean. Dia pun akhir nya ikut bersama kedua teman nya ke kantin.


Lina yang melakukan aktivitas seperti biasa yaitu membaca buku. Dia sama sekali tidak berniat untuk pergi ke kantin. Sean yang melihat itu menghampiri Lina dengan duduk di atas meja Lina.


"Lin, kamu gak ke kantin?" tanya Sean


"Gak.." balas Lina singkat


"Kita ke kantin yuk." ajak Sean


"Aku gak mau."


"Kenapa?"


"Aku ingin disini aja."


"Hmm ya udah. Aku ke kantin ya." ucap Sean berlalu meninggalkan Lina yang masih sibuk membaca buku nya.


Di kantin Sean membuka lemari es dan mengambil dua botol minum air. Dan disana dia tidak lupa mengambil beberapa roti yang ada di rak kantin itu dan kemudian membayar nya. Di kantin dia melihat Alvin dan Kevin yang sedang memakan makanan dengan lahap nya, dia enggan untuk menyapa mereka karena kejadian kemarin yang membuat nya masih emosi. Padahal untuk apa Ia harus emosi, kan dia tau sendiri bahwa teman nya itu omongan nya memang tidak pernah bisa dijaga. Dia pun melewati mereka berdua dengan membawa roti dan air minum yang dia beli tadi. Tapi saat di melewat teman nya itu, dia menghentikan langkah nya karena ada yang memanggil nya.


"Sean.." ucap orang itu yang tidak lain adalah Alvin


"Soal kemarin gue minta maaf. Bukan maksud gue mau memancing emosi Lo." ucap Alvin menundukan kepala nya


"Hmmm.."


"Ki-kita masih jadi teman kan?"


"Santai aja kali. Tentu aja kita masih jadi teman. Gue juga minta maaf karena kemarin gue udah emosi."


"Nah kalo gini kan bagus." senyum Kevin kepada mereka berdua. Dia senang karena kedua teman nya akhir nya kembali berbaikan.


"Lo gak makan?" tanya Alvin


"Gue mau langsung ke kelas aja."


"Tumben Lo beli roti sama air minum. Untuk siapa?" tanya Kevin yang melihat barang belanjaan Sean


"Rahasia.."


"Untuk siapa lagi kalo bukan Lina. Iyakan?"


"Udah ah, gue mau ke kelas dulu. Nanti ada yang nungguin hehe. Gue duluan." ucap Sean berlalu meninggalkan kedua teman nya.

__ADS_1


Sean masuk kedalam kelas nya dan dia melihat Lina yang masih saja sibuk membaca buku nya. Sean yang melihat itu hanya tersenyum dan menghampiri Lina. Dia memberikan air minum dan roti yang di beli tadi kepada Lina.


"Nih buat kamu."


Lina pun menutup buku nya dan melihaf ke arah Sean.


"Gak usah." tolak Lina


"Kamu gak menghargai aku ya?"


"Apa?"


"Aku sudah capek capek pergi ke kantin buat beli itu semua tapi kamu nya malah nolak."


"Yang nyuruh kamu ke kantin siapa? Aku gak ada bilang loh."


"Setidak nya hargain aku dong."


Sean membuka kan botol air minum itu agar Lina mudah untuk meminun nya nanti. Lina yang melihat itu pun akhir nya menerima pemberian Sean. Sean yang melihat itu hanya tersenyum ke arah Lina.


"Kamu kenapa sih gak mau ke kantin?"


"Aku cuma gak mau kejadian itu terulang kembali."


"Kejadian pas kamu jatuh itu ya."


"Iya, lagian aku lebih suka sendirian di kelas daripada ke kantin."


"Tapi saat sama Rio kamu mau di ajak ke kantin."


"Itu karena dia sahabat aku."


"Tapi aku kan juga teman kamu."


"Kamu dan dia beda."


"Apa nya yang beda?" tanya Sean menatap mata wajah Lina


"Dia itu sahabat lama aku. Sedangkan kamu baru aja jadi teman aku. Dan kalo murid lain nya melihat kita ke kantin bareng, yang ada bisa heboh sekolah ini. Pagi tadi saat aku keluar dari mobil kamu aja banyak para murid yang berbisik bisik melihat kita berdua." jelas Lina karena dia tidak ingin menjadi bahan gosip para murid lain nya.


"Kalo mereka mengganggu, bilang aja ke aku." ucap Sean


Lina yang mendengar itu hanya memberikan senyuman tipis nya kepada Sean. Mereka berdua saling menatap dan tiba-tiba ada seseorang yang memanggil Lina hingga membuat mereka terkejut.


"Lin.." panggil orang itu


"Rio, kamu ngapain ke sini?" tanya Lina kepada orang itu yang tidak lain adalah Rio.


Rio sengaja datang ke kelas Lina untuk memberikan air minum untuk Lina karena dia tau kalo Lina tidak akan berani ke kantin karena kejadian yang telah terjadi beberapa waktu lalu.

__ADS_1


Rio mengalihkan tatapan nya ke arah Sean. Dia melihat Sean dengan tatapan seakan mengintimidasi, Sean pun tak kalah tajam menatap Rio.


...


__ADS_2