
Ada sebuah toko kue yang baru buka di trotoar jalan raya yang padat. Dua pelajar yang belajar di satu tempat itu pun berniat ke toko kue tersebut sepulang Sekolah.
"Zaim, ada toko kue, lho, di seberang jalan." Seorang gadis dengan tinggi 160 dan rambut selengan itu berbicara antusias.
"Terus?"
Namun, sepertinya yang berniat ke sana hanyalah Varetta. Dua sejoli yang selalu bersama hingga kadang ditukas pacaran itu memiliki kepribadian yang berlawanan.
Mereka menjadi sahabat ketika pertemuan pertama dalam kelas dan duduk sebangku saat SMA.
"Kita ke sana, yuk!" Seakan terbiasa akan balasan cuek lelaki itu, Varetta sama sekali tidak merasa terganggu.
"Buat apa?" Pandangan lelaki itu mengarah ke hal lain dengan tangan yang sedari tadi bersembunyi di balik saku.
"Makan kuelah."
"Kue? Nggak ada yang ulang tahun," katanya.
"Memangnya yang makan kue cuma orang yang ulang tahun?" Varetta cemberut kesal.
"Iya."
Kejam sekali.
Varetta berdesis, kenapa sahabatnya begitu menyebalkan hari ini?
"Kalau kamu nggak mau, biar aku aja yang pergi," pungkasnya, lalu mereka dipisahkan arah. Sebenarnya jalan menuju rumah mereka searah, hanya saja Varetta ingin mampir ke toko kue.
Daripada membiarkan Adik kecilnya sendirian-Zaim menganggap Varetta sebagai Adik, Zaim lebih mengutamakan belok kanan daripada kiri menuju rumah.
Ia melangkah gesit menyusul Varetta dan membawa gadis itu ke dalam rangkulannya.
"Kamu bilang nggak mau ikut." Varetta menatap tajam Zaim dan bersedekap dada.
"Kata siapa? Aku nggak pernah bilang kayak gitu, kok."
Varetta hanya memasang tampang malas dan menggeleng samar. Pria itu benar-benar mengesalkan. Usia mereka terpaut satu Tahun, itulah yang menyebabkan mereka menganggap saudara satu sama lain.
"Tokonya lumayan kecil, ya."
Zaim menoleh dan berkata, "Kalau nggak mau, kita pulang aja."
"Aku tetep mau masuk." Varetta melangkah, menyentuh pintu dan mendorongnya.
Ting! Tong!
Toko itu lantas menampilkan dua orang yang tengah menjalani komunikasi dengan tidak sehat.
Yang satunya banyak bicara dan satunya lagi hanya diam.
"Pelayanan di toko ini jelek banget. Aku menyesal udah datang ke sini dan nyobain kuenya."
Pria tinggi berpakaian bagus itu berdiri di depan kamera sambil misuh-misuh dan dia sama sekali tak memedulikan pria yang tampaknya adalah pemilik toko ini.
Pria tua yang masih tampan itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda rasa bersalah ataupun takut nama tokonya tercemar. Ia memilih memasang wajah datar daripada harus bereaksi berlebihan. Itu butuh tenaga ekstra.
"Nama toko kuenya Memory Shop. Pokoknya kalian jangan ada yang datang ke sini, ya." Pembuat konten tentang kuliner itu memasang jempol terbalik di udara menunjukkan ketidaksenangannya.
"Aku akan kembali dengan konten berikutnya yang lebih baik. Sampai jumpa!" Ia menekan tombol yang berfungsi menghentikan video.
Ia mengeluarkan dompet tebalnya dan membanting beberapa lembar uang merah ke atas meja kue yang dipesannya.
__ADS_1
"Kalau nggak bisa senyum setidaknya cari karyawan yang bisa." Pelanggan itu pergi dengan tampilan kecewa. Ia bahkan belum mengetahui rasanya, terlihat dari visual kue yang masih utuh bagai belum pernah disentuh.
