Meluluhkan Hatimu

Meluluhkan Hatimu
BAB 4


__ADS_3

Di Rumah Lina


Jam menunjukkan pukul 11.00 pagi. Tiba lah Lina dirumah nya.


"Sayang, kamu udah pulang. Tumben pulang nya cepat." ucap wanita paruh baya


"Iya ma. Tadi disekolah guru nya sibuk mengurus masalah pembagian kelas bagi para murid." balas Lina kepada mama nya


"Ya udah kamu mandi dulu sana."


"Iya."


Lina masuk ke kamar nya dan langsung bersiap untuk mandi. Setelah hampir 20 menit dia mandi, Ia pun keluar dari kamar mandi dan memakai pakaian rumah nya.


Setelah selesai berpakaian, Ia keluar dari kamar nya dan melihat ibu nya yang sedang menonton TV. Ia pun menghampiri ibu nya dan duduk di sofa dekat ibu nya.


"Lina.." ucap Hani Mama nya Lina sambil memegang tangan anak satu-satu nya itu.


"Iya ada apa ma?" tanya Lina kepada mama nya


"Kamu kan sebentar lagi mau lulus SMA. Rencana nya kamu mau kuliah dimana?"


"Lina belum ada kepikiran kesana Ma."


"Kata Ayah mu, lebih baik kamu lanjut kuliah di Universitas yang sama dengan tempat Paman Romi mengajar."


"Lina belum menentukan pilihan Lina Ma."


"Bagi Mama terserah pilihan kamu aja. Mama bakal dukung apapun pilihan yang bakal kamu ambil. Nanti kalau Ayah mu menentang biar mama yang ngelawan."


"Mama bisa aja deh." senyum Lina kepada mama nya.


"Ohh iya. Gimana kabar nya Rio?"


"Kabarnya baik. Emang kenapa ma?"


"Gak, mama cuma tanya aja. Lagian lama mama gak ketemu sama Rio."


"Oohh.."


"Kamu gak ada hubungan apa gitu sama dia?" tanya Hani penasaran tentang hubungan mereka


"Kami sahabat ma." balas Lina


"Selain sahabat apa kalian gak ada hubungan apa-apa? Misalnya pacar."


"Hubungan kami hanya sebatas sahabat aja ma. Emang dia mau sama aku?"


"Ya pasti mau dong. Apalagi kan kalian sudah bersama sejak dari kecil."


"Tapi gak mungkin Ma dia bakal suka sama cewek kaya aku."

__ADS_1


"Apasih yang gak dia suka dari kamu. Kamu itu anak mama yang cantik, pintar, pokok nya cocok deh dijadiin pacar." jelas Hani


"Tapi tetap aja gak bakalan Ma. Aku sama dia cuma sebatas sahabat dan gak lebih dari itu. Lagian mungkin dia udah punya cewek yang dia sukai."


"Dan cewek itu adalah kamu." ucap Hani menatap putri nya


"Ma, itu gak mungkin. Dia gak bakal suka sama cewek kaya aku. Bahkan aku sering cuekin dia, jadi gak bakal dia suka sama aku." sangkal Lina


"Tapi menurut mama dia justru sangat peduli ke kamu. Bahkan saat waktu itu kamu telat pulang kerumah, dia langsung panik nyariin kamu."


"Itu karena aku adalah sahabat nya ma."


"Tapi kan ka-"


Belum sempat Hani menyelesai kan ucapan nya malah terlebih dulu di potong oleh Lina


"Udah deh ma. Jangan bahas tentang dia lagi."


"Iya deh anak mama yang paling cantik." ucap Hani sambil memeluk putri nya


Sedangkan di sebuah kafe terlihat tiga orang pria yang sedang duduk bersantai menikmati minuman yang telah mereka pesan. Tiga orang itu tidak lain adalah Sean, Alvin, dan Kevin.


Setelah pulang sekolah tadi mereka memang sengaja tidak langsung pulanh kerumah dan memilih untuk pergi ke kafe.


"Sean, lo kenapa sih dari tadi diam aja?" tanya Alvin yang sejak dari tadi melihat Sean bengong tidak bersuara.


"Tau tuh anak lagi kerasukan kali." timpal Kevin


"Wooii Sean.." teriak Alvin jengah yang melihat Sean terus diam.


