Meluluhkan Hatimu

Meluluhkan Hatimu
BAB 7


__ADS_3

Di Toko Buku


Terlihat Lina yang sedang mencari buku didampingi oleh Rio.


Setelah menemukan buku yang dicari sejak tadi. Ia pun membayar buku tersebut ke kasir.


"Habis ini kita mau kemana lagi?" tanya Rio yang sedang memasang helm nya.


"Kita langsung pulang aja." balas Lina


"Ya udah. Ayo naik."


Kendaraan yang mereka tumpangi pun melaju membelah jalanan kota. Tidak beberapa lama pun sampai lah ke rumah yang dituju.


"Makasih ya udah antarkan aku pulang."


"Iya sama-sama. Kalo gitu aku pulang dulu."


"Kamu gak mampir dulu. Mama aku nanyain kamu terus kenapa kamu jarang main ke rumah."


"Lain kali aja Lin. Bilang aja ke mama kamu lain kali aku pasti mampir ke dalam. Ya udah, aku pulang dulu."


"Iya."


Rio pun meninggalkan halaman rumah Lina.


Lina membuka pintu rumah nya. Dan di dalam Ia melihat Ayah nya yang sedang duduk di sofa bersama mama nya.


"Ayah sudah pulang?" tanya Lina menghampiri mereka


"Lina.." ucap Ayah nya saat melihat Lina dan langsung memeluk anak kesayangan nya itu.


Hani yang melihat hal tersebut hanya tersenyun.


"Gimana kabar kamu?" tanya Frans Ayah Lina


"Ayah kan bisa lihat sendiri kabar ku baik-baik aja." ucap nya sambil duduk disamping Ayah nya


"Selama Ayah di luar kota Ayah kangen banget sama kamu."

__ADS_1


"Sama aku gak kangen ya." ucap Hani yang membuat Lina dan Frans tersenyum.


"Tentu kangen lah sama kamu." ucap Frans memegang tangan istri nya.


Ayah Lina adalah seorang dokter. Dia sudah sering ke luar kota bahkan ke luar negeri untuk menjalankan tugas kedinasan.


Seminggu yang lalu bahkan Frans harus pamit kepada Anak dan Istri nya karena harus pergi ke luar kota. Selama Disana dia bahkan tidak pernah lupa memikirkan Anak dan Istri nya.


Malam Hari nya di Kediaman Wilbert


Sebuah mobil BMW hitam baru saja memasuki halam rumah mewah tersebut.


Sean yang berencana setelah pulang sekolah akan langsung pulang kerumah nya justru malah dibatal kan nya karena dia lebih ingin bermain di apartemen Alvin hingga jam sudah menunjukkan pukul 8 malam.


"Darimana saja kamu?" ucap Hans Ayah Sean yang sedang duduk di sofa


"Dari sekolah."


"Jangan bohong kamu. Papa tau kalo kamu sudah pulang sekolah siang tadi. Kemana saja kamu sehabis pulang sekolah tadi hah?


"Aku tadi nganterin Alvin ke apartemen nya."


Sean yang mendengar ucapan Hans menjelekkan teman nya mulai emosi.


"Emang nya Papa tau apa tentang mereka?" emosi Sean


"Yang papa tau mereka itu cuma manfaatin kamu aja. Mereka tau kalo kamu kaya raya. Maka nya mereka deketin kamu. Merek punya niat tersembunyi."


Sean yang mendengarnya pun makin emosi.


"Mereka gak kaya gitu. Mereka tulus berteman dengan aku. Jadi papa gak usah ikut campur urusan aku!" teriak Sean marah


"Berani kamu membentak Papa mu."


Liliana yang mendengar suara keributan dari ruang utama pun langsung bergegas menuju kesana. Dia melihat pertengkaran antara suami dan anak nya.


