
Di Ruang Kelas 3A
Terlihat seorang guru wanita masuk ke kelas dalam kelas.
"Selamat pagi murid-murid. Bagaimana kabar kalian hari ini." sapa guru wanita itu.
"Kabar kami baik bu." sahut mereka kepada guru tersebut.
"Baiklah, perkenalkan nama saya adalah Widya Sari sebagai Wali Kelas di Kelas 3A. Mungkin sebagian dari kalian sudah mengenal saya misalnya tidak sengaja bertemu di luar sekolah, di kantor, di lingkungan sekolah, atau pun yang pernah menjadi murid tetap di kelas 3A."
ucap guru tersebut memperkenalkan dirinya.
"Disini saya akan memilih salah satu dari kalian untuk menjadi ketua kelas."
"Tapi bukankah biasa nya kami sendiri yang harus menentukan siapa yang lebih pantas menjadi ketua kelas melalui voting suara." ucap salah murid pria di kelas itu.
"Untuk di kelas ini. Saya tidak pernah memberikan wewenang kepada para murid untuk menentukan siap yang lebih pantas menjadi ketua kelas. Ini sudah menjadi kebiasaan bagi para murid kelas 3A. Disini saya lah yang menentukan siapa yang berhak. Apakah kalian keberatan." kata guru itu tegas
Para murid mulai berbisik-bisik. Sean yang melihat ketegasan guru wanita itu hanya tersenyum saja.
"Pantas saja dia gak pernah dapat pacar. Kalau kelakuan nya aja kaya gini." batin Sean sambil tersenyum
Widya yang melihat Sean tersenyum dia langsung menegur nya.
"Sean Wibert." ucap Widya lantang
Mereka yang melihat guru tersebut memanggil Sean langsung melirik Sean yang tertegun mendengar suara Widya.
"Di kelas 3A, kamu yang akan menjadi ketua kelas nya." ucap Widya dengan tersenyum licik ke arah Sean
"APAA?!! Kenapa harus saya?" teriak Sean yang terkejut dan langsung berdiri mendengar pernyataan dari guru wanita itu.
"Kenapa? Apakah kamu tidak sanggup, Sean Wilbert." ucap nya remeh
"Tapi kenapa harus saya?"
"Karena kamu yang paling cocok di kelas ini. Lagian bagus dong kalau kamu jadi ketua kelas, setidak nya dia punya sedikit rasa bangga terhadap mu." jawab Widya santai
"Tante jangan bercanda deh." ucap Sean kepada Widya yang membuat mereka semua melirik ke arah Sean yang telah memanggil guru tersebut 'tante'.
"Aku tidak bercanda. Kamu kan tau sendiri gimana sikap ku selama ini."
Widya dan Sean memang saling mengenal. Widya adalah adik angkat dari papa nya Sean. Widya diangkat oleh Hans menjadi adik nya saat umur nya 10 tahun. Saat ini umur Widya 24 tahun. Karena kejeniusan nya lah sehingga dia bisa menjadi seorang guru disekolah ternama ini dengan umur yang sangat muda.
__ADS_1
"Tapi tante gak bisa gini juga." tolak Sean kesal.
Sean paling tidak suka menjadi ketua kelas. Karena bagi nya menjadi ketua kelas adalah hal yang membosankan dan ribet. Kalau dia menjadi ketua kelas, dia tidak akan bisa berbuat seenak nya lagi dan tidak bisa bebas.
"Kenapa sih Sean? Apa kamu gak berani. Tante pikir kamu bakalan nerima apa yang tante ucapkan ke kamu sama seperti dia."
"Terserah.." ucap Sean kesal karena Widya membahas tentang papa nya.
"Nah kalo gitu kan bagus. Dan untuk wakil nya ibu akan menunjuk Lina Hatson." ucap Widya memandang Lina yang masih sibuk membaca Novel nya
"Bagaimana Lina? Apa kamu setuju?" tanya nya lagi
Lina yang ditanya begitu pun menutup novel nya dan memandang ke arah Widya.
"Saya setuju." ucap Lina singkat
Sean yang tau bahwa Lina lah yang menjadi wakil nya kekesalan nya pun mulai reda.
"Ada untung nya juga jadi ketua kelas. Setidak nya gue bisa deketin dia." batin Sean
"Baiklah kalau gitu. Hanya ini yang bisa sampaikan. Besok pagi Sean Wilbert bersama Lina Hatson harus mengambil buku Sosilogi di perpustakaan. Kalian mengerti?."
"Mengerti Bu." jawab Lina singkat
"Lin, lo udah dengar kan. Kalo besok lo harus bantuin gue mengambil buku di perpustakaan." ucap Sean santai
"Iya.." balas Lina singkat
"Cuek banget sih jadi cewek. Memandang wajah gue aja gak."
Laras yang sedang melihat mereka berbica. Ia langsung menghampiri Sean.
"Sean, pulang nanti kamu ada acara gak?" tanya Laras kepada Sean
"Gue mau jalan sama Alvin Kevin." balas Sean yang terkesan dingin
"Ohh, kalo gitu lain kali aja deh kita jalan. Aku pulang duluan ya, bye." senyum Laras sambil berlalu pergi bersama kedua teman nya
"Lain kali gue juga gak bakalan mau jalan sama lo." batin Sean.
Sean pun mengemasi tas nya dan datanglah seorang pria yang menghampiri Lina.
"Lin, ayo pulang bareng." ajak Rio kepada Lina
__ADS_1
"Tapi aku harus ke Toko Buku dulu." ucap Lina
"Ya udah, kita pergi bareng aja."
Mereka berdua pun pergi meningalkan ruangan kelas.
Sean yang sedari tadi melihat kedekatan mereka pun berlalu pergi ke arah parkiran. Dan disana dia bahkan melihat kedekatan mereka lagi yang dimana dia melihat Rio yang sedang memasangkan helm ke kepala Lina.
Sean yang terus memperhatikan mereka tiba-tiba dikejutkan oleh seseorang yang menepuk bahu nya.
"Woi, ngapain sih lo?" tanya Alvin menepuk bahu Sean
"Biasa, jomblo dia. Jadi dia pengen juga punya pacar." timpal Kevin
"Apaan sih kalian." ucap Sean berlalu ke arah mobil nya
"Ehh tunggu dulu dong." ucap Alvin menarik tas Sean
"Apaan lagi sih?" sambil menghempaskan tangan Alvin yang memegang tas nya
"Gue pulang ikut lo ya. Soalnya motor gue rusak. Tadi aja gue berangkat sekolah naik taksi."
"Kasihan deh lo." ucap Sean santai
"Ayo dong anterin gue pulang." mohon Alvin
"Udah deh Sean. Mending lo bawa aja tuh anak gembel. Kasian dia." ucap Kevin datar
"Siapa yang lo bilang anak gembel hah?" teriak Alvin ke Kevin
"Siapa lagi kalo bukan lo."
"Udah ah berisik. Lo mau ikut atau gak?"
"Iya ikut dong. Masa gue ditinggalin sendirian sih."
"Ya udah ayo cepat naik." ajak Sean yang membuka pintu mobil nya
Alvin pun ikut masuk ke mobil Sean dan meledek menjulurkan lidah nya ke arah Kevin.
"Sialan tuh bocah." ucap Kevin yang memandang mobil Sean mulai menjauh pergi meninggalkan nya.
Setelah kepergian mereka, Kevin menaiki motor sport biru nya dan menjalankan nya pergi keluar dari sekolah.
__ADS_1
...