Memory Shop

Memory Shop
Memory Shop: Kembali


__ADS_3

18.16 pm.


Varetta menggoreskan tinta ke atas kertas. Temponya cepat hingga terlihat terburu-buru. Gadis itu juga tampak melihat ke arah ponselnya sebelum ia tulis pada buku. Jelas sekali bahwa dia meminta bantuan internet atas tugas yang baru diberikan hari ini.


Hanya jalanan kota yang ramai, tetapi tidak dengan pengunjung toko. Kesempatan ini dimanfaatkan Varetta untuk mengerjakan tugas-tugasnya.


Dan Zaim? Entahlah, dia hanya bermain ponsel.


Varetta tampak tak fokus. Entah kenapa matanya ingin terus menerus menengok ke luar toko, lebih tepatnya ke objek kecil yang pernah dia lihat sebelumnya.


Anak itu lagi. Sama seperti kemarin, bocah laki-laki dengan kisaran usia 2 tahun lebih muda dari Kaillo itu, menatap ke dalam, tertuju pada satu titik yang selalu menarik perhatiannya.


Kue tar putih mewah yang menjulang tinggi hingga delapan belas sentimeter.


Namun, anak itu tiba-tiba menggeser posisinya ke samping dan menyembunyikan wajahnya ke dinding bagaikan orang yang berjaga pada permainan petak umpet.


Bersamaan dengan itu, Kaillo datang dari arah berlawanan dengan melompat-lompat kecil sebelum masuk ke dalam toko.


"Kaillo datang dengan membawa sejuta kerinduan." Bocah tengil itu merentangkan tangannya bangga. Kemudian melangkah dan berhenti di depan Retta.


Apa yang akan dilakukan bocah Sekolah menengah itu pada jam segini di luar rumah?


"Kakak kangen aku, ya?" tanyanya tidak serius.


"Nggak."


"Ah. Masa, sih? Masa Kakak nggak kangen aku? Aku kan ganteng."


Anak itu benar-benar minta dipukul. Retta jadi bingung kenapa dua bocah cantik seperti Tera dan Noaro menyukainya. Yasudahlah, selera orang kan beda-beda.


"Eh, Kakak cantik ini siapa? Kok, ada di sini?" tanya Kaillo heran.

__ADS_1


"Pegawai baru, ya?" tukasnya.


Wafaa seperti tidak terima disebut pegawai. Ia lantas memandang Retta, mengode dengan ekspresi agar gadis itu menjelaskan semuanya pada anak yang tak dikenalnya ini.


"Ah. Dia bukan pegawai. Kamu bilang mau ketemu sama pemilik toko ini, 'kan? Nah, Kakak ini tuh anak dari pemilik toko ini," jelas Retta.


Kaillo memandang Wafaa setelah mendapat penjelasan. Wafaa menunjukkan wajah bangganya dengan seulas senyum tisu-maksudnya setipis tisu.


"Beneran?"


"Wah!" Kaillo memandang gadis itu dengan mata terbinar-binar kagum.


Tanpa memedulikan reaksi Kaillo, Wafaa kembali beralih atensi pada ponselnya. Karena sekarang ia sudah resmi jadi pemilik toko, jadi tidak perlu lagi berpura-pura ramah pada siapapun.


"Kok, aku nggak pernah lihat sebelumnya? Baru datang dari kota lain?" Rasa penasaran Kaillo memuncak, ingin rasanya ia bertanya soal nama, umur, tempat tinggal dan lain-lain.


"Eu ...."


"Kakak sibuk skripsi, Dek." Wafaa dengan bangga menjawab itu. Refleks jadi mahasiswa.


Kaillo tadinya ingin bertanya tentang 'apa itu skripsi?' tetapi ia harus segera pulang seusai membeli kue di sini. Yap, ia berniat menepati apa yang telah ia katakan sebelumnya.


Lagipula sekarang ia hanya memakai kaos putih dengan celana panjang hitam sebetis. Terlihat merakyat. Ia juga mengatakan pada sang Ayah untuk pergi sebentar. Jika tidak kembali tepat waktu, mungkin saja ia bisa dapat masalah.


"Kalau gitu, aku pesan kue, ya? Kue yang  dibeli sama Tera dan Noaro waktu aku sakit," lanjutnya. Sepertinya dua anak perempuan tersebut telah melakukan wawancara yang panjang pada Kaillo.


"Oke. Omong-omong, kamu udah sembuh total?" tanya Retta seraya mengambilkan kue yang dimaksud.


"Udah. Oh iya, maaf kalau Tera dan Noaro ngomong sesuatu yang menyinggung."


Apa? Anak ini mulai waras.

__ADS_1


Tera dan Noaro? Ah, pasti dua anak cantik itu, pikir Retta yang langsung menjawab pertanyaan dengan, "Nggak apa-apa. Aku nggak cepet tersinggung."


Percayalah, dia berbohong.


"Lagipula temen-temen kamu itu juga nggak ngeluarin perkataan yang menyakiti hati. Jadi, tenang aja," tambahnya seraya membungkus kue dan memberikan pada Kaillo.


"Bayarnya di kasir." Retta menunjuk kasir dan penjaganya mengunakan seluruh anggota jari.


Kaillo tersenyum ramah dan berjalan pada kasir. "Berapa?"


"Delapan puluh ribu."


Kaillo mengeluarkan uang seratus dari sakunya dan menyerahkannya pada Zaim. Delapan detik setelahnya, ia mendapat kembalian.


"Terima kasih!" ucapnya dan perlahan berjalan menuju pintu keluar.


"Sampai jumpa! Terima kasih telah berbelanja!" Wafaa berujar ramah, entah kenapa dia ingin mengatakannya. Kaillo berbalik dan tersenyum pada gadis itu, kemudian memandang gadis di sampingnya.


"Bye! Bye! Nanti Kaillo datang lagi." Anak itu melambai sebelum keluar meninggalkan toko.


Anak kecil yang sebelumnya, kembali menyembunyikan wajah pada tembok di hadapannya, seolah takut terlihat oleh seorang Kaillo.


Retta amat penasaran dengan anak itu. Ia hendak keluar untuk mengajak berbicara, tetapi bocah laki-laki mungil itu buru-buru berlari menjauh.


Kenapa dia begitu malu? Apa karena pakaiannya tidak bagus?


Kenapa dia menyembunyikan diri ketika melihat Kaillo? Apa dia mengenal Kaillo?


Aneh. Apa yang sebenarnya terjadi pada mereka?


Memory Shop.

__ADS_1


__ADS_2