
"Ngapain kamu kesini." tanya nya pada sang pria dengan sorotan mata yang tajam
"Emang nya aku gak boleh kesini, lagian kan aku udah sering juga kemari." balas pria tersebut tidak kalah tajam
"Gak boleh."
"Kamu tega sih sama aku. Aku ini kan sahabat mu." rengek pria itu
"Emang aku peduli. Biar kamu nangis darah sekalipun aku gak bakal peduli."
"Waduh,cuek banget sih jadi cewek."
"Biarin aja."
"Kamu emang gak permah berubah Lin. Masih aja cuek kaya dulu." ucap pria itu menatap Lina.
"Kamu juga gak pernah berubah ya. Masih aja suka mengganggu kesenangan ku." balas nya ke pria tersebut yang diyakini bernama Rio
Lina dan Rio adalah sahabat dari sejak umur mereka 9 tahun. Pertemuan mereka terjadi dikarenakan pada saat itu Rio beserta orang tua nya berniat pindah rumah di dekat rumah Lina. Dan semenjak saat itu lah mereka selalu bermain bersama bahkan Rio sering kali datang ke rumah Lina. Akan tetapi saat merek beranjak berumur 13 tahun, orang tua Rio memutuskan untuk pindah ke luar kota karena alasan pekerjaan. Meskipun jarak rumah mereka tidak dekat lagi, Rio masih sering datang berkunjung untuk menemui Lina. Bahkan saat masuk SMA, Rio lebih memilih tinggal seorang diri di apartemen agar bisa satu sekolah dengan Lina. Persahabatan mereka memang tidak bisa diremeh kan.
Keesokan Hari di Kediaman Keluarga Wilbert
Sebuah mobil sedan hitam nampak memasuki halaman rumah yang sangat luas.
Keluarlah seorang wanita dan pria dari mobil tersebut.
"Dimana Sean?" ucap pria tersebut memasuki rumah
"Tuan Muda ada di kamar nya tuan." balas pelayan menunduk
"Papah istirahat aja dulu. Biar mama yang ke kamar Sean." ucap wanita disebelah nya yang tidak lain istri dari pria itu
"Ya udah, kalo gitu papah ke kamar dulu."
Wanita tadi pun mulai menaiki tangga dan masuk ke salah satu kamar.
"Sean, bangun sayang." ucap wanita itu kepada sean yang masih tertidur lelap
"Ini mama sean, masa anak mama gak mau nyambut kepulangan mama sih." ucap nya lagi menggoyang goyang tubuh Sean
"Aduh...ngapain sih ma. Sean masih ngantuk." ucap Sean ke pada mama nya
"Kamu ini gimana sih. Bukan nya menyambut kepulangan mama dan Papah kok malah tidur."
"Emang nya mamah dan papa ada pernah bilang ke aku kalau kalian bakal pulang hari ini."
"Ya gak ada sih. Udah cepetan kamu mandi dulu sana. Biar nanti kita makan pagi bareng." ajak mama nya
"Sean masih ngantuk ma." rengek Sean
"Udah jam 9 pagi Sean. Udah buruan sana mandi." sambil menarik tangan sean untuk bangun
__ADS_1
"Hmm...ya udah mama duluan aja ke bawah. Sean mau mandi dulu."
"Jangan sampai lama mandi nya. Habis mandi langsung ke bawah."
" Iya.."
Ayah dan Ibu Sean adalah seorang pembisnis terkenal didunia. Nama ayah nya adalah Hans Wilbert sedangkan Ibu nya Liliana Aurel Wilbert. Kalau Hans menjalankan perusahaan Wilbert yang bergerak dibidang Teknologi, berbeda dengan ibu nya yang menjalankan perusahaan parfum terkenal. Tapi karena kesibukan mereka yang jarang pulang kerumah membuat Sean sudah terbiasa hidup tanpa kehadiran mereka.
Setelah Sean selesai mandi dan memakai pakaian Dia pun langsung turun kebawah untuk makan pagi bersama orang tua nya.