Varetta dan Zaim berdiri menyaksikan hal tidak menyenangkan itu hingga akhir tanpa bergeming.
"Silakan duduk!" celetuk pria itu. Ia tersenyum pada akhirnya setelah lama menampakkan raut datar. Mungkin kemarahan pelanggan tadi membuatnya sadar.
"Eh? Iya." Mereka sadar mereka terlalu mencampuri urusan orang lain. Varetta dan Zaim akhirnya duduk pada salah satu meja dari tiga meja yang ada.
Ya, di dalam sini hanya ada tiga meja. Dan masing-masing meja hanya memiliki tiga kursi.
Ruangan ini tidak kecil, tetapi juga tidak besar. Visualnya sangat bagus dengan penerang berwarna kekuningan.
Di sini hanya tersedia satu pendingin ruangan, tetapi benda itu mampu menghantarkan hawanya ke pori-pori kulit manusia. Jadi, tidak akan mudah kepanasan.
"Kalian mau pesan kue? Mau dimakan di sini atau dibawa pulang?" tanya pria itu, rautnya kembali seperti semula. Tdak ada tanda-tanda keramahan di sana.
"Makan di sini aja." Varetta tersenyum.
"Mau kue apa?" Si pemilik toko itu meletakkan buku pipih persegi di atas meja. Varetta menyentuh lebih dahulu sebelum Zaim menggapainya.
Ada jenis-jenis kue di sini. Yang agam seperti kue ulang tahun, yang sedang seperti kue yang dimakan saat ada acara spesial, dan yang kecil, biasanya hanya untuk dijadikan camilan.
"Saya mau kue dengan krim rainbow di atasnya sama kue strawberry ini," katanya seraya menunjuk menu yang dimaksud. Hal itu lantas mendapat anggukan dari pria tersebut. Varetta memajukan menunya ke Zaim.
"Saya mau kue putih ini." Hanya butuh waktu beberapa detik baginya untuk membuat keputusan. Zaim tak terlalu suka makanan manis. Ia juga lebih memilih hal yang bentuknya sederhana.
Si pemilik toko mengangguk dan mengangkat menunya kemudian berkata, "Tunggu sebentar, biar saya ambilkan." lalu pergi.
Varetta mengangguk tersenyum, tidak sabar lagi ia ingin makan kue. Dari dahulu sampai sekarang, entah kenapa kebiasaan suka makanan manis itu tak pernah hilang dari dirinya.
Ada banyak kue yang duduk berderet dan berjajar dalam etalase, semuanya tampak menggiurkan bagi Varetta.
"Wah!" Varetta berbinar-binar. Ia menyentuh pisau yang tersedia dan mulai memotong kue strawberry-nya.
"Mm, enak banget!" Varetta heboh sendiri setelah mulutnya menerima satu suapan yang terasa mengejutkan. Pria paruh baya itu ada di sana untuk mengantarkan kue putih.
Ini lebih dari kata enak menurut Varetta.
Zaim yang bahkan belum menyentuh miliknya sama sekali hanya menatap datar ke depan dan menggeleng kecil.
Ada-ada saja sahabatnya ini. Apa dia tidak malu karena reaksinya diperhatikan si pemilik toko?
Zaim menemukan papan nama di baju pria paruh baya yang hendak meninggalkan meja setelah puas dengan reaksi pelanggannya. "Bread?" pikirnya. Aneh sekali nama itu.
Yasudahlah, biarkan saja. Memutuskan untuk tidak peduli, Zaim pun mulai melahap kuenya dan jujur dia juga merasakan hal yang sama. Hanya saja, tak seheboh Varetta.
Tak lama setelah itu, entah kenapa pria bernama Bread itu datang dan meletakkan pesanan yang tidak pernah dipesan dan seharusnya tak pernah ada dalam toko ini.
"Roti?" Zaim memandang pria itu bingung.
"Kita nggak mesen roti," ucap Varetta.
"Ini buat kalian. Gratis."
Siapa yang tidak mau jika mendengar kata gratis? Tentunya dua pelajar yang belum dewasa itu tergiur. Hanya saja, ada yang janggal.