"Sudah, apa yang kalian lakukan. Kenapa kalian selalu bertengkar sih." ucap Liliana kepada mereka


"Lihat tuh anak yang sering kamu manja kan jadi berani terhadap orang tua. Setiap hari selalu pergi kelur rumah. Bukan nya belajar tapi malah main." ucap Hans menunjuk Sean

__ADS_1


"Setidak nya mereka lebih peduli ke aku daripada papa. Mereka ada saat aku butuh teman ngobrol, mereka menemani ku disaat aku merasa kesepian dan terpuruk. Mereka selalu ada untuk ku, gak seperti kalian." ucap Sean dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Kamu harus nya ngerti. Papa dan mama kerja sibuk itu semua demi kamu. Apa yang kamu mau selalu kami berikan. Apalagi yang kurang sih." ucap Hans lagi


"Aku gak butuh semua barang-barang mewah itu. Yang aku butuhkan hanya sedikit saja kasih sayang dari kalian."


ucap Sean menangis sambil berlalu ke kamar nya meninggalkan mereka.


Liliana yang melihat anak nya itu hanya bisa diam menangis.


"Gini nih kalo terlalu di manja." ucap Hans duduk kembali di sofa.


"Mungkin ini memang kesalahan kita Pa."


"Mama gak usah merasa bersalah. Dia nya aja yang susah di atur."


"Tapi dia jadi kaya gini karena kita kurang perhatian ke Sean pa. Kita berdua terlalu sibuk mengurus bisnis hingga dia jadi kaya gitu." tangis Liliana


"Terus maksud kamu kita lebih baik berhenti kerja gitu?"


"Maksud mama gak gitu."


"Kamu gak usah bela dia. Dia nya aja yang gak tau terima kasih."


"Kenapa papa jadi ngomong kaya gitu sih. Dia itu anak Papa, bukan orang lain."


Hans yang mendengar istri nya membentak hanya diam saja tanpa mau menjawab.


"Mama kecewa sama Papa." ucap Liliana berlalu masuk ke kamar.


Hans yang mendengar kekecewaan Liliana kepadanya hanya bisa mengusap kasar rambut nya.


Sedangkan Sean yang sedari tadi menjatuhkan diri nya ke kasur tempat tidur nya karena perdebatan tadi mengambil earphone nya dan mulai menyalakan musik di Handphone nya.


"Kenapa sih hidup gue kaya gini. Untuk apa hidup di penuhi kekayaan kalo gue masih merasa kesepian. Ada yang kosong dalam hati gue, gue butuh perhatian. Bukan semua uang dan barang mewah yang sering mereka kasih. Gue pengen kaya dulu lagi, saat Kakek masih hidup. Karena hanya kakek yang bisa buat mereka mengerti. Sean kangen kakek." ucap Sean sendu sambil melihat foto saat dirinya kecil bersama Hendrik kakek nya.


Saat kecil Sean sangat bahagia. Di cintai oleh orang-orang disekitar nya. Saat itu Papa dan mama nya selalu ada untuk menemani nya bermain, bahkan bisa dikatakan keluarga mereka sangat bahagia dan harmonis. Dan kakek nya yang selalu mengajak Sean bermain dan bahkan pergi jalan-jalan bersama. Sean dulu sangat periang dan suka bercanda, dia suka mengejek papa nya karena papa nya gak bisa naik sepeda dan Hans selalu mengejar Sean berlari saat Sean meledek Hans. Tapi itu semua dulu saat Hendrik masih hidup. Di saat Sean berumur 11 tahun, Hendrik menderita penyakit jantung yang membuat nya sering masuk dan keluar rumah sakit. Dan tiba hari dimana penyakit Hendrik makin lama makin parah hingga mengharuskan nya dirawat dirumah sakit. Selama 3 bulan menjalani perawatan, penyakit yang di alami bukan nya membaik justru semakin parah. Dan tepat saat hari dimana Sean memenangkan kompetisi kejuaraan matematika, Hendrik meninggal dunia karena sudah tidak sanggup menahan penyakit yang di derita nya. Sejak kejadian itulah keluarga mereka menjadi tidak harmonis lagi. Liliana yang sibuk dengan bisnis parfum nya, dan Hans yang semakin sibuk mengurus perusahaan karena Hendrik telah tiada.


...

__ADS_1


__ADS_2