Memory Shop

Memory Shop
Memory Shop: Masalah


__ADS_3

Lusa akan ada ulangan harian Matematika, Serena amat kesal harus mempelajari hitung-hitung saat ini. Apalagi tadi ia habis mengerjakan tugas PKN, tentu tangannya serasa ingin patah.


Serena tak ingin menunggu besok karena ia berniat rebahan sepanjang hari.


Di tengah-tengah kesibukan belajar, ia dikejutkan oleh seseorang yang seharusnya tidak pernah berada di sini. Dia berusaha masuk lewat jendela demi menemui Serena.


"Kamu ngapain di sini?" Serena panik, ia segera berlari ke arah pintu dan menguncinya. Bagaimana nasibnya jika sang Ayah tahu bahwa ia masih berhubungan dengan pria ini?


"Aku kangen kamu."


Apa kalian pernah merasakan ingin meninju orang yang kalian sayangi? Itu yang dirasakan Serena akibat begitu kesal dengan sifat ketidakdewasaan pacarnya ini.


"Keluar sekarang!" perintahnya tegas meski setengah berbisik.


"Kamu kok ngusir aku?"


"Rei, kamu tahu kan Papa aku ngelarang aku buat pacaran sama kamu? Kalau dia lihat kamu di sini, gimana?"


"Aku cuma sebentar, kok ...."


"Mendingan kamu pergi sekarang!"


"Kamu beneran ngusir aku? Aku udah capek-capek manjat ke sini cuma buat nemuin kamu, lho."


"Iya, tapi-"


"Akhir-akhir ini kita nggak bisa ketemu lagi karena kamu bilang kamu sibuk terus." Nada suara pria itu perlahan meninggi.


"Sst. Rei, diam! Nanti kalau didengar Papa gimana?" Serena kian memanik lantaran pacarnya yang tak mudah diatur ini. Huh, pantas saja sang Ayah melarang hubungan mereka.


Seberapa keras ia menyembunyikannya, itu tak akan berhasil jika berhadapan dengan Ayahnya yang punya telinga tajam dan aksi gesit.


Sekarang pria paruh baya itu tengah mengetuk pintu Serena akibat mendengar keributan dari dalam. Kamar pria itu dan Serena bersebelahan, mungkin disengaja agar mudah mengawasi anaknya.


"Serena, buka pintunya!"


Kalimat itu membuat Serena bergidik ngeri dan tak tahu harus berbuat apa. Otaknya tak jalan untuk sementara hingga ia menyuruh pacarnya bersembunyi di bawah kasur.


Seakan tak terjadi apa-apa, Serena memasang wajah biasa pada sang Ayah ketika membuka pintu kamar.


"Kamu ngomong sama siapa?" tegas pria paruh baya itu.


"Ngomong? Perasaan nggak ada yang ngomong."


"Papa denger suara kamu lagi ngobrol sama orang di kamar."


"Oh, mungkin itu suara hp aku. Aku tadi lagi nonton video belajar di internet, terus ngejawab pertanyaan-pertanyaan-"


"Nggak! Ada suara cowok di kamar ini."


"Iya. Yang ngomong-ngomong di video emang cowok, kok."

__ADS_1


Serena tahu sifat Ayahnya. Meski begitu ia masih saja berjuang keras menutupi kebohongan yang sudah jelas.


"Jangan bohong sama Papa!"


Serena kian tak menyesali kebohongannya.


Serena memasang gerak sigap ketika sang Ayah hendak melangkahkan kaki ke dalam ruangan. "Nggak ada apa-apa, Pah."


"Papa nggak percaya sama kamu."


Ia menggeser posisi tubuh Serena yang menghalanginya jalan. Pria gagah bertubuh tegak nan perkasa itu mendorong pintu kamar mandi, menyibak gorden dan mengecek balkon.


Tidak ada apa-apa.


Ayahnya menunduk dan menengok ke kolong tempat tidur. Ia mendapati pacar sang anak menatapnya dengan mata terbelalak.


"Keluar!" titahnya pelan. Pria itu berusaha menahan amarah agar tidak pecah dengan menghela napas.


"Keluar sekarang!" Ayah Serena naik pitam setelah tiga detik tidak dituruti. Teriakan dari Ayah Serena membuat Rei takut dan gemetaran. Ia ingat dirinya pernah hampir dipukul ketika memulangkan Serena tengah malam.


"Ngapain kamu ke sini?" Ayah Serena menarik kerah baju Rei dan beradu tatap dengannya.


"Saya cuma mau nemuin Serena, om," sahutnya gelagapan.


Plak!


Sakit? Sudah pasti. Marah? Kesal? Benci? Tidak perlu ditanya kalau soal itu. Rei kini merasakannya, tetapi diam dan tak dapat berbuat apa-apa adalah satu-satunya yang dia lakukan saat ini.


"Tunggu! Sebelum kamu pergi, putusin dulu anak saya!" titah Ayah Serena.


".... Kita putus." Butuh waktu beberapa detik hingga Rei mengatakan itu. Setelahnya, Rei keluar dari sini sebagaimana dia masuk.


Baiklah, sekarang giliran Serena.