"Lo yang kenapa dari tadi diam mulu." balas Alvin


"Kalian rencana nya setelah lulus mau kuliah dimana?" tanya Kevin kepada mereka berdua


"Kalo gue sih mau kuliah di dekat sini aja." jawab Alvin


"Kalo lo Sean mau kuliah dimana?"


"Gue gak tau. Palingan gue bakalan dikirim ke Inggris setelah lulus." balas Sean cuek


"Pasti Om Hans kan yang bakal ngirim lo ke Inggris?" tanya Kevin


"Ya tentu dong. Emang siapa lagi kalo bukan dia, Sean kan harus nurut ke Papa nya haha." jawab Alvin sambil mengejek Sean.


"Diam lo berisik." ucap sean kesal


"Hhaha santai aja kali." balas Alvin


"Emang nya gak dikasih pilihan oleh Om Hans supaya lo bisa milih mau nentui kuliah kemana?" tanya Kevin ke Sean


"Gak, kalian kan tau sendiri kalo papa aku itu keputusan nya gak bisa dibantah."

__ADS_1


"Iya juga sih, Om Hans itu menakutkan. Jadi merinding gue, maka nya gue gak pernah sudi ke rumah lo kalo ada Om papa lo." ucap Alvin merinding


"Udah ah, gue mau pulang." ucap Sean keluar dari kafe meninggalkan mereka.


"Eehh malah pergi tu anak. Terus yang bayar ini semua siapa dong?" tanya Alvin


"Ya elo lah. Masa gue sih. Kan elo yang tadi ngajakin ke kafe. Gue pulang dulu ya, jangan lupa dibayar ini semua." ucap Kevin sambil beranjak dari tempat duduk nya.


"Sialan lo, malah ikut ninggalin gue juga." kesal Alvin


Dirumah Keluarga Wilbert


Sean tiba dirumah nya dan langsung menaiki tangga menuju kamar nya.


"Emang nya gue gak boleh milih jalan hidup gue sendiri ya." ucap Sean kepada diri nya sendiri


Tok tok suara ketukan pintu kamar Sean


"Sean, mama masuk ya." ucap Liliana yang mengetok pintu kamar Sean


"Ma, emang aku gak boleh milih ya?" tanya Sean kepada Liliana yang baru duduk disamping anak nya itu.


"Emang nya kamu mau milih apa Sean?"


"Sean gak mau ma pergi ke Inggris. Sean mau nya tetap disini."


"Sean, dengarkan mama. Kamu pergi ke Inggris itu demi kebaikan kamu sendiri." ucap Liliana lembut


"Tapi aku gak mau kesana ma. Sean ingin tetap disini. Teman aku semua nya disini. Alvin, Kevin, dan teman yang lain nya lebih memilih kuliah disini gak di Inggris. Kalau Sean kesana, nanti siapa teman Sean." ungkap Sean sedih karena harus berpisah dengan teman-teman nya.


"Kamu kan tau sendiri, kalau keputusan papa gak bisa dibantah. Mama aja gak bisa berbuat apa-apa." ucap Liliana yang ikut merasa sedih melihat anak satu-satu nya itu.


"Kenapa Papa harus maksa sih ma. Gimana Sean mau bahagia kalo kehidupan Sean harus papa yang ngatur. Sean capek ma diatur-atur terus sama Papa."


"Sean, ini semua papa lakukan demi kebaikan kamu."


"Tapi gak kaya gini cara nya ma." teriak Sean kesal.


"Mama gak bisa berbuat apa-apa Sean. Mama minta maaf kalo mama gak bisa menolak keputusan papa kamu." ungkap Liliana menangis


"Ma, mama jangan nangis dong. Sean minta maaf kalo Sean sempat bentak mama tadi. Sean gak bermaksud kaya gitu ma." ucap Sean sambil memegang tangan mama nya


"Maafkan mama Sean hiks."


"Udah ma, mama jangan nangis lagi."


"Iya.." ucap Liliana sambil menghapus air mata nya


"Sean janji gak bakal buat mama nangis lagi. Jadi mama jangan nangis lagi ya." ucap Sean memeluk mama nya.


..

__ADS_1


Keinginan orang tua adalah melihat anak nya bahagia menjalani kehidupan nya.


Tapi terkadang justru keputusan mereka sendiri lah yang membuat hidup anak nya menjadi tidak bahagia.


__ADS_2