"Kenapa tiba-tiba kita dikasih roti?" tanya Zaim menyelidik, tatapan biasanya menajam berharap si Bread terintimidasi. Namun, tidak.
"Hadiah."
Setelah mengatakannya, pria itu kembali ke tempatnya yaitu meja kasir.
__ADS_1
"Baik sekali, terima kasih!"
Bread hanya mengangguk dengan senyum tipis. Tidak lama setelah itu, ponsel berdering dari dalam ransel Varetta. Gadis yang kerap disapa Retta itu buru-buru mencarinya, tetapi nama yang tertera di layar membuatnya kesal.
"Ngapain telepon gue?" ketusnya.
"Kita udah putus."
"Apa? Balikan?"
Mendengar itu, Zaim tanpa izin merebut ponsel dari genggaman Retta dan menggantikannya berbicara. Pria itu sudah sangat geram dengan mantan pacar sahabatnya ini.
"Jangan telepon dia lagi!"
"Apa urusannya sama lo?"
"Dia udah jadi pacar gue."
Retta terbelalak dan Zaim mengodenya agar tetap diam dengan menempelkan jari telunjuk pada bibir. Biarkan saja, lagipula Retta juga tidak ingin lagi diteror pria brengsek itu.
Zaim mengembalikan ponsel kepada pemiliknya dan mulai menilik dua roti di atas piring tersebut. Ada tusuk kayu yang menancap di atasnya, itu adalah sebab dari kertas dan roti yang tidak menyatu.
"Pikirkan tentang orang yang paling kalian sayangi sebelum memakan kue!" Begitu isi perintah kertasnya.
Untuk apa? Itu yang ada dalam benak Zaim. Namun, ia tetap mengikutinya. Setelah berpikir tentang Ibunya yang sudah meninggal, Zaim mulai mengecap roti tersebut dengan indra perasanya.
Teksturnya lembut seperti awan dan sangat manis hingga lidahnya tak berani membawa gigitan tersebut menuju tenggorokan.
Bagaikan tunarungu, Zaim merasakan dunia di sekelilingnya seakan terhenti. Tidak ada suara kebisingan, kendaraan dan sebagainya. Yang ada hanya hening dan perasaan tenang.
Perlahan, entah kenapa, ingatan tentang Ibunya itu seolah berputar seperti cuplikan film. Dan Zaim dapat dengan jelas merasakan sentuhannya dan momen-momen tak terlupakan yang dibuat bersama sang Ibu.
Di sisi lain, Zaim juga tak berhenti mengunyah dan terus menggigit bagian rotinya hingga tak tersisa.
Sayang sekali, itu tak bertahan lama.
Hanya Retta yang menyadari bahwa Zaim kini telah menitikkan air matanya, bahkan sang empu pun tidak menyadarinya hingga ingatan itu pudar dari bayangannya.
"Kamu kenapa nangis?" tanya Retta cemas. Dia sama sekali belum menyentuh rotinya.
Butuh waktu lama hingga akhirnya Zaim mengeluarkan suara dan itu bahkan tidak menjawab rasa penasaran Retta sama sekali.
"Roti ini ...."
"Kenapa?"
"Enak."
Air mata Zaim jatuh lagi ketika mengatakan itu. Entahlah apa dia sedih mengingat Ibunya atau malah senang dan menangis bahagia.
Retta sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi pada pria itu.
Menurut Zaim, apa yang dialaminya barusan tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Bahkan butuh lebih dari dua ribu kata untuk menggambarkan rasa senang, sedih, dan rindunya secara bersamaan.
Anehnya, Zaim sama sekali tidak menyadari bahwa roti itulah yang membuatnya seperti ini.
Memory Shop.
**Jangan lupa vote jika suka. Terima kasih telah membaca!
Maaf bila terjadi kesalahan dalam karya atau kesamaan nama, latar tempat dan suasana. Itu semua terjadi secara tidak sengaja**.
__ADS_1