"Ayah udah bilang jangan berhubungan lagi sama cowok itu! Kenapa kamu selalu nggak dengerin, sih?"


Serena hanya menunduk setelah beberapa detik putus dengan pacarnya. Ada perasaan kesal, sedih dan marah pada Ayahnya.


"Ayah kenapa, sih?" Serena beradu pandang dengan sang Ayah. Netranya telah memerah dan berair, kemungkinan akan tumpah sebentar lagi.


Ini ke tiga kalinya ia membantah perlakuan sang Ayah. Pertama terjadi ketika ia SD, yang berikutnya saat SMP dan sekarang SMA.


"Ayah selalu aja ngurusin urusan aku. Entah itu dalam kehidupan Sekolah, pergaulan, bahkan pacar. Kenapa Ayah selalu ngatur-ngatur hidup aku? Aku ini manusia, bukan robot yang diprogram buat nurutin perintah tuannya."


Namun, kali ini mungkin lebih parah.


"Ayah ngelakuin semua ini juga buat kamu. Buat kebaikan kamu. Supaya kamu nggak kena pergaulan bebas."


"Kalau Ayah ngebiarin kamu, kamu pasti bakal ngelakuin semua yang kamu mau sesuka hati. Ayah nggak mau kamu jadi orang buruk cuma gara-gara salah milih temen dan lain-lain," lanjut sang Ayah.


"Semua yang Ayah lakuin ini juga ada alasannya. Ayah cuma mau kamu punya masa depan yang cerah. Pokoknya, dengerin aja semua kata-kata Ayah!"

__ADS_1


Setelah mengakhiri kalimatnya, sang Ayah keluar dari ruangan dengan mata yang sedikit berair.


Tidak ada yang bisa memahami perasaan para orang tua, dan anak yang dimarahi hanya bisa berpikir bahwa dunia ini sangatlah kejam.


Seperti Serena.


Ia menutup dan mengunci pintunya lalu membanting diri di kasur. Mengacak-acak seprai, rambut, dan hatinya.


Saat anak-anak, ia pernah membayangkan dirinya kabur dari rumah dengan tujuan agar Ayahnya mencari dan membujuknya untuk pulang, tetapi ia terlalu takut untuk melakukan hal nekat semacam itu.


Namun, ia akan benar-benar melakukannya sekarang dengan tekad yang bulat. Kali ini dengan tujuan yang berbeda, yaitu kabur dari Ayahnya dan menjalani hidup baru. Konyol sekali.


Serena bangkit. Dan tanpa membawa apapun kecuali ponsel, ia keluar lewat jendela seperti yang dilakukan Rei. Untung saja jarak kamarnya dengan tanah tidak begitu tinggi.


Serena kabur. Tak tentu arah dan tujuan. Kemudian, dia menyesal karena tidak membawa sepeserpun uang.


Satu tempat terdekat yang mungkin dapat dijadikan persinggahan sementara adalah toko ingatan. Ia tidak tahu toko itu tutup jam berapa, tetapi ia yakin teman-temannya pasti masih di sana.


Butuh waktu tiga puluh menit untuk berjalan kaki ke sana. Untunglah belum tutup. Ia memasuki ruangan dengan kaki kotornya dan mendapati Retta dan Zaim tengah berbincang-bincang.


"Hai!" sapanya tanpa menyunggingkan senyum.


"Oh? Kamu ngapain ke sini?" Retta terheran-heran, temannya itu datang dalam keadaan kacau tanpa alas kaki.


"Aku kabur dari rumah." Serena tak memiliki antusias dalam menjawab pertanyaan itu. Ia lelah dan mendudukkan diri di salah satu kursi dari meja ke dua.


"Hah? Kok, bisa?" Retta meninggalkan tempatnya demi menghampiri Serena yang putus asa.


Pak Bread yang tengah menghias kue dan memperhatikan setiap detail kuenya itu tak pernah sedetik pun beralih fokus.


Toko ingatan tutup jam delapan. Sementara yang Serena tahu, sekarang masih pukul tujuh lewat dua puluh delapan.


"Rei masuk ke dalam rumah buat nemuin aku, tapi ketahuan sama Ayah," jelasnya.


"Rei dimarahin dan akhirnya Ayah nyuruh dia buat mutusin aku."


"Terus gimana?"


"Aku putus sama Rei."


"Bukan, maksudnya apa yang terjadi sama kamu habis itu?"


"Aku dimarahin, jadi aku kabur ke sini, deh."


Zaim hanya memperhatikan dari kejauhan beberapa meter seraya menatap sendu Serena. Ia bukannya tidak peduli, hanya saja tidak ingin bertindak lebih dari sekadar kasihan.


Takutnya lawan jenisnya terbawa perasaan. Pria tampan jika menaruh perhatian kepada seorang gadis akan mendapat dua respons dari sekitar; jatuh cinta dan kecemburuan.


Pikiran tersebut terus tertanam dalam dirinya sejak SMP hingga sekarang. Entah dia sungguh berhati-hati ... atau hanya sedikit percaya diri saja.


Memory Shop.

__ADS_1


__ADS_2