"Sini Sean, ayo duduk." ajak mama nya
"Bagaimana sekolah mu?" tanya Hans ayah Sean
"Baik." jawab Sean singkat
"Ohh iya Sean. Mama dengar kamu memenangkan pertandingan basket kemarin." ucap mama nya antusias
"Benarkah?" tanya Hans
"Iya Pa, kata teman mama Sean kemarin hebat banget main basket nya. Bahkan para penonton takjub." balas Liliana
"Hebat dalam bermain basket tapi dalam soal pelajaran justru kurang baik." ucap Hans dingin
"Memang nya anda tau apa tentang ku?" tanya sean geram
Inilah yang paling tidak disukai oleh Sean. Setiap makan bersama papa nya selalu saja membahas soal pelajaran.
"Ini masalah ku, bukan urusan anda." teriak Sean menahan emosi
"Berani sekali kamu teriak didepan papa mu sendiri." balas Hans tidak kalah tajam
"Udah Pah, tenangkan emosi papa. Sean gak bermaksud begitu kok. Iya kan Sean?" ucap Liliana mencoba menenangkan
"Terserah." ucap Sean sambil berlalu pergi meninggalkan mereka
"Sean, mau kemana kamu!!" teriak Hans kepada Sean namun tidak dihiraukan
"Papah bisa gak sih jangan berantem terus sama Sean. Setiap ketemu pasti bahas masalah itu mulu." ucap Liliana
"Papa kan cuma mau Sean itu berubah. Bukan hanya main-main aja yang dia pikirkan."
"Tapi kan papa bisa ngomong baik-baik. Kalau gini cara nya yang ada Sean makin menjauh dari kita Pah." ucap Liliana sendu
Sean melajukan mobil nya dengan sangat cepat.
"Kalau gue tau bakal begini. Mending gue gak usah makan bareng mereka. Sial.." geram Sean memukul kemudi mobil
Setelah beberapa menit melajukan mobil nya. Tibalah dia di sebuah apartemen. Dia langsung memencet bek tersebut
"Tumben lo kesini, pasti ada yang bikin lo kesel ya." ucap Alvin membuka pintu
__ADS_1
"Tau ah." balas sean langsung masuk
"Ehhh, gue bahkan belum nyuruh lo masuk. Malah nyelonong masuk aja."
Alvin pun kembali menutup pintu apartemen nya
"Ada urusan apa lo kesini?" tanya Alvin yang melihat Sean sudah duduk di tempat tidur nya.
"Emang nya gue gak boleh kesini ya."
"Bukan nya gak boleh. Tapi tumben banget lo ke tempat gue."
"Kan gue mau berkunjung ke rumah lo. Jadi gak apa-apa kan."
"Gak percaya gue, palingan orang tua lo ada dirumah kan? Maka nya lo langsung kabur kesini."
"Udah tau nanya." balas Sean cuek
"Mending lo pulang aja sana. Gue gak nerima tamu hari ini. Soal nya gue mau pergi keluar hari ini."
"Emang nya lo mau kemana?"
"Gue mau jalan ketemu sama cewek." balas Alvin
"Gue ikut dong."
"Gak boleh."
"Kenapa?"
"Masa lo gak tau sih. Kalau lo ikut yang ada cewek nya gak jadi jalan sama gue, tapi malah jalan sama lo."
"Gue janji gak bakalan rusak momentum lo sama dia." ucap Sean mencoba meyakinkan
"Ya udah. Tapi lo di dalam mobil aja. Jangan ngikutin gue."
"Oke oke."
Mereka pun keluar dari apartemen melangkah ke arah mobil.
Tidak beberapa lama mobil mereka pun tiba disuatu taman.
"Lo jangan ngikutin gue ya. Lo didalam mobil aja atau lo keliling aja naik mobil." ucap Alvin
"Siapa juga yang mau ngikutin lo. Yang ada bosan gue kalo jalan sama lo."
"Ya udah sana."
Sean pun menjalankan mobil nya pelan dan dia melihat seorang perempuan yang sedang berjongkok mengelus seekor anak kucing.
Dia terus memperhatikan wanita itu hingga wanita itu pun mulai berdiri melangkah pergi.
__ADS_1
..